Jumat, 25 Januari 2019

Tentang Mbak Hiday Nur

Pertengahan tahun lalu saya memutuskan mendaftar di sebuah komunitas penulisan paling keren se-Indonesia. Apalagi kalau bukan One Day One Post atau ODOP batch 6 (meskipun setelah batch saya dinyatakan lulus, sekarang jadi jarang lagi nulis di blog, hiks). Anggotanya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, ada juga yang dari luar negeri. Wadadaw sekece itu. Ya begitulah, saya yang bukan apa-apa ini sepertinya sangat beruntung sekali masuk ke sana. Meskipun seringnya jadi remah-remah rempeyek di grup sebesar ODOP, tapi kalau lagi senggang ssya pasti nimbrung di grup. Jadi silent reader. Hahah.

Lantas, setelah saya dan beberapa teman seangkatan lainnya dinyatakan lulus program ODOP  yang berlangsung hampir 4 bulanan itu, kami disuruh bergabung di grup besar. Di sana, banyak sekali penulis kawakan dari batch-batch sebelumnya. Yakni dari ODOP 1-5, lalu sampai 6 alias saya dan teman-teman seangkatan hehe. Di sanalah, saya mulai tahu banyak sekali para penulis kece yang kalo dibandingkan dengan saya sangat jauuuuh sekali. Entah itu dari kualitas atau kuantitas tulisan, sampai konsistensi ng-ODOP terus-menerus.

Salah satu favorit saya ketika sedang nimbrung jadi silent reader di grup adalah sosok bernama Nur Hidayati. Atau sering disapa Mbak / Mak Hiday. Awalnya, saya benar-benar tidak mengenal siapa beliau ini, dari mana asal beliau, serta bagaimana sepak terjang beliau di dunia kepenulisan. Tapi, belakangan beliau mengajak para anggota ODOP untuk mengikuti event Give Away yang beliau selenggarakan dengan tajuk "Hiday dan Sahabat : Sebuah Sketsa". Selain itu, beliau juga merupakan penggagas taman baca bernama Sanggar Caraka yang berpusat di Tuban, tempat beliau tinggal.

Jujur, saya sebagai seorang silent reader dan juga anggota baru di Keluarga Besar ODOP sungguh masih hijau dan mungkin bisa dibilang tidak terlalu banyak tahu terhadap sosok keren satu ini. Tapi, dari beberapa tulisan teman-teman lain yang saya baca, sosok Mbak Hiday ini luar biasa inspiratif dan pejuang dunia literasi yang sangat gigih. Tak hanya itu, beliau juga mematahkan pandangan bahwa dengan menikah, akan menghalangi impian besar yang bahkan sukar untuk diwujudkan. Sebaliknya, beliau tetap masih bisa memperjuangkannya bahkan mendapatkan LPDP untuk kuliah S2 di Jerman. Keren banget, kan?

Sejak 2007 yang lalu Mbak Hiday memulai jejak kepenulisannya dari mulai menulis buku-buku pendidikan untuk anak, karya ilmiah, antologi, bahkan buku solo.

Menurut saya, beliau memang benar-benar seorang pejuang sejati. Mengingat, ibu dari dua orang putra dan putri serta istri dari seorang suami ini juga sering berkeliling dunia seperti Perancis, Jerman, dan banyak negara-negara Eropa lainnya.

Tak hanya itu, Mbak Hiday juga turut membagikan kisahnya sebagai salah satu penerima LPDP RI dalam sebuah buku bertajuk "Awardee Stories" yang ditulis bersama para teman-temannya yang kini tersebar di berbagai universitas keren di dunia.

Jujur, besar harapan saya untuk suatu hari nanti bisa bertemu langsung dengan pemilik blog ini, serta mengulik banyak ilmu tentang kepenulisan, umum, atau bahkan agama. Karena melalui tulisan ini saja, sudah kelihatan bahwa saya belum terlalu mengenal lebih dalam pada sosok keren satu ini. Mungkin dari sinilah saya harus mulai meningkatkan literasi, sehingga kalau sharing dengan Mbak Hiday bisa nyambung. Meskipun itu hanya akan menjsdi pendengar setia. Eheheh.

0 komentar:

Posting Komentar