Friday, March 1, 2019

Tantangan RCO - Puisi



Pada kedalaman Nil, aku terkesima
Oleh Alexandria, aku semakin cinta
Keharuman dan ketinggian pengetahuan
selalu jadi daya tarik dan pikatmu
semakin pula ingin kumenapaki tanahmu
negeri Kinanah yang penuh berkah
jejak para nabi masih tersisa di sana,
terekam apik dan epik dalam runtutan sejarah
yang indah

kemudian aku tersenyum membayangkan
diriku ada bersama
para pujangga yang dulu dipuja
apalah diri ini yang hanyalah titik kecil
namun apapun itu,
tengok langkahku yag tetap bediri tegak
tunggulah aku di sungai Nil
hingga suatu saat nanti
bisa kita lihat bersama alirannya
This entry was posted in

Tantangan RCO 2 - Cerita

Pendapat saya tentang sejarah yang dipaparkan dalam buku “Sejarah Sastra Arab dari Beragam Perspektif” sangat mengapresiasi para penulis. Karena buku ini disusun oleh lebih dari satu penulis. Untuk itu, saya amat menghargai jerih payah mereka dalam menyusun hingga menyelesaikan buku ini. Karena menulis tentang sejarah pastinya membutuhkan data-data yang akurat serta benar terjadi pada masanya. Untuk itu, saya yakin bahwa para penulis telah melakukan riset yang cukup panjang sebelumnya.

Saya belum pernah membaca buku sejarah seperti yang sedang saya baca kali ini. Karena di dalamnya memuat pula tujuan serta materi pembelajaran, ada pula rangkuman serta latihan soal untuk menguatkan kembali ingatan pembaca agar informasi yang disampaikan senantiasa melekat di kepala. Menurut saya, buku ini bisa dikategorikan sebagai buku pelajaran dan rujukan bagi perkuliahan jurusan Sastra Arab itu sendiri. Karena sistematika penulisannya mirip sama sekali dengan buku-buku materi lain.

Selain itu, buku ini juga menyediakan kutipan-kutipan syair yang ditulis oleh penyair Arab dari berbagai zaman. Mulai dari zaman Jahiliyah sampai zaman modern. Jadi, di buku “Sejarah Sastra Arab dari Beragam Perspektif” ini tidak hanya memuat bahasa Indonesia saja sebagai bahasa pengantarnya. Namun, ada juga bertebaran bahasa Arab yang dipakai sebagai contoh syair yang pernah ditulis oleh para penyair.
Mungkin ini saja tanggapan saya terkait buku tema sejarah yang saya baca. Jika ada tambahan, mungkin bisa dipikirkan dan disunting lain waktu. Haha.
This entry was posted in

Tuesday, February 26, 2019

Curhat Day 2 - 21 Days Writing Challenge

Ini malam kedua aku hendak memposting sesuatu di blogku. Mungkin, kesannya seperti dipaksakan. Tapi memang seperti itu adanya. Aku ingin memaksakan diri untuk bisa memiliki kebiasaan menulis tanpa harus berpikir. Membiarkan jariku menari-nari di atas tuts keyboard dengan sendirinya, tanpa harus menunggu pikiran atau kata hatiku melontarkan kalimat selanjutnya.

Bahkanpun, di tulisan kali ini aku tidak tahu hendak membahas tentang apa. Sebenarnya, aku sudah menulis di catatanku untuk mengulas sedikit tentang Okky Madasari. Namun, kurasa dengan waktu yang singkat ini tidak cukup kiranya jika kubuat tulisan tentang beliau. Selain itu, aku juga baru mengenal beliau sebagai penulis melalui bukunya, Maryam yang kemarin sudah habis kubaca itu. Jujur, setelah membaca Maryam aku memiliki ketertarikan lebih untuk menggali dan menemukan buku-buku karyanya yang lain.

Meninggalkan Okky dan karya-karyanya, sebetulnya aku juga sedang belajar menulis non fiksi. Seperti artikel, esai popular, bahkan karya tulis ilmiah yang sebelumnya belum pernah kucoba.

Cerita lucu hadir saat di hari di mana aku menulis, juga merupakan hari di mana tulisanku ditolak mentah-mentah. Haha. Sakit sih, sedikit. Tapi, rasanya justru ada sesuatu dalam diriku yang meminta untuk dikeluarkan. Seolah-olah, sakit hati yang kurasakan ini adalah sakit hati positif yang entah kenapa kuyakin bisa mengantarkan langkah-langkah kecilku menyambut kebahagiaan dan keberhasilan hakiki kelak.

