Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Saturday, May 9, 2020

Re-Read Tentang Kamu, Membaca Ulang Mutiara

Sabtu, 9 Mei 2020

di kamar gelapku, desa Nusupan saat hujan deras turun dan menerocohi kasurku.

Ini kali kedua aku membaca buku yang sama dengan ketebalan yang lumayan. Bukan buku berat memang, melainkan novel dengan bahasa yang santai, lugas, dan mudah dipahami. Alasan aku membaca buku itu untuk kedua kalinya adalah untuk mengerjakan tugas penelitianku yang mandeg beberapa lama atas novel itu, dan lainnya karena aku butuh inspirasi bacaan, pun kehidupan. Tidak salah memang jika aku menjatuhkan pilihan pada salah satu novel tebal dari penulis terkenal, Tere Liye demi kembali menggali pelajaran tentang banyak hal. Judul novel itu Tentang Kamu, dengan sampul sepatu sederhana – cenderung lusuh. Namun, isi di dalam buku itu tentu tak sesederhana sampulnya.

Pepatah lama itu benar, rasanya lebih enak mengerjakan sesuatu yang sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Karena selain menghemat waktu, dengan aku bisa mengerjakan tugas sekaligus mendapatkan inspirasi menulis.

Selain itu, ternyata membaca ulang buku yang sama itu tidak selalu membosankan, walaupun kita telah tahu akhirnya. Bagiku, membaca dua atau beberapa kali karya yang sama itu berbeda sama sekali dengan saat pertama kali membacanya, saat seorang pembaca belum tahu apa yang ingin disampaikan penulis, juga tentang bagaimana akhir dari karya tersebut. Namun dengan membaca ulang sebuah karya, seorang pembaca bisa naik level menjadi pengamat, peneliti. Mungkin, akan banyak bagian-bagian yang digaris bawahi atau distabilo dengan warna terang karena dirasa penting untuk dikutip. Atau mungkin juga, akan ada beberapa kata-kata yang dipikirkan lagi dengan seksama.

Saat membaca novel Tentang Kamu untuk kali kedua ini, entah kenapa dan bagaimana emosiku benar-benar teraduk, meski sebelumnya pun sama. Tapi ini lebih dalam. Aku menangis tersedu-sedu saat membaca salah satu bab pada novel tersebut. Meski hanya barisan kata-kata, ajaibnya aku juga bisa membayangkan peristiwa sedih yang berusaha penulis gambarkan. Dan benar saja, Tere Liye sukses membuat air mataku bercucuran.

Aku lupa saat kali pertama membaca novel ini aku menangis atau tidak, tapi yang jelas aku menyelesaikannya secepat kilat. Hanya sehari aku merampungkan novel setebal 500an halaman itu.

Di sisi lain aku juga belajar tentang cara penulisan sang maestro. Jujur, aku juga kagum terhadap orang-orang di balik penerbitan novel-novelnya. Nyaris tanpa cacat. Tidak ada typo atau salah ketik sama sekali, dari halaman satu sampai halaman 500 sekian. Tidak ada peristiwa ganjil atau sesuatu yang tidak bisa dilogika saat membacanya. Data yang dipakai pun sangat lengkap. Aku yakin beliau, Tere Liye sangat akurat saat melakukan riset sebelum meramunya, dan menuliskannya menjadi karya epik. Namun, pasti sulit sekali menciptakan karya seperti itu. butuh waktu bertahun-tahun dan juga banyak jam terbang, pengalaman, dan elemen-elemen lainnya untuk kemudian dikawinkan menjadi satu, dan menghasilkan karya yang tidak hanya indah, tapi juga sangat bermakna dan kaya akan nilai.

Terakhir, aku benar-benar bangga Indonesia memiliki penulis seperti beliau. Aku angkat topi untuk pak Darwis Tere Liye. Selain produktif menelurkan karya setiap tahunnya, sosoknya yang sederhana dan jarang menampilkan diri pribadi – berbicara soal kehidupan pribadinya di media sosial atu media-media lainnya membuatku iri. Sebenarnya, hidup seperti apa yang beliau jalani, hingga bisa menjadi seorang sosok hebat seperti sekarang? Memang aku belum membaca seluruh karya-karya beliau – meminjam salah satu khas tulisannya di novel Tentang Kamu, mudah-mudahan aku berkesempatan membaca seluruhnya besok lusa. Juga, karya-karya para sastrawan Indonesia, dan dunia lainnya. Semoga aku berkesempatan mengenal kehebatan mereka melalui karya-karya abadi mereka dalam bentuk tulisan, utamanya.

Dan juga, mudah-mudahan aku bisa memaksa diriku untuk menjadi pembaca yang baik dan hebat dulu, sebelum akhirnya menjadi penulis baik dan hebat kelak di kemudian hari.


NB : Sengaja aku tidak menyertakan gambar, meskipun memilikinya. Buku ini amat fenomenal sehingga mudah saja untuk mencarinya di mesin pencarian. Lagipula, terbitnya juga sudah cukup lama. Hehe.


xoxo,

Risma Ariesta

Monday, February 25, 2019

Review Buku : Setelah Membaca Okky Madasari


Judul : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Tebit : 2012
Genre : Novel
Jumlah halaman : 275
ISBN : 978-979-22-8009-8
Rating : 8/10

Kemarin saya baru saja menamatkan sebuah novel epik buah karya Okky Madasari. Siapa gerangan beliau? Perempuan kelahiran 30 Oktober 1984 ini merupakan salah satu penulis sekaligus jurnalis berbakat di Indonesia. Melalui novel Maryam yang ditulisnya sebagai buku ketiga ini, Okky dinobatkan sebagai penerima penghargaan Khatulistiwa Literary Award di tahun 2012, yang kemudian berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2014.

