Sunday, June 24, 2018

Beda, Terus Kenapa?

Entahlah, sejak kapan ribuan kata dalam kepala ini meminta untuk dituliskan. Lama, aku menggelisahkan hal ini. Membuatku kadang tetap terjaga untuk beberapa jam setelah lewat tengah malam, tanpa kopi. Masih memikirkan masalah perbedaan yang tanpa ujungnya ini.

Beda. Satu kata yang saat ini membuatku sedikit tertatih untuk mengucapkan dan memikirkannya. Kata-kata bapak malam itu, benar-benar membuatku rapuh. Aku sungguh jatuh.

Mungkin, apa yang dikatakan bapak saat itu memang bukanlah pembenaran. Tapi, kebenaran yang memang terjadi pada masyarakat Indonesia pada umumnya, Jawa pada khususnya.

Entah pula sejak kapan aku merasa separuh nalarku runtuh begitu saja. Mendadak susah mengatur napas ketika kalimat-kalimat yang bapak lontarkan malam itu tiba-tiba terngiang di kepala.

Aku tahu, tidak boleh mempermainkan rasa sebelum tiba waktu tertepatnya. Tapi namanya hati, apa bisa diajak kompromi? Perasaan itu hadir karena perempuan kebanyakan, termasuk aku lebih mendahulukan hati dalam berpikir daripada logika.

Sebenarnya, tidak lucu juga jika disebut ketertarikan sesaat pada lawan jenis. Karena menurutku, perasaan ini bukan demikian adanya. Lebih dari itu, perasaan kepada seseorang yang saat ini kurasakan adalah sebentuk keyakinan yang bersumber dari lubuk hati paling dalam. Kupikir, aku tulus dalam rasaku kali ini.

Namun, apakah perasaan jualah yang menghalangi akal sehat untuk berpikir, bahwa perbedaan pemikiran akan melahirkan keputusan-keputusan yang juga akan berbeda nantinya?

Tunggu sebentar, bukankah hal tersebut wajar adanya dalam sebuah hubungan? Jadi, apa masalahnya? Kenapa bapak harus membesar-besarkan masalah perbedaan ini?

Lagipula, perbedaan yang terjadi bukankah hanya tentang organisasinya saja? Bukan soal akidah apalagi kepercayaan dalam beragama, dalam ber-Tuhan?

Allah..

Saturday, June 2, 2018

Benarkah?

Dwitasari, dalam bukunya yang berjudul "Jatuh Cinta Diam-Diam", menyertakan juga tulisan di bawahnya yang masih kuingat sampai sekarang. Tulisan itu ringkas, namun kaya akan makna, menurutku. Apalagi kalau bukan, "Setiap hati selalu menyimpan sebuah nama".

Di kalimat tersebut, ada dua "se" yang diikuti dengan "tiap" dan "buah". Dalam bahasa Indonesia, "se" merupakan imbuhan yang ditambahkan ke dalam sebuah kata, untuk merepresentasikan bahwa benda yang disebutkan jumlahnya hanya satu. Atau, "se" di sini fungsinya untuk menyingkat kata "satu" itu sendiri.

Maka, bunyi kalimatnya akan menjadi seperti ini jika diubah, "Satu hati selalu menyimpan satu nama".

Oh, ya? Benarkah? Aapakah benar begitu?

Hmm.. kurasa tidak. Tak akan pernah mungkin bahwa satu hati hanya akan menyimpan satu nama saja. Percayalah, ada begitu banyak nama yang pernah singgah dan  menjadi istimewa di sana.

Kau tahu?

Hati manusia adalah sesuatu yang sangat mudah sekali terbolak-balik. Contoh gampangnya saja, dalam hal memilih makanan yang akan kita makan, ataupun pakaian yang akan kita kenakan. Tidakkah kadang kita selalu dibuat bingung oleh begitu banyak pilihan? Kadang, perut ingin makan berat, tapi gengsi mengingatkan, untuk selalu jaga bodi. Walhasil, nggak jadi makan bakso, tapi cuman ngemut permen. Hahah.

Atau, kadang cuaca sedang dingin, namun hati kita menginginkan untuk mengenakan pakaian yang terbuka. Dalam kondisi tersebut, pada akhirnya mau tidak mau kita harus berpikir secara rasional. Dan tidak melulu mengikuti kata hati yang kadang tidak sesuai dengan keadaan.