Kata orang bijak, kita sebagai hamba itu jangan pernah berorientasi pada hasil terlebih dahulu. Melainkan, pada manfaat yang nantinya bisa kita kontribusikan pada masyarakat atau orang-orang yang membutuhkan kita. Intinya, pada peran nyata apa yang benar-benar kita wujudkan dalam aksi nyata selama masih hidup di dunia ini.

Kebiasaanku menulis sampai melebar ke mana-mana. Entah apa yang dibahas, yang penting menulis. Katanya senang menulis tapi jarang bikin karya. Apa saja alibi dipakainya. Huh, dasar penulis pemula!

Monday, February 25, 2019

Review Buku : Setelah Membaca Okky Madasari


Judul : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Tebit : 2012
Genre : Novel
Jumlah halaman : 275
ISBN : 978-979-22-8009-8
Rating : 8/10

Kemarin saya baru saja menamatkan sebuah novel epik buah karya Okky Madasari. Siapa gerangan beliau? Perempuan kelahiran 30 Oktober 1984 ini merupakan salah satu penulis sekaligus jurnalis berbakat di Indonesia. Melalui novel Maryam yang ditulisnya sebagai buku ketiga ini, Okky dinobatkan sebagai penerima penghargaan Khatulistiwa Literary Award di tahun 2012, yang kemudian berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2014.

Pertama kali saya mengetahui tentang perempuan bernama lengkap Okky Puspa Madasari ini ialah melalui Qureta. Sebuah portal online yang membagikan informasi dari banyak penulis. Saat itu, saya menyaksikan Okky sedang menjadi pembicara di kuliah Qureta. Dalam sebuah video yang saya tonton, beliau sedang menyebutkan karya-karyanya yang terdiri dari beberapa judul novel berikut tema besar yang digarapnya.

Bagi saya, Maryam adalah masterpiece. Tak kalah dengan dua novel sebelumnya, Entrok dan Pasung Jiwa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, membaca Okky Madasari seperti menggali sejarah. Pada novel Entrok ia ceritakan tentang pemerintahan totalitarianisme dan militerianisme pada zaman orde baru. Kemudian Pasung Jiwa yang mengangkat tema besar tentang LGBT. Sedangkan untuk Maryam sendiri, Okky mengulas tentang kehidupan para jama’ah Ahmadiyah yang terusir dari tempat tinggal mereka sendiri.

Maryam yang sudah habis saya baca ini, menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan bernama Maryam yang menganut paham Ahmadi sejak dari kakeknya. Dalam novel tersebut disebutkan bahwa meskipun Islam mereka berbeda dengan Islam kebanyakan tetangga, namun keluarga mereka sudah sejak lama berbaur dengan orang-orang sekitar. Dalam urusan muamalah, mereka memang sama saja dengan masyarakat lainnya. Namun, dari segi ibadah mereka cnederung tertutup dan eksklusif. Hal ini tergambar jelas saat para Ahmadi mengadakan pengajian rutinan, shalat Jum’at di masjid golongan mereka sendiri, bahkan tuntutan bapak ibu Maryam untuk menikah dengan laki-laki Ahmadi yang dari golongan mereka sendiri.

Seiring berjalannya cerita, Maryam sang tokoh utama memulai perjalanan cintanya yang nampak manis. Bersama Gamal, laki-laki yang juga Ahmadi, Maryam merasa dirinya akan bahagia ketika kelak mereka menikah. Karena jika itu terjadi, maka bapak ibunya juga akan senang sebab mendapat menantu yang seiman. Namun ternyata Tuhan berkata lain, Gamal pergi meninggalkan keluarganya, meninggalkan imannya, meninggalkan Maryam. Ia menganggap bahwa apa yang selama ini diyakini oleh kedua orang tuanya ialah sesat.