Pertama kali saya mengetahui tentang perempuan bernama lengkap Okky Puspa Madasari ini ialah melalui Qureta. Sebuah portal online yang membagikan informasi dari banyak penulis. Saat itu, saya menyaksikan Okky sedang menjadi pembicara di kuliah Qureta. Dalam sebuah video yang saya tonton, beliau sedang menyebutkan karya-karyanya yang terdiri dari beberapa judul novel berikut tema besar yang digarapnya.

Bagi saya, Maryam adalah masterpiece. Tak kalah dengan dua novel sebelumnya, Entrok dan Pasung Jiwa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, membaca Okky Madasari seperti menggali sejarah. Pada novel Entrok ia ceritakan tentang pemerintahan totalitarianisme dan militerianisme pada zaman orde baru. Kemudian Pasung Jiwa yang mengangkat tema besar tentang LGBT. Sedangkan untuk Maryam sendiri, Okky mengulas tentang kehidupan para jama’ah Ahmadiyah yang terusir dari tempat tinggal mereka sendiri.

Maryam yang sudah habis saya baca ini, menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan bernama Maryam yang menganut paham Ahmadi sejak dari kakeknya. Dalam novel tersebut disebutkan bahwa meskipun Islam mereka berbeda dengan Islam kebanyakan tetangga, namun keluarga mereka sudah sejak lama berbaur dengan orang-orang sekitar. Dalam urusan muamalah, mereka memang sama saja dengan masyarakat lainnya. Namun, dari segi ibadah mereka cnederung tertutup dan eksklusif. Hal ini tergambar jelas saat para Ahmadi mengadakan pengajian rutinan, shalat Jum’at di masjid golongan mereka sendiri, bahkan tuntutan bapak ibu Maryam untuk menikah dengan laki-laki Ahmadi yang dari golongan mereka sendiri.

Seiring berjalannya cerita, Maryam sang tokoh utama memulai perjalanan cintanya yang nampak manis. Bersama Gamal, laki-laki yang juga Ahmadi, Maryam merasa dirinya akan bahagia ketika kelak mereka menikah. Karena jika itu terjadi, maka bapak ibunya juga akan senang sebab mendapat menantu yang seiman. Namun ternyata Tuhan berkata lain, Gamal pergi meninggalkan keluarganya, meninggalkan imannya, meninggalkan Maryam. Ia menganggap bahwa apa yang selama ini diyakini oleh kedua orang tuanya ialah sesat.

Lantas, setelah kejadian itu Maryam yang baru saja diwisuda merantau ke Jakarta. Di sana, ia mendapatkan sebuah pekerjaan prestisius di sebuah bank dengan gaji yang lumayan. Selain itu, ia mengenal Alam yang bukan laki-laki Ahmadi, yang berniat untuk menikahinya. Saat itu bapak dan ibunya sudah memperingatkan Maryam dari awal. Jika Alam benar-benar serius ingin mempersuntingnya, maka ia harus menjadi seorang Ahmadi. Namun, justru Maryamlah yang mengambil langkah nekat untuk keluar dari imannya. Mereka menikah tanpa persetujuan bapak dan ibu Maryam. Saat itu, hanya keluarga Alamlah yang menyetujui pernikahan mereka berdua. Dengan syarat, Maryam harus kembali mengucapkan syahadat sebagai tanda ia telah keluar dari ajaran sesat. Namun, ternyata hubungan itu tidak berjalan lama hingga kandas karena perbedaan yang dimiliki Maryam dan Alam tak akan pernah bisa disatukan.

Kegagalan dalam rumah tangga tersebut membuat Maryam ingin pulang menemui keluarganya. Namun, ternyata sudah terlambat. Keluarganya tak lagi bertempat tinggal yang sama seperti dulu karena telah diusir dari rumah mereka sendiri. Intimidasi para tetangga terhadap keyakinan yang keluarga Maryam bawa membuat mereka harus meninggalkan rumah yang telah dibangun dari keringat sendiri. Seolah perjuangan sekian lama yang senantiasa mereka lakukan tidaklah berarti apa-apa karena anggapan “sesat” yang tersemat pada ajaran yang mereka imani.

Beramai-ramai para jama’ah Ahmadiyah mengungsi dengan berdesak-desakan. Mereka berbagi tempat tinggal untuk satu sama lain sampai waktu yang tidak ditentukan. Kegigihan mereka menggenggam erat keimanan meskipun dalam kondisi terpepet, nyatanya adalah klimaks yang disuguhkan penulis untuk menguatkan identitas pemeluk paham ini. Walaupun apa yang mereka yakini berbeda dari orang-orang kebanyakan, namun hubunganya dengan Tuhan sama seperti yang lainnya.