Ya, begitulah hati. Menurutku, jika ada yang bilang, "Setiap hati selalu menyimpan sebuah nama", kurasa ada yang perlu ditambahkan untuk melengkapi kalimat tersebut.

Menjadi, "Setiap hati yang baik, akan menyimpan nama orang-orang baik di dalamnya. Namun, pasti ada, satu yang terbaik di antara mereka."

Lantas, apakah orang-orang yang baik itu termasuk di dalamnya adalah aku dan kamu?

Entahlah. Coba tanya diri kita masing-masing.

Karena yang paling tahu, kadar kemunafikan maupun kejujuran yang sebenarnya ada dalam diri kita, adalah diri kita sendiri dan Tuhan.

Selamat mencari dan bertanya!

Sunday, May 13, 2018

Who Am I?

Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia 2016

Terhitung sejak akhir 2016, saya memutuskan untuk tidak lagi membagikan foto wajah (selfie) di sosial media manapun. Sejak saat itu pula, saya merasa benar-benar malu pada diri saya sendiri. Malu di sini bukan karena saya tidak bersyukur atas pemberian Allah terhadap diri saya. Melainkan, lebih kepada malu karena begitu banyak kejelekan yang masih terdapat dalam diri saya, yang tidak orang ketahui. Sedangkan Allah selalu menutup rapat-rapat semua itu.

Sebagai seorang hamba, tentu saja saya pernah merasakan benar-benar menjadi yang begitu hina di hadapan Tuhan. Teringat akan dosa-dosa masa lalu yang belum saya taubati secara nasuha. Yang belum saya tangisi secara sungguh-sungguh. Yang masih sering saya kerjakan. Masih begitu lalai akan adanya hari pembalasan kelak. Dan malah berleha-leha dengan seenaknya. Astaghfirullah. Malu. Sangat malu.

Tapi, Allah memang Maha Baik. Dia berikan petunjuk kepada hati saya untuk tergerak memperbaiki diri. Untuk lebih dekat kepada-Nya. Untuk menjadi seorang muslimah yang pandai menjaga. Baik di dunia nyata maupun maya. Dan ini yang sedang saya usahakan untuk istiqomah sampai sekarang.

Memang kelihatannya sulit untuk tidak mengunggah foto diri di sosial media. Menghapus semua yang pernah terunggah dengan pelbagai macam pose pun sama  sulitnya. Tapi, saat itu saya hanya ingin benar-benar mendapatkan cinta Allah. Walau memang sangat sulit untuk menjaga semangat tetap membara.

Wanita, pada dasarnya memiliki sifat ingin dilihat. Ketika ia merasa dirinya cantik, maka umumnya ia akan bertanya pada orang lain, atau minimal mencari pengakuan atas dirinya. Dengan kalimat langsung atau tak langsung, yang intinya menginginkan pembuktian bahwa ia benar-benar cantik. Padahal, sebenarnya cantik itu tidak hanya diukur dari keelokan wajah dan fisik. Dan berusaha menjadi cantik, juga bukan goals atau tujuan kita diciptakan. Cantik itu murni pemberian Allah dan sebesar apa rasa syukur kita terhadap pemberian itu. Bukan sebuah penilaian manusia yang relatif dan selalu berubah.

Dewasa ini, begitu banyak kita temukan gadis cantik dan yang dianggap cantik, hidup dan bernapas di muka bumi ini. Sebagian dari mereka, menghiasi jalan-jalan sambil mengiklankan suatu produk. Ada yang berlenggak-lenggok tanpa menutup aurat. Ada juga yang sudah menutup aurat, tapi tidak sesuai syariat. Dan masih banyak gadis cantik lainnya yang mungkin tidak mengerti seberapa berharganya kecantikannya itu. Yang dengan bangganya ia pamerkan kemana-mana. Memang, orang lain kadang perlu untuk mengetahui siapa identitas kita. Tapi, kadang sebagian orang terlalu mengeksplorasi dirinya secara berlebihan. Hingga menyebabkan suatu permasalahan dengan dirinya sendiri. Dalam Islam, biasanya hal ini ada kaitannya dengan ujub, atau membanggakan dirinya sendiri. Meng-AKU-kan dirinya, lebih baik daripada orang lain. Naudzubillah.. 