Lantas, setelah kejadian itu Maryam yang baru saja diwisuda merantau ke Jakarta. Di sana, ia mendapatkan sebuah pekerjaan prestisius di sebuah bank dengan gaji yang lumayan. Selain itu, ia mengenal Alam yang bukan laki-laki Ahmadi, yang berniat untuk menikahinya. Saat itu bapak dan ibunya sudah memperingatkan Maryam dari awal. Jika Alam benar-benar serius ingin mempersuntingnya, maka ia harus menjadi seorang Ahmadi. Namun, justru Maryamlah yang mengambil langkah nekat untuk keluar dari imannya. Mereka menikah tanpa persetujuan bapak dan ibu Maryam. Saat itu, hanya keluarga Alamlah yang menyetujui pernikahan mereka berdua. Dengan syarat, Maryam harus kembali mengucapkan syahadat sebagai tanda ia telah keluar dari ajaran sesat. Namun, ternyata hubungan itu tidak berjalan lama hingga kandas karena perbedaan yang dimiliki Maryam dan Alam tak akan pernah bisa disatukan.

Kegagalan dalam rumah tangga tersebut membuat Maryam ingin pulang menemui keluarganya. Namun, ternyata sudah terlambat. Keluarganya tak lagi bertempat tinggal yang sama seperti dulu karena telah diusir dari rumah mereka sendiri. Intimidasi para tetangga terhadap keyakinan yang keluarga Maryam bawa membuat mereka harus meninggalkan rumah yang telah dibangun dari keringat sendiri. Seolah perjuangan sekian lama yang senantiasa mereka lakukan tidaklah berarti apa-apa karena anggapan “sesat” yang tersemat pada ajaran yang mereka imani.

Beramai-ramai para jama’ah Ahmadiyah mengungsi dengan berdesak-desakan. Mereka berbagi tempat tinggal untuk satu sama lain sampai waktu yang tidak ditentukan. Kegigihan mereka menggenggam erat keimanan meskipun dalam kondisi terpepet, nyatanya adalah klimaks yang disuguhkan penulis untuk menguatkan identitas pemeluk paham ini. Walaupun apa yang mereka yakini berbeda dari orang-orang kebanyakan, namun hubunganya dengan Tuhan sama seperti yang lainnya.


Awalnya, saya pikir novel Maryam ini hanya akan menceritakan tentang seorang Maryam dan kehidupan pribadinya. Namun lebih dari itu, ternyata penulis menggali lebih dalam sampai ke ujung tentang kisah Maryam ini. Selain itu, Maryam menurut saya ditulis dengan cara yang tak biasa, yakni menggunakan alur maju mundur tanpa ditandai oleh pemenggalan paragraf dengan spasi atau sebuah simbol tertentu. Namun demikian, pembaca tetap bisa mengikuti alur yang disajikan dengan membayangkan adegan demi adegan yang meski tak berkesinambungan, tapi tetap bisa dimengerti. Bahasa yang digunakan juga sangat renyah untuk diikuti sampai akhir cerita di novel ini habis.

Saya menggolongkan novel ini sebagai bacaan fiksi yang cukup berat karena tema yang diangkatnya. Namun dari sisi bahasanya sendiri, jujur setelah membaca Okky Madasari, imajinasi dan alam ide saya bertambah barang satu dua tingkat lebih tinggi.

Tuesday, February 19, 2019

Tantangan 2 RCO - Cerpen "Al-Ma'un"


Aroaital ladzii yukadzibu biddiin. Fa dzaalikal ladzii yadu’ul yatiim…”

Setiap sore selepas Ashar, langgar samping rumahku selalu ramai oleh anak-anak dari usia TK sampai SD yang belajar mengaji dengan Ustadz Fanani. Aku sendiri sudah hampir empat bulanan ini mengikuti pengajian bersama beliau secara rutin. Namun, selama tiga bulan terakhir Ustadz Fanani selalu mengajari kami untuk membaca dan mengupas satu surat yang sama, yakni surat Al-Ma’un.

Aku tidak tahu mengapa beliau dengan gigih bertahan pada satu surat tersebut tanpa sedikitpun hendak beranjak ke surat lain. Seusai mengaji, aku dan beberapa teman sering berbisik-bisik tentang mengapa Ustadz Fanani tidak juga mengajarkan kami untuk naik ke surat lain. Beberapa teman bahkan mengajakku untuk berhenti mengaji kepada beliau, dan memilih mengaji sendiri di rumah. Namun, aku menolak ajakan itu karena masih penasaran dengan apa sebenarnya tujuan beliau.