Awalnya, saya pikir novel Maryam ini hanya akan menceritakan tentang seorang Maryam dan kehidupan pribadinya. Namun lebih dari itu, ternyata penulis menggali lebih dalam sampai ke ujung tentang kisah Maryam ini. Selain itu, Maryam menurut saya ditulis dengan cara yang tak biasa, yakni menggunakan alur maju mundur tanpa ditandai oleh pemenggalan paragraf dengan spasi atau sebuah simbol tertentu. Namun demikian, pembaca tetap bisa mengikuti alur yang disajikan dengan membayangkan adegan demi adegan yang meski tak berkesinambungan, tapi tetap bisa dimengerti. Bahasa yang digunakan juga sangat renyah untuk diikuti sampai akhir cerita di novel ini habis.

Saya menggolongkan novel ini sebagai bacaan fiksi yang cukup berat karena tema yang diangkatnya. Namun dari sisi bahasanya sendiri, jujur setelah membaca Okky Madasari, imajinasi dan alam ide saya bertambah barang satu dua tingkat lebih tinggi.

Saturday, October 20, 2018

One Day One Post : TANTANGAN VI - Sandiwara


Setiap hari menjelang tengah malam, gadis itu selalu datang kemari. Menghidupkan lampu panggung, menyetel musik, lantas menari. Tidak ada senyum di wajah ovalnya. Sekalipun musik terkadang memutar tentang nada-nada kebahagiaan. Mimik wajahnya tetap tak berubah, datar dan menyedihkan. Tubuhnya memang piawai menghayati musik dan menginterpretasikan tarian dengan indahnya. Namun sekali lagi, wajahnya tidak. 

Pada kali lain ketika tidak tengah malam, ia datang lagi. Kali ini bersama beberapa orang lainnya. Cukup ramai personil mereka. Empat perempuan dan enam laki-laki. Dua minggu terakhir ini mereka menghabiskan waktu bersama untuk menjajal koreografer, gladi resik sebelum pertunjukan sebenarnya. Mencocokkan musik, tarian, dan mimik wajah. Gadis itu, seperti yang kutahu sejak awal, ia selalu memasang senyum palsu yang tak terdefinisikan. Namun bersama teman-temannya, ia berhasil menutupi kepura-puraan itu dengan senyuman lebar seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku, terlalu tidak bisa ia bohongi.

“Teman-teman, terima kasih atas kerja keras dan latihan kita selama ini. Besok, adalah acara puncak. Jadi, tolong berikan yang terbaik!” pinta salah seorang laki-laki di antara mereka. 

“Siap, coach!” semua menjawab serentak kecuali gadis tanpa ekspresi.

“Terima kasih sekali lagi. Latihan hari ini kita cukupkan sampai di sini saja. Silakan pulang agar kita bisa mempersembahkan yang terbaik besok. Selamat beristirahat,” tambahnya lagi.

Mereka saling bersalaman satu sama lain, tersenyum, lantas pergi meninggalkan ruangan ini. Seperti biasa, gadis itu tetap tinggal. Kali ini, ia tidak sendiri. Karena laki-laki yang dipanggil coach tadi juga masih di sana. Berdiri membelakanginya.

“Bagaimana bisa? Kenapa kamu tega sekali? Kepergianmu saat pertunjukan kami besok, demi menghadiri wisuda istrimu di luar negeri. Kenapa tidak bilang sejak awal?” gadis itu mulai membuka suara.

“Ini yang terbaik, aku tahu. Dengan begitu, mereka akan membenciku selamanya. Lantas, kepergianku pun tak lagi mereka cari. Dan keberadaanku, tak akan pernah lagi mereka rindukan, termasuk kamu,” suara itu kehilangan wibawanya. Seolah-olah, ia memiliki tuan lain, yang bukan laki-laki itu.

“Kenapa kau membiarkan persaan ini tumbuh? Kenapa tidak kau cegah ketika aku mulai melangkah terlalu jauh? Kenapa?” gadis itu mulai berteriak. Suaranya membias ke arahku, lantas memenuhi ruangan ini dengan isak tangis yang memilukan.

“Aku melihat tarianmu bernyawa. Awalnya, aku tidak ingin merusaknya dengan mengatakan yang sebenarnya,” laki-laki itu tidak menoleh ke arah si gadis. Namun aku tahu, ia sebisa mungkin menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Sayangnya, aku selalu mencari tahu tentangmu. Dan ketika aku mengetahuinya, aku memilih untuk diam dan menunggu kepastian jawabanmu. Selamat, karena telah memilih yang terbaik,” gadis itu mulai bisa mengontrol emosinya dan seolah bersikap dewasa.

“Maafkan aku, yang telah datang ke hidupmu, sebagai seorang yang telah berdua. Maaf, aku harus pergi.”

Laki-laki itu pergi dengan air mata yang menggenang di pipi. Sementara gadis itu, terduduk di panggung sambil terisak. Aku, adalah kursi di barisan paling depan yang selalu memperhatikan senyum palsunya, wajah sendunya, dan kali ini, perpisahan dengan cintanya, yang telah menjadi milik orang lain.

#TantanganODOP6 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi

Sunday, October 7, 2018

One Day One Post : TANTANGAN IV - Gagal Radikal


“Wan menurutmu dia cantik nggak?”

Ahmad menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan gambar seorang perempuan bercadar. Dalam foto itu, si perempuan menopang dagunya dengan satu tangan.

“Nggak tahu.”

“Lho, kok gitu sih jawabnya?”