Sebenarnya, cantik saja tidak cukup sebagai bekal kita untuk mendapatkan surga. Memang betul. Karena yang Allah lihat pada diri kita adalah taqwa dan hati. Seberapa taatnya kita pada Rabb, pemilik semesta ini. Dan seberapa bersih hati kita untuk selalu qanaah dan khusnudzon kepada-Nya.

Jadi, tidak peduli cantik atau tidaknya seorang wanita di mata manusia lainnya, yang jelas selama dia beriman dan bertaqwa kepada Rabbnya, ia lebih dari sekadar cantik.

Lalu, pertanyaan tentang siapa saya dalam postingan ini apa jawabannya?

Cukup sederhana sebenarnya untuk menjelaskan siapa saya. Tapi kadang, kerumitan terjadi setelah saya memulainya dengan kalimat-kalimat penjelas yang ujung-ujungnya malah tidak nyambung dengan kalimat utama. Heheh.

So, who am i?

Seperti yang selalu saya bilang, saya hanyalah perempuan biasa yang punya segudang mimpi untuk diwujudkan. Sedang berusaha menjadi sebenar-benar muslimah yang taat pada Rabb. Berjuang melawan diri sendiri. Meniti harapan menuju kebahagiaan dunia akhirat. Dan menjadi anak sulung sekaligus perempuan satu-satunya, yang benar-benar berbakti kepada kedua orang tuanya yang alhamdulillah masih sehat dan hidup sampai sekarang.

Sebenarnya, banyak yang ingin saya bagi dan ceritakan di postingan ini. Tapi, kesadaran bahwa hari ini saya belumlah menjadi apa-apa dan bukan sebagai siapa-siapa, membuat jemari saya terhenti sampai di sini untuk menjelaskan detail diri saya secara sepenuhnya.

Cukup surelkan pesan untuk berkenalan secara lebih jauh ke rismariest@gmail.com atau datang sendiri ke rumah saya bagi yang tahu. Haha. :D

Oke, cukup sekian postingan kali ini. Perdana. Semoga bisa istiqomah posting ke blog reot ini untuk setiap harinya. Aamiin.

Entahlah. Blog menjadi pelarian paling sempurna ketika sosial media terasa sudah membosankan. Hahah. 

Tuesday, November 21, 2017

Kata Orang...

Seseorang pernah bilang padaku begini,

"Kamu sekarang di Malaysia kok tambah islami ya? Nggak kayak dulu."

atau ini

"Makanya jangan ceramah melulu yang sering ditonton. Jadi nggak tahu kan, informasi lain kayak dunia kesehatan, kecantikan, fesyen, dll."

dan begini

"Udah deh, nggak usah sok agamis. Biasa aja kali ah."

Hmmpphh.. Saat itu aku hanya bisa menarik nafasku dan tersenyum, sembari berkata dalam hati, "Ya sudahlah. Toh ini pilihanku." Selesai.

Namun seiring berlalunya hari, otakku mengendapkan beberapa pernyataan itu dan memikirkannya sampai sejauh ini. Ya, memang. Aku bukanlah tipe orang yang mudah menanggapi sesuatu secara spontan. Tidak. Melainkan, otakku memerlukan waktu untuk mencerna setiap kalimat, setiap kata, bahkan setiap maksud dari kata-kata tersebut.

Dengan kata lain, aku cukup telmi (telat mikir) ketika sedang berkomunikasi secara langsung dengan orang lain. Pun, sebenarnya aku tak terlalu mempermasalahkan tentang kepribadian diriku yang cenderung introvert, atau apapun. Selama aku nyaman dengan diriku, aku tak harus menjadi seseorang yang lain agar orang lain bisa menerimaku.

Oke, kembali pada tanggapanku untuk pernyataan-pernyataan di atas.

Untuk poin pertama, kurasa pernyataan itu tergolong seperti penyesalan. Tapi apa yang harus disesalkan? Dan kenapa harus menyesalkan?