Akhirnya, mau tidak mau aku memberanikan diri untuk bertanya tentang apa alasan beliau sebenarnya. Walaupun ada ketakutan tersendiri di dalam hatiku saat hendak menyampaikan pertanyaan ini, namun rasa penasaranku jauh lebih besar daripada ketakutan itu. Maka dari itu, kuputuskan setelah mengaji sore nanti, akan kuputuskan untuk bertanya langsung pada Ustadz Fanani.

Benar saja, sore ini Ustadz Fanani masih belum bosan mengajarkan kami surat Al-Ma’un. Mulai dari membacanya, mengerti artinya, dan bisa memahami per kata yang dimaksud. Setelah pengajian usai, aku memberanikan diri untuk menghadap Ustadz Fanani yang belum beranjak dari tempat duduknya.

“Assalamualaikum, ustadz. Maaf sebelumnya, apakah saya boleh bertanya sesuatu?”

“Waalaikumussalam. Baik, silakan Danu! Mau bertanya apa?” Ustadz Fanani tersenyum lebar seperti biasa. Membuatku segan lantas menundukkan kepala.

“Maaf sebelumnya ustadz. Sebetulnya, saya dan teman-teman sudah dari lama ingin menyampaikan hal ini. Namun, tidak ada di antara kami yang berani menanyakan secara langsung kepada ustadz. Jadi, selama ini kami hanya berbicara di belakang ustadz saja,” jelasku. Rasanya senyuman itu menagih segala unek-unek yang tersimpan di hatiku. Hingga semua yang tadinya tak ingin dan tak perlu untuk kukatakan keluar semua dari mulutku.

“Langsung saja, Danu,” suruh Ustadz Fanani.

“Oh, yaya. Begini tadz, sebetulnya apa motivasi atau alas an Ustadz saat mengajari kami untuk selalu membaca surat Al-Ma’un berikut artinya? Padahal, hanya mengajinya selama beberapa hari saja kami sudah hafal, tadz. Jadi, kenapa ustadz tidak juga mengajari kami surat yang lain dalam Al-Qur’an?” dadaku benar-benar lega sekarang. Meskipun saat mengucapkannya hanya beberapa kali aku menatap mata Ustadz Fanani, selebihya aku hanya menundukkan kepala.

Lagi-lagi hanya senyum yang terkembang di wajah Ustadz Fanani. Sementara itu, tidak ada sanggahan atau kata-kata yang keluar dari mulut beliau selama beberapa saat. Kurasa, beliau justru lama memperhatikanku yang terus menunduk sambil menahan berbagai perasaan yang campur aduk ini.

“Begini anakku Danu. Kamu pernah tau ceritanya KH. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah itu tidak?” Ustadz Fanani memulai jawabannya dengan pertanyaan.

“Saya rasa belum, tadz,” jawabku jujur. Karena dari kecil sampai aku kelas 4 SD ini, ibu dan sekolah hanya mengajariku pelajaran agama praktis yang langsung bisa dipraktekkan seperti rukun islam, rukun iman, nama-nama serta sifat wajib dan mustahil Allah. Ajaran-ajaran yang kuterima sampai saat ini adalah ajaran umum yang ada dalam Islam. Sedangkan untuk sejarah tokoh-tokoh Islam aku belum terlalu mengetahuinya.

“Jadi, selama ini aku mengambil pelajaran KH. Ahmad Dahlan tersebut sebagai contoh untuk kuterapkan pada masa sekarang ini. Dulunya, awal beliau berdakwah ialah dengan mengkaji Surat Al-Ma’un bersama murid-muridnya. Jadi, pertanyaan seperti yang kau sampaikan tadi juga pernah ditanyakan oleh murid KH. Ahmad Dahlan sebelumnya,” Ustadz Fanani mengubah posisi duduknya menjadi berselonjor setelah tadi beliau selalu bersila. Sedangkan aku sedikit terkejut dengan apa yang beliau sampaikan.

“Lalu bagaimana jawabannya, tadz?” desakku tak sabar.

“Apakah kau sudah mengamalkan surat Al-Ma’un yang sudah kau baca dan hafal semua arti berikut tafsirnya pada hampir 100 hari itu?” Ustadz Fanani mengalahkanku dengan telak. Aku menggeleng dengan kepala masih tertunduk, dan jantung masih berdegup kencang seolah hendak melompat dari tempatnya.