“Ya iyalah, orang mukanya aja nggak kelihatan gitu! Mau dibilang cantik, kalau ternyata cowok gimana?”

“Yee, kamu mah Wan. Sukanya mikir yang aneh-aneh!”

“Alah kamu tuh, yang kebanyakan chatting sama cewek. Bukannya belajar. Emang kamu udah setoran, Mad?”

“…” yang ditanya tidak menjawab.

“Mad, Mad! Kamu udah setoran hafalan Kitab Alfiyyah belum?” tanya Wawan lagi. Kali ini dengan sedikit mengguncang badan Ahmad.

“Eh, apa? Kamu bilang apa tadi Wan?”

“Oalah, kamu nggak ndengerin saya, to? Malah sibuk sama hapenya aja. Ya Allah cah cah piye to iki,” Wawan geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.

“Hehe. Maafin saya, Wan. Kan tau sendiri saya lagi balesin chat,” kilah Ahmad dengan cengiran khasnya.

“Hmm.. Akhir-akhir ini saya perhatikan kamu banyak nggak fokusnya, sih. Suka telat ikut jama’ah, tidur larut malam, jarang bangun tahajud lagi. Cuman sibuk mainan hape saja. Sebenarnya apa yang terjadi sama diri kamu, Mad?”

“Saya nggak kenapa-kenapa, kok. Toh, kayaknya apa yang saya lakukan selama ini juga normal-normal saja. Chattingan saya sama akhwat ini juga biasa-biasa aja, kok. Palingan juga seringnya bahas tentang dakwah atau sekadar basa-basi gitu.”

“Mungkin menurut kamu nggak kenapa-kenapa, Wan. Tapi tentu saja kamu juga paham tentang batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.”

“Iya, Wawan. Saya udah khatam soal bab itu.”

“Bukan apa-apa, Mad. Saya cuman mau berpesan untuk hati-hati sama orang-orang yang sering manggil ikhwan-akhwat di media sosial. Mereka kadang nggak terlalu paham bahasa Arab, belajar agama cuman via internet, lalu parahnya menjadi anggota dari gerakan-gerakan hijrah yang mengatasnamakan dakwah untuk menyebarkan paham-paham agama yang keliru.”

“Kamu ini ngomong apa, sih Wan? Jangan suudzon sama orang dulu, deh kalau belum tahu wujudnya secara langsung. Saya nggak ngerti maksud kamu sama sekali.”

“Maafin saya, Mad. Tapi saya bilang begini agar kamu berhati-hati dan mengantisipasi segala hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Hari ini kamu merasa baik-baik saja saat chattingan sama akhwat bercadar itu. Itu hak kamu jika memiliki perasaan demikian. Dan kata-kata saya tentang gerakan-gerakan itu juga belum tentu benar. Hanya saja, satu pesan saya untuk kamu pegang. Selalu berhati-hati!” Wawan menepuk pundak Ahmad.

“Hahaha. Jangan lebay gitu, deh, Wan. Saya nggak apa-apa kok. Jangan terlalu khawatir sama saya. Saya bisa jaga diri, InsyaAllah,” jelas Ahmad dengan senyum seadanya. Meskipun demikian, Wawan tetap tidak bisa menyembunyikan keraguan dan kecurigaannya terhadap sikap Ahmad.

“Ya. Semoga saja kamu bisa menjaga dirimu dengan baik, sahabat.”

“Aamiin. Terima kasih atas do’anya, teman baik.”

***

Ahmad mematut dirinya di depan cermin. Berkali-kali menyisir rambutnya dengan sesekali membubuhkan gastby agar membuat helaiannya menjadi lebih rapi. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, hingga setengah jam, ia habiskan waktunya hanya untuk menatap pantulan wajah yang itu-itu saja. Ini Sabtu di minggu kedua bulan November. Saatnya Pondok Al-Husyein memberikan perpulangan untuk para santrinya.

Sudah dua bulan lamanya Ahmad tidak pulang, karena keterbatasan kiriman uang dari orang tuanya yang membuat ia harus berhemat. Namun, hari ini Ahmad sudah siap untuk melepas jeratan rindu dengan keluarganya. Ia merasa begitu bersemangat menghadapi hari ini. Sebelum sebuah telepon masuk dari kontak Whatsapp yang paling sering dihubunginya selama empat bulan terakhir, membuyarkan segalanya.

“Halo?”

“Ya. Kamu dimana?”

“Saya di pondok. Tapi sekarang sedang melakukan persiapan untuk pulang ke rumah. Ada apa menelepon?”

“Saya butuh bantuan… Adik saya diculik. Saya tidak tahu harus dengan cara apa menebusnya. Tolong.”

“Astaghfirullah, bagaimana bisa? Lantas, sekarang kamu dimana?”

“Saya di rumah teman. Saya bingung. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Adik saya tidak memiliki siapapun lagi selain saya. Kamu tahu sendiri, kan, bahwa orang tua kami sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu?”

“Iya. Saya masih mengingat semua cerita-cerita kamu. Baiklah, kirimkan alamat tempatmu berada sekarang. Saya akan segera ke sana.”

Telepon ditutup. Rencana Ahmad untuk pulang gagal total. Ia lebih memilih menolong nyawa adik dari seorang perempuan yang baru dikenalnya lewat sosial media itu. Entah mengapa perasaan-perasaan aneh semacam ingin melindungi perempuan ini selalu muncul begitu saja.