Begini. Aku adalah seorang muslimah. Agama fitrah ketika aku dilahirkan adalah Islam. Memang, aku memiliki Islam ini tanpa kuminta. Karena sepanjang garis keturunan di keluargaku, alhamdulillah kami semua tercatat sebagai penyembah Allah Yang Maha Esa.

Jadi, kenapa aku harus malu dengan Islam yang sekarang kupeluk ini? Tidak bolehkah jika aku melekatkan kepribadianku dengannya?

Lantas, kalimat pernyataan "Sekarang kok kamu lebih islami, ya" Menjadi ganjil menurutku.

"Lho kenapa tidak? Bukankah aku seharusnya bangga? Bukankah aku seharusnya bersyukur?"

Aku jadi teringat sebuah nasehat yang pernah disampaikan Ustadz Felix Siauw dalam salah satu ceramahnya.

Kita, siapa saja kita. Yang lahir dalam keadaan orang tua kita beragama Islam, seharusnya lebih banyak bersyukur. Kenapa? Karena Allah telah memberikan kunci surga-Nya tanpa kita minta. Tak perlu kita mengucap syahadat terlebih dahulu untuk diakui menjadi seorang muslim. Karena pada hakikatnya, kita telah lahir dalam keadaan muslim, tersebab jalur keturunan dari orang tua kita.

Namun demikian, Islam memang bukanlah agama warisan. Tapi, Allah-lah yang telah memilih hati-hati kita untuk diberi petunjuk bermula dari kelahiran kita ke dunia sebagai seorang muslim pada khususnya. Tinggal keputusan kita, ingin memilih menjadi muslim yang bagimana. Yang beramal tanpa ilmu. Atau yang berilmu tanpa amal. Atau menjadi yang punya ilmu dan mengamalkan. Semua tergantung pada diri kita masing-masing.

Dan,
dan.

Secara tidak langsung, jika kita mau merenungkannya, Allah sungguh Maha Baik. Karena hidayah-Nya telah datang kepada kita tanpa kita minta. Namun, sebagian hamba kadang lupa pada hakikat dia diciptakan. Untuk apa ia hidup. Karena mungkin, mungkin. Banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya wahn. Cinta dunia dan takut mati. Menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit.

Jadi kesimpulannya, aku hanya ingin katakan ini untuk kalian. "Iya, ini aku sekarang. Kalian kapan ingin jadi sepertiku?"

Untuk poin kedua, cukup sederhana. Kali ini, sanggahan datang dari analogi Ustadz Hanan Attaki. Beliau menganalogikan iman dengan baterai hp. Yang sama-sama akan low ketika terus-menerus digunakan. Dan akan full ketika sudah di isi ulang (charge).

Kita semua pastinya telah mengetahui bagaimana cara baterai hp direcharge. Namun bagaimana caranya me-recharge iman?

Datang ke majelis ilmu menjadi salah satu jawabannya. Jikapun kita tidak bisa secara langsung menghadirkan diri kita, setidaknya dengan melihat atau mendengar nasehat para asatidz dan asatidzah (ustadz & ustadzah), atau orang-orang yang paham dengan agama dan takut kepada Allah, pun cukup untuk mem-full kan kembali iman kita.

Jika baterai hp saja butuh sekali sehari untuk direcharge, lantas bagaimana dengan iman? Yang setiap saat selalu berkurang dengan kemaksiatan. Jika baterai hp ketika lowbatt saja kita sudah kebingungan mencari dimana colokan listrik berada, lantas bagaimana dengan iman?

Jadi ketika (aku misalnya) terus-terusan mendengar / melihat ceramah, nasehat tentang keagamaan, tidak ada salahnya kan? Karena aku sadar, bahwa keimananku tidaklah seperti keimanan para sahabat Rasulullah SAW yang fast charging. Sesederhana mengucap "Hasbunallah" (Cukup bagi kami Allah) saja sudah bisa membuat hati mereka begitu yakin, untuk berharap mati dalam peperangan membela agama Allah.
Sementara aku? Mendengar ceramah 1 - 2 jam yang ustadznya ngomong sampai berbusa saja, belum tentu bisa membuat imanku full charge. Namun demikian, sangatlah mudah untuk menjadikannya low.
Laa hawla walaa kuwwata illa billah.