“Lalu, jika nanti aku mengajarkan surat yang lain, akankah kau melupakan arti dan tafsiran ayat-ayat Al-Ma’un yang sudah kau baca itu?” daam hati aku tidak yakin bisa menjaganya. Lantas, kugelengkan kepalaku sekali lagi.

“Bagus. Jadi, kau sudah tahu jawabannya, kan kenapa aku belum mengajarkan surat lain untuk kalian? Karena bagiku, mengamalkan apa yang kita baca adalah sebuah keharusan. Maka dari itu, aku juga ingin para muridku bisa melakukan hal yang sama.” Ustadz Fanani mengakhiri penjelasannya. Ditariknya kedua kaki dari posisi selonjornya untuk kemudian berdiri. Sambil tersenyum, beliau menatapku lalu mengucap salam.

“Assalamualaikum. Aku yakin kau akan memahaminya cepat atau lambat Danu.”

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Aamiin, insyaAllah ustadz. Terima kasih,” aku masih terbengong di tempat dudukku.

Sementara bertanya dalam hati, “Bagaimana agar anak kelas empat SD ini bisa memahami secara cepat atau lambat?”
This entry was posted in

Sunday, February 17, 2019

Tantangan RCO Level 2 - Biografi K.H Ahmad Dahlan



Nama kecilnya ialah Muhammad Darwisy. Beliau dilahirkan dari keluarga ulama yang disegani saat itu. Ayahnya KH. Abu Bakar, merupakan ulama sekaligus khatib besar di Kasultanan Yogyakarta. Sedangkan ibunya merupakan putri dari H. Ibrahim yang juga merupakan seorang ulama dan petinggi yang dihormati di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kala itu. Karena lahir dan besar dalam lingkungan ulama, maka tidak mengherankan bahwa KH. Ahmad Dahlan memiliki ghirah atau semangat yang besar untuk mengambil peran sebagai seorang pengubah peradaban.

Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Beliau juga menghembuskan nafas terakhirnya di Yogyakarta pada tanggal 23 Februari 1923. Semasa hidupnya, kiprah beliau untuk Islam dan Indonesia sangatlah besar. Sebagai seorang Kyai, beliau merupakan penggagas awal dari berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah. Tak hanya itu, sebagai pahlawan nasional pun Ahmad Dahlan juga menorehkan prestasi yang bisa dibilang cukup fantastis.

Nyai Ahmad Dahlan atau Hj. Siti Walidah merupakan istri KH. Ahmad Dahlan yang juga memiliki kiprah yang sama dalam mengembangkan dakwah Islam serta kesejahteraan Indonesia. Perannya bisa dilihat dari organisasi Aisyiyah yang beliau dirikan. Anggotanya berasal dari para wanita yang sadar dan terpengaruh dengan dakwah Muhammadiyah itu sendiri. Namun, selain menikah dengan Hj. Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan juga menikahi beberapa perempuan lain seperti Nyai Abdullah, Nyai Rum, Nyai Aisyah, serta Nyai Yasin. Dari pernikahan tersebut, lahirlah anak-anak seperti Djohanah Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah, dan Dandanah.

Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan sempat menimba ilmu di Makkah bersama sahabatnya, KH. Hasyim Asyari pada guru yang sama, yakni Syekh Ahmad Khatib. Dari sanalah, beliau mulai terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran tokoh pembaharuan seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridlo, Jamaluddin Al-Afghani, maupun Ibn Taimiyah. Selain itu, dorongan untuk mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah untuk dakwah Islam juga termotivasi oleh teman-temannya dari Budi Utomo, dan teman-teman lain yang sevisi dengan beliau.

Pada saat agama Islam sedang berkembang saat itu, Ahmad Dahlan hadir sebagai seseorang yang membawa gagasan pembaharuan yang mungkin masih sulit diterima oleh masyarakat Islam saat itu. Mewabahnya takhayul, bid’ah, maupun khurofat yang menggejala saat itu membuat KH. Ahmad Dahlan gelisah. Sehingga, beliau memulai dakwah pembaharuannya melalui pendidikan. Strateginya ialah menggabungkan antara sistem pendidikan Islam yang sangat kental keIslaman dan kepesantrenannya, dengan sistem pendidikan Barat yang sekuler karena memisahkan dunia dengan agama. Selain itu, KH. Ahmad Dahlan juga banyak bergaul dengan orang Kristen, mengajar anak-anak Belanda, dan hal-hal lain yang dianggap oleh masyarakat Islam kala itu sebagai seseorang yang menyerupai orang kafir.