Alamat dikirim. Ahmad tidak tahu dimana tempat itu berada. Namun, itu bukanlah sebuah masalah yang besar. Ia pikir, ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Ahmad segera bergegas, merapikan barang-barangnya lagi lalu mengambil kunci motor Wawan dengan cekatan.

“Pinjam motormu.”

“Lho katanya kamu mau pulang?”

“Tidak jadi. Ada hal penting yang harus saya urus dahulu.”

“Memangnya apa?”

“Akan saya ceritakan nanti, insyaAllah.”

“Perempuan bercadar itukah?”

”Saya pergi dulu. Assalamualaikum.”

“Eh, tapi… Waalaikumussalam. Hati-hati!”

Wawan menatap kepergian Ahmad. Ia semakin curiga terhadap sikap temannya yang berubah 180 derajat itu. Satu pertanyaannya tidak dijawab dengan baik. Menurut instingnya, Ahmad sedang jatuh cinta kepada seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya.

***

Ahmad menghentikan laju sepeda motornya pada sebuah rumah di tepi gang yang bersebrangan dengan pohon besar. Ia melihat lagi aplikasi Google Maps yang tadi menunjukkan jalan untuk sampai ke tempat itu. Benar, ia sudah sampai ke tujuan. Namun, rumah itu terlihat kosong, dan seolah memisahkan diri dari dunia luar.

Ponselnya berdering lagi. Melihat nama yang tertera, Ahmad segera mengusapkan jarinya ke atas untuk menerima telepon tersebut.

“Sudah sampai?”

“Emm.. Sepertinya sudah. Tapi saya tidak yakin saya berada di tempat yang benar.”

“Apakah kamu yang memakai kemeja hitam dengan celana jeans?”

“Ya, benar.”

“Baik, saya akan segera datang.”

Telepon ditutup. Terselip keraguan ketika Ahmad memasukkan ponselnya ke saku, lantas melepas helmnya. Seorang perempuan berpakaian serba hitam, bercadar, nampak keluar dari pintu rumah tersebut. Ia segera menghampiri Ahmad dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Diam-diam Ahmad menyembunyikan keterkejutannya, menepis segala jenis prasangka yang sempat terlintas di hatinya. Ia mengikuti langkah perempuan itu sambil beristighfar dalam hati, meminta perlindungan kepada Allah berkali-kali.

***

“Apa yang harus saya bantu untuk membebaskan adikmu dari penculik itu?” tanya Ahmad begitu sampai di dalam. Si perempuan menutup pintu rumah tersebut secara perlahan. Ia meletakkan telunjuknya ke bibir.

“Sssssttt. Jangan keras-keras,” katanya.

“Baiklah, jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?” Ahmad memelankan suaranya. Si perempuan mengulangi gerakannya. Mengendap-endap, menggiring Ahmad ke ruang tengah. Menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah akan menyampaikan informasi mahapenting.

“Nikahi aku.”

“APA?”

“Ya. Kamu tidak salah dengar. Nikahi aku sekarang. Maka adikku akan terbebas dari penculikan.”

“Tapi, tapi apa hubungannya? Apa hubungannya dengan saya dan pernikahan?”

“Hahahahahaha.. Good job! Good job! Drama yang bagus untuk ukuran seorang pemula! Marvelous!” seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari ruangan belakang. Jika hanya dilihat dari tampilan luarnya, laki-laki tersebut hampir menyerupai seorang syeikh dari Timur Tengah atau negara Arab. Lengkap dengan jenggot tebalnya yang tumbuh memanjang.

“Siapa kamu? Apa-apaan ini? Kamu menjebak saya, Fa?” Ahmad panik. Ia menuduh Wafa, nama perempuan bercadar itu.

“Aku tidak menjebakmu. Aku, maksudku kami, justru ingin menyelamatkanmu!” suara dari balik cadar itu terdengar pelan dengan sedikit parau.

“Ya, benar! Kamu sudah tidak perlu lagi khawatir terhadap para thogut di luar sana. Yang menipu negara kita dengan topeng demokrasi. Jika kamu bergabung dengan aliansi ini, maka kita akan membentuk kekuatan yang lebih kuat untuk menegakkan hukum Islam secara murni. Kita akan mengalahkan para kafir yang menguasai pemerintahan!” lelaki berjenggot tebal itu berorasi layaknya berdiri di sebuah podium dengan ribuan penonton. Suaranya keras dan lantang. Dalam kalimat-kalimat yang ia lontarkan, secara tidak langsung terdapat doktrinasi yang disampaikan dengan intonasi dan mimik wajah yang sepertinya sudah lama dilatih.

“Dan jika kamu menjadi suamiku, maka kau berhak atas diriku berikut tiga orang wanita lainnya. Kita akan hidup bahagia, sayang,” Wafa menimpali. Suaranya masih parau. Namun sorot matanya menunjukkan seolah ia tersenyum bahagia.

“Tidak! Kalian semua bohong! Indonesia, negara kita adalah negara kesatuan yang merdeka karena perjuangan para pahlawan. Bhineka tunggal ika, semboyan negara kita bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Selama 73 tahun lamanya kita hidup dalam perdamaian karena toleransi yang sudah mengakar kuat di dalam hati. Kalian semua seharusnya tahu akan hal itu!” Ahmad tak kalah bersungut-sungutnya menghadapi dua orang itu. Sebagai seorang santri yang belajar agama Islam di Indonesia, tentu saja para kyainya telah mengajarkan banyak hal. Tak hanya soal ilmu agama saja, melainkan juga cinta kepada tanah air dan negaranya.