Hari ini, kita memang hidup di zaman yang semua informasi bisa kita dapatkan dengan mudah. Ini adalah sebuah keuntungan. Namun, menjadi sebuah kerugian ketika filter dalam diri kita tidak ter-setting dengan baik. Nah, solusi untuk membuat kita mengetahui mana haq dan bathil memang hanyalah agama. Kenapa? Karena di dalamnya terdapat aturan-aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta kita. Bukan seorang mahluk yang terfitrah memiliki sifat baik ataupun buruk. Melainkan Dzat yang paling mengetahui segala sesuatu. Dzat yang tidak memerlukan apapun, tidak hanya dunia, bahkan alam semesta dan segala isinya. Ya, Dialah Allah. Pencipta kita yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Maha Raja, Maha Tinggi, Maha Segala.

Ketika kesempatan dan waktu luang banyak kita gunakan untuk mencari tahu tentang ilmu-Nya, otomatis ilmu lain akan mengikuti. Coba lihat saja Al-Qur'an. Di dalamnya, terdapat solusi dari segala permasalahan untuk kita di dunia ini. Dari sains, teknologi, pergaulan, rumah tangga, dll.
Intinya begini, ketika kita hanya mencari tahu tentang sebuah ilmu kesehatan misalnya. Tanpa dilandaskan dengan agama, maka hanya sebatas itu (informasi keduniaan) yang akan kita dapatkan. Namun ketika kita turut serta melandaskannya dengan perkara akhirat, niscaya pahala pun akan dicatat oleh malaikat. Lebih menguntungkan bukan?

Untuk poin ketiga, tentang biasa saja dalam beragama. Sejauh ini, aku menyimpulkan pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang ambigu. Sebenarnya, bagaimana yang dimaksud dengan biasa saja dalam beragama (Islam khususnya) ?

Lalu timbul pertanyaan lain. Apakah yang dimaksud biasa saja dalam agama? Dan kenapa harus biasa saja? Bagaimana seharusnya mengartikan kata 'biasa saja' untuk urusan agama ini?

Baik. Dari sini aku berhasil menarik sebuah kesimpulan versiku, tentang makna 'biasa saja'.

Pertama, mungkin yang dimaksud biasa saja adalah tidak berlebih-lebihan. Memang, apa-apa yang berlebihan memang tidak baik. Dan dalam Islam pun, ada istilah ghuluw yang artinya melebih-lebihkan. Pun demikian, masih ada saja beberapa kelompok yang melakukan hal demikian. Sebut saja kaum Khawarij yang muncul pertama kali pada zaman Ali Bin Abi Thalib. Khawarij secara harfiah berarti "Mereka yang Keluar" ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya. Pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di daerah yang kini ada di Irak selatan, dan merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi'ah. (salafy-indon-kw13.blogspot.com)

Kedua, mungkin maksudnya adalah biasa saja dalam beribadah kepada Allah. Tapi, biasa saja yang bagaimana? Jika kita membali menengok sejarah hidup Rasulullah SAW, suatu riwayat shahih telah menyebutkan bahwa, kaki beliau SAW yang mulia bahkan sampai bengkak karena seringnya lama berdiri ketika sholat malam. Mungkin ini bisa dikaitkan dengan pembahasan poin pertama. Tentang amal dan ilmu dalam Islam. Jika kita kembali pada sejarah awal Al-Qur'an diturunkan, maka akan kita dapati wahyu yang pertama kali disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Iqra' bismi rabbikal ladzi khalaq, dst. (Q.S Al-'Alaq : 1-5) Yang berarti, Bacalah! Dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

Secara tidak langsung, ayat ini memerintahkan kita untuk mencari ilmu, yaitu dengan membaca. Lantas membaca yang bagaimana? Membaca yang bermacam-macam. Bisa dengan membaca buku, jurnal, ebook, bahkan alam sekitar. Membaca tanda-tanda kekuasaan Allah dengan merenungkan hakikat untuk apa kita diciptakan. Dengan men-tadabburi alam semesta, sungguh Maha Kuasa Allah yang menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sistem yang begitu luar biasa, dan tanpa sia-sia. Lalu apa hubungannya dengan maksud 'biasa saja' seperti tersebut di atas?