Selain melalui pendidikan, Ahmad Dahlan juga sering mengadakan tabligh ke berbagai kota guna menyebarkan dakwah Islamya itu. Adapun ketika dakwah Muhammadiyah mulai berkembang lebih pesat, beliau juga mendirikan banyak amal usaha seperti rumah sakit, lembaga zakat, dan program-program sosial lain yang begitu berpengaruh bagi agama Islam serta negara Indonesia.

Friday, February 8, 2019

Resensi – Pribadi Mulia dalam Balutan Sederhana nan Bersahaja

Dok. Pribadi


Judul Buku : Pribadi Muhammad (Syakhshiyyah al-Rasul)
Penulis : Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah : Asy’ari Khatib
Penerbit : Penerbit Zaman, Jakarta
Tahun terbit : Cetakan I, 2013
Jumlah halaman : 386 halaman
ISBN : 978-602-17919-2-9

Ketika saya mencoba berselancar di internet untuk mencari referensi tulisan yang mungkin juga pernah membuat resensi tentang buku Pribadi Muhammad ini, rupanya saya belum menemukan apa yang saya cari. Hanya ada sedikit ulasan dari website penerbitnya yakni Penerbit Zaman, serta ulasan singkat dari Goodreads. Walhasil, resensi ini mudah-mudahan menjadi resensi pertama yang dibuat terkait dengan buku ini. Hehe.

“Sungguh telah ada pada diri Rasulillah itu teladan bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Kutipan dari salah satu ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pembuka paling awal dari buku ini. Sesuai judulnya, dalam buku ini dikupas secara mendalam tentang bagaimana kepribadian Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-harinya. Ada tiga tema besar yang dituliskan oleh Dr. Nizar Abazhah dalam buku ini. Yakni tentang Sosok Nabi, Keseharian Nabi, serta Mukjizat Nabi. Ketiga tema besar ini tentu saja memiliki sub-sub tema yang mengandung penjelasan runtut dan mendalam dengan bahasa yang mudah dipahami.



Allah memilih Rasulullah saw. sebagai penutup para nabi dan Dia himpunkan kepadanya sifat-sifat mereka yang mulia: jujur, amanah cerdas hati dan pikiran, senantiasa dalam keadaan sadar, tidak menutup-nutupi, dan terjaga dari kemaksiatan. Rasulullah saw. terhindar dari segala dosa, besar maupun kecil. Melaksanakan semua perintah Allah tanpa sedikit pun melanggarnya. Menjaga diri dari semua larangan-Nya tanpa sekali pun terjerumus ke dalamya. (h.29)

Meskipun telah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah adalah sosok yang ummy alias tidak bisa membaca dan menulis, namun Allah telah memilih beliau sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk seluruh alam sampai akhir zaman. Jadi, tidak mengherankan bahwa dari diri beliau selalu muncul hal-hal yang membuat kita terkagum-kagum.

Jika marah, beliau berpaling. Jika senang, beliau memejamkan mata. (h.46)

Lantas, jika orang lain merendahkan Rasulullah, beliau balas dengan kebaikan. Semakin direndahkan dan dilecehkan, semakin dibalas dengan kebaikan. Menurut Aisyah istrinya, akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Terlalu banyak penggambaran dalam bentuk kata-kata yang dipaparkan oleh penulis yang seketika membuat pembaca terkagum-kagum dengan sosok karimatik sepanjang zaman ini. Namun demikian, hal itu pun tidak cukup kiranya mengingat begitu mulianya sosok Nabi Muhammad saw. sebagai utusan dan kekasih Allah itu.

Berkaitan dengan sifat tawaduk, Nabi saw. menjadi gambaran utama yang merepresentasikan sifat mulia ini. Beliau benar-benar tampil sebagai ideal akhlak seorang muslim yang berbeda sama sekali dari moral Jahiliyah. Diberi pilihan pangkat antara menjadi nabi yang raja, seperti Nabi Sulaiman, dan menjadi nabi yang sahaya, Rasulullah memilih pangkat kesahayaan. Beliau memilih sedikit dengan dunia agar kelak menghadap Allah dengan tenang dan leluasa. (H.R. Muslim, 188), (h.182)

Dalam berbagai literatur pun berkali-kali dijelaskan bahwa Rasulullah saw. merupakan sosok yang sederhana. Meskipun para sahabat sering menyanjungnya dengan sanjungan-sanjungan yang terhormat lagi mulia, namun beliau justru lebih senang dipanggil sebagai manusia biasa yang lahir dari seorang perempuan yang memakan dendeng. Subhanallah! Betapa sifat tawaduk tanpa rekayasa maupun pencitraan yang tercermin dalam kata-kata serta sikap beliau ini. 