“Persetan dengan toleransi! Tidak ada toleransi di negeri ini. Mayoritas kita, umat Islam justru seolah berada di lautan mayoritas lainnya. Tubuh-tubuh kita tercerai berai, tidak menjadi satu. Karena apa? Karena siapa? Karena para thogut yang haus kekuasaan itu!”

“Anda keliru, pak. Tidak semua informasi yang Anda lihat dan dapatkan dari media-media, dari luaran sana itu merupakan sesuatu yang baik. jangan pernah menelan mentah-mentah sebuah informasi. Karena semua orang yang menyebarkannya bisa menjadi apapun yang mereka mau, tanpa pertimbangan benar atau salah. Panggung dunia maya yang tercipta begitu saja, dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak ingin melihat negeri kita aman dan damai!”

“Ah! Banyak omong kamu! Lebih baik kamu bergabung juga dengan yang lainnya!” laki-laki berjenggot itu menarik tangan Ahmad dengan paksa. Sementara Wafa juga ikut membantunya. Sekuat mungkin Ahmad mencoba melepaskan diri, ia tetap tidak bisa pergi dari rumah itu. Pintunya terkunci. Hanya satu harapan yang masih tersisa baginya. Menghubungi Wawan dengan ponselnya. Namun bagaimana caranya?

***

Di sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, Ahmad bersama empat orang lainnya diikat dan dijadikan sandera. Ada tiga laki-laki dan satu perempuan bercadar di antara mereka. Tangan dan kaki mereka diikat, sedangkan mulut mereka dilakban.

“Wafa! Kenapa kamu lakukan ini pada saya? Bukankah kamu bilang bahwa adikmu diculik, dan hanya kamu satu-satunya orang yang ia miliki? Kenapa kamu justru menjebak saya dengan drama semacam ini?”

“Aku tidak sedang memainkan drama, sayang. Lihat di sebelah kirimu. Dia adikku. Dan dia memang diculik sebelum ini.”

“Apa? Kamu gila! Aku tidak mengerti cara berpikirmu!”

“Maka setelah ini mengertilah.”

“Hahaha. Selamat tinggal para pecundang!” ucap lelaki berjenggot dengan seringai tipis, lantas melangkah keluar hendak menutup pintu.

“Kakak! Kakak jahat! Kenapa kakak tidak mengingat pesan dari almarhum ayah kita?” perempuan bercadar yang diikat berteriak dengan suara parau.

“Mereka sudah meninggal. Tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka. Aku amat kasihan padamu. Andai kata hatimu terbuka dengan seruan Syeikh Ghufron, nasibmu pasti tidak akan semalang ini, adikku,” mendengar jawaban Wafa, lelaki berjenggot yang disebut Syeikh Ghufron itu kembali menyeringai sembari menutup pintu dengan keras dan menguncinya.

Perempuan bercadar yang merupakan adik Wafa tadi tersedu sembari menundukan kepala. Hanya dia sendiri yang mulutnya tidak dilakban. Sebagai seorang kakak, ternyata Wafa masih memiliki kepedulian terhadap adik semata wayangnya itu. Tiga kali sehari Wafa menyuapi adiknya, walau seringnya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Ahmad menatap adik Wafa dengan iba. Ia ikut tertunduk karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya pun dilakban.

“Kakakku sebenarnya adalah orang yang baik. Kita dibesarkan dalam asuhan ayah dan ibu yang sangat menghargai perbedaan. Mereka mengajari kami apapun, termasuk dalam hal agama. Setelah ini, jangan pernah salahkan pakaian yang kami pakai. Karena pribadi seseorang tidak bisa dinilai hanya sekadar dari tampilan luarnya. Oh ya, namaku Alsa,” ucapnya memperkenalkan diri sembari menjelaskan sedikit tentang latar belakang keluarganya. Ahmad hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Karena tak ada lagi bagian tubuh lainnya yang bisa ia gerakkan secara bebas.

“Namun semenjak orang tua kami meninggal, Kak Wafa sempat ingin melepas cadarnya dan hampir tenggelam ke dunia bebas. Lantas, sebuah peristiwa membuatnya menyesal sedemikian hebat, hingga kemudian ia bertemu dengan orang itu,” Alsa menghembuskan nafasnya berat. Ia berhenti sejenak tatkala menyebut ‘orang itu’.

“Entah apa yang ia lakukan, sehingga membuat kakakku menjadi seperti sekarang. Kakak sangat patuh terhadap semua perintahnya, meskipun sesekali kulihat kakak menangis saat menyuapiku. Namun, wajahnya seolah tak menampilkan ekspresi apapun. Ia telah benar-benar menjadi seorang robot hidup. Kurasa, otak kakak telah dicuci sedemikian rupa.” lanjut Alsa. Tidak ada yang bisa Ahmad lakukan selain terkadang mengangguk, menggeleng, atau berkedip cepat.