Menurutku,
menurutku.

Orang-orang yang tahu tentang suatu ilmu lantas mengamalkannya, berarti ia tahu hakikat kenapa ia diciptakan. Sementara orang yang tahu ilmu saja tanpa pengamalan nyata, adalah mereka yang sombong dan merasa tahu akan segala hal, lalu cukup. Sementara yang lain, yang hanya rajin mengamalkan tanpa tahu terlebih dahulu ilmunya, apakah melakukan seperti ini boleh atau tidak, diajarkan Rasullullah SAW atau tidak. Pemandu mereka adalah setan dan sudah pasti akan tersesat.

Jadi kesimpulannya, mungkin begini. Seseorang yang hanya tahu beberapa ilmu tanpa mengamalkan akan menganggap sepele hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh agama. Karena bagi mereka cukup mengetahui saja sudah lumayan, daripada tidak sama sekali. Dan mereka yang beramal pun mungkin, akan beranggapan bahwa amalan yang selama ini mereka lakukan telah lebih dari cukup untuk mengantarkan mereka memasuki surga Allah. Padahal kenyataannya, mereka tidak mengetahui dasar dari sesuatu yang selama ini telah mereka amalkan. Lalu beruntunglah orang yang punya ilmu lantas mengamalkan. Mereka mencari tahu tentang asal usul segala sesuatu, kembali kepada landasan tertinggi dalam hukum Allah. Yaitu Al-Qur'an. Menyandarkan segala perbuatannya dari sunnah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tanpa menambah atau mengurangi ajaran beliau. Karena tahu, bahwa ia tidak lebih pintar daripada Rasulullah SAW.
 
Intinya, lakukan saja hablumminallah dan hamblumminannas sesuai kemampuan dari masing-masing kita saja. Dengan menyandarkan standar tertinggi ibadah, pada ajaran Rasulullah SAw berupa sunnah beliau.

Memang, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Hanya saja, selalu berusaha untuk membaik, dan meminta yang terbaik kepada Allah tidak ada salahnya, kan?

Tulisan ini dibuat berdasarkan pemikiran selama berbulan-bulan. Tentu saja dengan bantuan serta petunjuk dari Allah. Maafkan apabila dalam poin-poin yang tertulis, mungkin banyak yang tidak sesuai dengan hati masing-masing kalian. Karena setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing. Dan ini adalah sudut pandangku. Dimana aku ingin menyuarakan kegelisahanku selama ini di dalam senyap.

Sekian,

Risma Ariesta.
This entry was posted in

Monday, October 23, 2017

Sholat

Banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an yang menyuruh umat Islam untuk melaksanakan sholat. Sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah, untuk menyembah Allah semata.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sholat merupakan rukun Islam kedua yang wajib hukumnya dilakukan oleh setiap manusia yang mengakui dirinya beragama Islam / mukalaf (orang yang sudah baligh dan wajib menjalankan hukum agama). Dikerjakan pada waktu-waktu tertentu. Dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Dan di dalam Islam sendiri, sholat dimaknai sebagai tiang agama. Jika ia kokoh, maka kokohlah seluruh tubuhnya. Sholat juga berfungsi untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat.

Allah SWT berfirman:

اتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَأَقِمِ الصَّلٰوةَ  ۖ  إِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ  ۗ  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ  ۗ  وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا 
تَصْنَعُونَ

"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."  (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 45)

Sholat juga merupakan upaya kita berdo'a kepada Allah SWT. Karena dalam setiap bacaan yang kita baca pada setiap gerakan sholat, mengandung arti yang begitu dalam jika kita benar-benar meresapinya.
Sholat juga merupakan perkara paling penting yang akan ditanyakan di akhirat nanti. Jika seorang hamba baik sholatnya, maka akan baiklah semuanya.

Dan orang-orang yang meninggalkan sholat, akan diganjar di dunia dengan 40 hari tidak dicatat amal baiknya oleh malaikat. Satu kali sholat 40 hari. Kalikan saja dengan berapa kali sholat yang sudah pernah ditinggalkan. Naudzubillah. Semoga kita semua yang membaca caption ini dijauhkan dari perkara demikian.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۚ  وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخٰشِعِينَ

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 45)
Mulai sekarang, abaikanlah godaan setan yang seringkali datang menghiasi telinga. Ingatlah, ketika kita menaati kemauannya, batu-batu neraka menunggu untuk kita masuki. Ingatlah. Setan adalah musuh terbesar bagi kita.