Menjelaskan tentang dirinya, Nabi saw. bersabda, “Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana budak lain makan, duduk sebagaimana budak lain duduk.” (Thaqabat Ibn Sa’d, 1/371, Al-Syifa, 1/168), (h.183)



Mungkin, buku ini memanglah tidak selengkap Sirah Nabawiyyah. Karena Dr. Nizar Abazhah pun membuat seri tersendiri bagi karyanya ini. Dalam beberapa paragraph di buku ini pun bertebaran footnote yang menggiring pembaca untuk juga membaca karyanya yang lain seperti Perang Muhammad, Ketika Nabi di Kota, Bilik-Bilik Cinta Muhammad, dan lain-lain.

Pada bagian tentang keseharian nabi pun diungkapkan berbagai macam kebiasaan beliau yang juga hampir sama dengan kebiasaan rang biasa pada umumnya. Seperti halnya penggambaran tentang kesederhanaan rumah beliau, bagaimana posisi maupun cara tidur beliau, alas tidur beliau yang hanya dari selembar tikar tipis yang membuat cap di bagian punggung beliau, dan banyak kesederhanaan lainnya yang mungkin jauh dari para sahabat, apalagi kita umatnya. Meneladani Rasulullah secara keseluruhan rasanya memang tidak mungkin kita lakukan. Karena nafsu yang kita miliki terkadang senantiasa lebih besar daripada ketaatan yang kita miliki.

Nabi membagi harinya untuk ibadah, keluarga, dan manusia. Ini dilakukannya dengan konsistensi yang menakjubkan. Begitu menghadap kepada Allah, beliau menghadap secara total. Jika melakukan sesuatu, beliau tak berhenti sampai tuntas. Tak heran bila tak ada kamus gagal dalam setiap tindakan beliau. (Bathal al-Abthal, 52), (h.278)

Sedangkan pada bagian mukjizat, Dr. Nizar Abazhah membaginya menjadi mukjizat umum yang nabi peroleh ketika periode Makkah serta jenis-jenisnya, dan mukjizat terbesar nan kekal, yakni Al-Qur’an. Mukjizat saat periode Makkah yang pertama adalah Isra’ Mi’raj yang merupakan penghormatan Allah untuk Rasul-Nya. Sedangkan mukjizat yang kedua ialah ketika Rasulullah berhasil lolos dari kepungan kaum kafir Qurays dalam peristiwa hijrah. Nah, untuk mukjizat yang terbesar nan kekal berupa Al-Qur’an itu sendiri, seperti yang kita ketahui bersama sampai saat ini. Bahkan, jarak masa hidup nabi dengan kita saja mungkin lebih dari 1400 tahun. Namun, apa yang tertulis dalam mukjizat itu tidak pernah sedikitpun bertambah, berkurang, maupun hilang. Bahkan mukjizat tersebut banyak sekali yang menyimpannya dalam bentuk mushaf berjalan yang senantiasa menghiasi dada para penghafalnya, untuk memberkahi kehidupannya dan alam semesta.

Buku Pribadi Muhammad ini memang sudah tak dapat diragukan lagi kualitasnya. Dari sisi bahasa terjemahannya saja, mudah dimengerti oleh pembaca yang awam sekali pun. Bahkan, ulasan ini kiranya tidak cukup untuk menggambarkan semuanya. Maka dari itu, saya pribadi sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca karena bahasanya yang ringan, dan halamannya yang tidak terlalu tebal sebagaimana Sirah Nabawiyyah. Namun, alangkah baiknya setelah selesai menamatkan buku biografi Rasulullah  saw. ini juga turut menyambungnya dengan seri lain tentang tulisan-tulisan yang membahas biografi Rasulullah. Karena, barangsiapa yang mengenal nabinya, InsyaAllah ia akan dekat dengan Tuhannya.