***

“Cepat katakan dimana teman saya berada!” Wawan mengguncang-guncang badan Ghufron. Ia bersama para santri lainnya berhasil mengepung rumah itu. Sementara Pak Kyai bersama polisi, menunggu di luar rumah.

“Apa maksudmu? Jangan ganggu ketentraman hidup saya!”

“Cih! Justru Anda yang meresahkan umat ini dengan dakwah Anda yang keliru! Anda cuci otak orang-orang awam yang belum paham betul terhadap agama! Bertaubatlah sebelum terlambat!”

“Justru kalian yang harusnya bertaubat, karena telah melakukan penyerbuan ini!”

“Bang, ada suara perempuan meminta tolong di ruangan belakang!” pekik Tio, salah seorang santri. Wawan memberikan kode pada yang lain untuk mengikuti Tio. Sementara Ghufron dipitingnya dengan jurus andalan yang paling ia kuasai dalam pencak silat.

“Kamu harus bertemu Pak Kyai secepatnya. Ikut saya!” Wawan menggiring tubuh itu secara paksa. Dibantu oleh dua rekannya yang lain, Ghufron dibawa keluar rumah untuk menemui Pak Kyai. Sementara itu, Wafa telah lebih dahulu ditangkap. Ia dimasukkan ke mobil polisi untuk kemudian dibawa ke kantor polisi agar diperiksa lebih lanjut.

“Dasar kalian para pembela thogut! Bisanya Cuma menangkap dan mengadili orang-orang tak bersalah! Sedangkan yang dilindungi justru antek-antek kafir yang merusak negeri ini! Lihat saja pembalasan Allah di pengadilan tanpa akhir nanti!” pekik Ghufron ketika melihat banyaknya polisi yang berjaga di depan rumahnya. Sementara Pak Kyai membaca beberapa wirid untuk tetap tenang. Beliau sudah mengetahui betul perangai orang-orang seperti Ghufron. Terlalu bersemangat belajar ilmu agama, namun ternyata malah tersesat di jalan yang salah.

“Jangan bawa mereka ke kantor polisi. Tapi bawalah ke pondok untuk mendapatkan rehabilitasi dariku dan para santri lainnya. Mereka bukanlah seorang penjahat. Melainkan, hanya keliru saja dalam hal cara berpikir dan memahami sesuatu,” Pak Kyai berbicara kepada Wawan dan beberapa polisi yang berada di sekitar mobil tempat Wafa sudah ada di dalamnya.

“Tapi Pak Kyai, bagaimana jika dia nantinya…”

“Jangan suudzon terhadap saudara kita. Apakah aku pernah mengajarimu untuk berlaku kasar terhadap orang lain? Maafkanlah kesalahannya. Karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Jadi, kupikir kita harus memberi mereka kesempatan untuk menyadari kesalahan, dan kembali ke jalan yang benar,” Pak Kyai memotong kata-kata Wawan yang menyayangkan keputusan beliau untuk membawa Ghufron dan Wafa ke pondok.

“Baik, Pak Kyai. Sendika dhawuh,” ucap Wawan pada akhirnya.

Biar bagaimanapun, pemahaman Ghufron sebelumnya tentang mendirikan sistem pemerintahan baru di Indonesia, merupakan pemikiran yang bisa dikategorikan sebagai gerakan separatis. Karena, mereka tidak bisa menerima hukum tata negara dan pemerintahan Indonesia sebagaimana yang telah diwariskan para pahlawan, sebelum negeri ini merdeka.

Pak Kyai tau akan hal itu. Seperti kata beliau, bahwa orang-orang seperti Ghufron dan Wafa bukanlah seorang penjahat. Melainkan, mereka hanya butuh diluruskan dan diberi pemahaman yang benar tentang arti sebuah bangsa dan cinta tanah air, sebagai seorang pemeluk agama yang baik. Maka dari itu, menempatkan Ghufron dan Wafa di lingkungan pondok dengan atmosfer yang mendukung, bisa jadi akan memperluas pemikiran mereka tak hanya tentang agama, namun juga bangsa dan negara.

***

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Ahmad setelah mereka sampai di pondok. Kelima sandera berhasil dibebaskan dan mendapat pertolongan intensif, termasuk dirinya dan Alsa.

“Jangan bodoh. Saya sudah curiga kepadamu sejak awal. Saya memutuskan untuk mengikutimu dari belakang setelah kamu bilang meminjam motor, tanpa menjawab satu pertanyaan saya," Wawan menjelaskan. Mereka berjalan beriringan melewati lapangan pondok yang luas.

“Lalu bagaimana dengan Pak Kyai?”

“Sejak kamu memperlihatkan foto perempuan bercadar itu kepada saya, saya langsung mencari tahu tentang lambang pada cincin yang ia kenakan. Lantas, saya memberitahu Pak Kyai akan hal ini tanpa sepengetahuanmu. Saat itu, beliau langsung tahu dan hafal tabiat apa saja yang menjadi ciri khas gerakan ini. Namun, sebelumnya saya juga tidak menyangka bahwa Pak Kyai justru akan membawa mereka kemari.”

“Maafkan saya, Wan. Ternyata saya kurang berhati-hati.”

“Tidak apa-apa, sahabat. Saya sudah sangat bersyukur bahwa kamu tetap mempertahankan kecintaanmu terhadap tanah air kita, dan reputasi kita sebagai seorang santri. Sebenarnya, ini juga termasuk sebagai tanggung jawab kita kepada Allah kelak,” Wawan merangkul bahu Ahmad, disusul balasan yang lebih erat.