Jikapun belum tersentuh hati kita untuk senantiasa melaksanakan sholat secara rutin, maka berdo'alah kepada Allah. Barangkali hati kita telah begitu keras dan gersang. Berdo'alah! Walau hanya dalam hatimu, tanpa menengadahkan tangan kepada Allah. Berdo'alah akan hidayah. Sambil yakini, pasti akan Allah kabulkan.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ  ۖ  وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُونَ

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid 57: Ayat 16)

Saudaraku, Allah tidak pernah sekalipun membenci para pendosa. Melainkan, dosa itulah yang dibenci Allah. Sebelum dunia ini binasa, masih ada kesempatan untuk kau berubah menjadi lebih baik. Tak maukah kau dinanti surga di akhirat sana? 

Yakinilah, dunia ini hanya tempat persinggahan sementara. Dan kampung kita yang sesungguhnya adalah surga.

Mari, berlomba-lombala dalam kebaikan untuk mendapatkannya!


This entry was posted in

Kepada Ibuku yang Tercinta

Kepada ibu Dwi Purwati yang berbahagia di hari ini.. 20 Oktober 2017

Assalamualaikum ibuk 🤗

Alhamdulillah sudah 44 tahun lamanya Allah berikan rezeki nyawa, nafas, jantung yg masih berdetak, materi, anak-anak, orang tua, suami yg sehat wal afiyat dan bahagia. Alhamdulillah buk.

Risma bersyukur lahir di dunia ini sebagai anak ibuk dan bapak. Sebagai kakak dari adek-adek. Alhamulillah.

Terimakasih buk atas -+ 19 tahun yang amat berharga ini. Terima kasih telah melahirkan Risma ke dunia buk. Dan sampai kapanpun Risma tidak akan pernah bisa membalas semua jasa ibuk. Dan bapak.

Buk, tepat di hari ini, usia ibuk sudah berkurang lagi setahun. Sudah hampir 1/2 abad Allah memberikan nikmat-Nya kepada ibuk. Mudah-mudahan, ibuk selalu dalam lindungan dan penjagaan Allah ya. Dikabulkan semua do'a dan keinginan ibuk. Diberikan setiap apa kebutuhan ibuk yang Allah kehendaki. Disehatkan jasmani dan rohaninya selamanya. Diberikan kelancaran berusaha. Diberikan rezeki berupa materi untuk digunakan untuk meningkatkan taraf hidup sendiri, membantu sesama, berbagi, dan naik haji. InsyaAllah.

Semoga ya buk. Risma do'akan selalu. Sebelum kita semua pergi meninggalkan dunia ini, kedua mata kita bisa melihat indahnya Ka'bah secara langsung. Kedua kaki kita dapat berdiri di atas tanah suci Mekkah dengan kuasa Allah. Bisa merasakan bagaimana tenangnya damainya sholat di Masjid Nabawi yang pahala sholat di sana adalah 100.000 pahala dibanding sholat di masjid lain. Bisa merasakan bagaimana indahnya melihat Roudhoh  / taman surga. InsyaAllah ya buk. Semoga Allah memberi kita kesempatan dan rezeki selama kita masih hidup. Aamiin.

Buk, do'akan untuk kita semua selalu ya. Agar kita bisa bersama-sama pergi ke sana.. aamiin.. InsyaAllah.

Anakmu yang mencintaimu selalu,

Risma Ariesta

Mungkin masih banyak kekuranganku menjadi anakmu, buk. Bahkan dalam tulisan ini pun sama. Namun, aku akan terus belajar dan belajar sampai aku lupa caranya terpaksa.

Monday, August 21, 2017

Untuk Temanku yang Berjarak 1439 Kilometer



Menurutmu, apa arti kata "SUKSES" itu?

Bagiku. Sukses itu sebuah usaha, perjuangan menuju pencapaian sempurna. Dan kesuksesan itu tidak hanya diukur dengan dunia. Melainkan akhirat.

Tak hanya berhasil menjadi sarjana ataupun pengusaha kaya raya. Melainkan bisa menjadi ahli surga. Ya, itu adalah kesuksesan impian versiku.

Untukmu, yang berjarak 1439 kilometer dari sini.

Hari ini aku ingin mengabulkan satu permintanmu. Untuk menulis apa-apa tentangmu. Dan maaf, jika pada akhirnya, kau malah tidak berkenan dengan tulisan ini. Tapi apapun itu, yang jelas aku sudah berusaha.

Temanku, dalam tulisan ini aku tak ingin mengucapkan selamat atas hari kelahiranmu yang telah berulang kesekian kali. Aku hanya ingin mengingatkan, bahwa hari ini kau sudah bukan anak-anak lagi. Usiamu kini, di penghujung belasan. Dan sebentar lagi, setahun lagi kau akan menginjak kepala dua. Kau, akan segera menjadi orang dewasa.

Sudah siapkah kau?

Aku hanya ingin berpesan satu hal padamu. Ku harap, mulai hari ini kau tak lagi terlalu banyak bermain-main dengan kehidupan. Karena kau tak pernah tau bagaimana nanti kau akan dibalas.

Semoga di hari bahagiamu ini, semua kebaikan dunia dan akhirat senantiasa menaungimu. Membersamaimu dalam setiap detak jantungmu yang masih berdegup sampai saat ini.

Aku, hanya bisa mendoakan segala kebaikan ini untukmu. Tidak lebih.

Berbahagialah karena kau punyai teman sepertiku. Karena bisa jadi, kisahmu akan mengabadi dalam rangkaian kata yang ku tulis. Dan sosokmu, mungkin juga akan dikenang sejarah dan diketahui oleh anak cucumu kelak. Haha.

Oh ya, bagaimana kabar hatimu? Apa kabar juga amalan yang selama ini kau sudah kerjakan?

Apakah hatimu sudah segagah dan setangguh fisikmu? Apakah amalanmu telah sebanyak oksigen yang kau habiskan selama 19 tahun terakhir ini?

Bagaimana?

Aku tahu hari ini adalah hari paling bahagia yang kau pernah rasa. Tapi, juga jangan lupa bahwa pasti nantinya kau akan binasa. Jadi, biasa saja dalam menanggapinya.

Justru, perbanyaklah berbenah. Curigai dirimu. Apakah kau benar-benar sudah baik, atau hanya berpura-pura baik dihadapan Allah?

Temanku, jangan tipu hatimu sendiri. Saat ini, tidak penting bagimu untuk mencari perhatian orang lain. Sedangkan kau tidak benar-benar menginginkannya.

Selamat berkenalan dengan hatimu. Jangan mudah menyimpulkan bahwa kau jatuh cinta. Sedangkan dalam hatimu masih ada hasrat hanya ingin bercanda. Percayalah, jatuh cinta yang sesungguhnya itu ada masanya.

Yaitu saat seseorang yang dengan lapang dada mau menerimamu apa adanya. Mau membersamaimu membaik. Mau kau ajak untuk menggapai surga-Nya kelak. Dan yang terpenting, mau untuk kau bimbing agar selalu dekat dengan Dia.

Jaga hatimu dengan penjagaan paling hebat. Semoga juga, tetap Allah kokoh dan kuatkan hatimu dengan penjagaan terbaik-Nya.

Jangan pernah melenceng dari garis kehidupan yang telah ditetapkan-Nya sesenti pun.

Bersabarlah ketika ujian datang menghampirimu. Bisa jadi, ketika kau diuji, Allah akan menaikkanmu ke kelas yang lebih tinggi.

Dan bersyukurlah atas segala yang telah ditetapkan-Nya untukmu. Karena kau harus tahu, bahwa itulah yang terbaik untukmu dan hidupmu.

Jangan lupa istiqomah di jalan yang sekarang telah kau pilih ini. Hijrah. Memang bukan mudah. Tapi, syukuri nikmat paling besar yang dikaruniakan Allah pada hatimu. Yaitu Hidayah.

Semoga sukses dunia akhirat juga untukmu.

Inframe kartu ujian Semester Ganjil tahun 2015/2016.



📝@rismariestt