“Terima kasih, sahabat baik!"

SELESAI

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Friday, September 28, 2018

Cerbung : Titik Nol

Syth belum juga beranjak dari meja kerjanya. Sejak bada Subuh sampai menjelang Ashar ini, ia hampir tak bergerak sesentipun dari gambar calon bangunan yang menjadi proyek terbarunya itu. Padahal, adzan Zhuhur sudah berkumandang sejak tadi dan berlalu beberapa jam hingga detik ini.
Beberapa kali ibunya mengetuk pintu ruang kerjanya yang terkunci, disertai teriakan "Sholat Dzuhur dulu Syth. Lanjutkan pekerjaanmu setelah sholat!" sebanyak beberapa kali. Tapi, sesekali hanya dijawab singkat "Iya bu!" Atau bahkan sekadar gumaman "Hmm.." agak keras.

Sudah setahun semenjak Syth dinyatakan lulus dari Fakultas Teknik di Institut Teknologi Bandung. Dan selama itu pula, ia sudah menghasilkan berjuta-juta rupiah dari proyek-proyek pembangunan yang ia kerjakan. Karirnya menanjak pesat dalam waktu yang singkat.

Ya, selepas wisuda, ada salah seorang investor yang amat menyukai skripsi Syth dan hasil kerjanya. Sehingga, hubungan kerja sama mereka pun terjalin sampai hari ini. Baru tahun pertama berjalan, namun sudah banyak koleksi mainan-mainan mahal yang terpajang di meja belajarnya.

Menurut hitung-hitungan kesuksesan duniawi, Syth boleh dikatakan telah lulus standar kelayakan. Bahkan mungkin lebih dari itu.

Tapi, itu semua nyatanta tidak membuat ibunya bahagia. Karena semenjak dunia dalam genggaman Syth, ia melupakan statusnya sebagai seorang hamba. Ia mulai jarang sholat, atau sholat tapi di akhir waktu, atau sholat, tapi buru-buru. Jarang tersenyum dan menyapa ibunya, kecuali saat sedang membutuhkannya. Dan lainnya. Syth berubah 180 derajat karena dunia yang Tuhan berikan kepadanya.

Di dalam do'a pada tiap sepertiga malam, ibu Syth menumpahkan segala kegundahan tentang anak semata wayangnya itu kepada Rabbnya. Ia curahkan segala kesedihan hanya kepada Rabbnya. Sambil meraung, memohon, agar kelak Rabb mau mengembalikan anaknya ke jalan yang seharusnya.

Hingga pada suatu ketika, segerombolan orang mendatangi rumah Syth dan ibunya. Dengan tampang sangar mereka, mengobrak-abrik seisi perabot rumah tanpa ampun, tanpa basa basi sedikitpun.

"Dimana anakmu duhai wanita tua?" Kata salah seorang bermata besar di antara mereka.

Ibu Syth yang ketakutan, sejak tadi hanya bisa menangis dan gemetaran tubuhnya. Ia terduduk di lantai, sukar untuk bangkit.

"Dia... dia.. d-dia t-tidak ada di sini.." ucapnya kepayahan.

"BOHONG!" Kata si mata besar tak percaya.

"Tunjukkan di mana ruang kerjanya! Atau rumah ini akan ku bakar!" Kata yang lain tak kalah garang.

Ibu Syth yang ketakutan masih saja menangis, menundukkan kepalanya, sambil bergumam lirih, "A-aku.. a-ku tidak tahu.."

"Omong kosong! Ayo kita bakar saja rumah ini!"

To Be Continued

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sunday, September 23, 2018

One Day One Post : TANTANGAN II Part 2 - Broken Home (Poor Family)



“Apa yang bisa diharapkan dari seorang pengangguran sepertiku? Tidak ada! Kalaupun kamu tidak sanggup menghadapi kemelaratan keluarga kita, sebaiknya cari saja laki-laki lain yang mau memberikan segala apa yang kamu minta!”
“Kamu terlalu sensitif, mas! Bukan itu yang kumaksudkan. Aku memintamu bekerja, karena tanggung jawab seorang kepala keluarga adalah menafkahi lahir dan batin. Jika kegiatanmu hanya duduk diam sambil merokok di teras seperti ini, maka secara tidak langsung kamu sudah mendzalimi hakku dan Nurma sebagai seorang yang harus kamu nafkahi!”
“Kenapa tidak kamu saja yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Toh, diamku juga untuk menunggu pesanan lukisan.”
“Lantas, sampai kapan harus menunggu? Kita sudah tidak memiliki persediaan beras lagi untuk makan besok. Apakah saya harus memasak batu?”
“Jaga bicaramu! Setidaknya, hormatilah aku sebagai suami yang harus kau taati!”
“Sudahlah mas, aku muak dengan segala alasanmu! Lebih baik aku pergi saja!”
“Ya, pergi saja! Carilah kehidupan yang lebih baik di luar sana!”
Nurma menyaksikan kejadian itu dibalik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Sejak tadi, belajarnya terganggu karena teriakan-teriakan kemarahan orang tuanya itu. Ia tidak terlalu mengerti tentang hal apa yang sedang kedua orang tuanya perdebatkan. Usianya masih terlalu kecil untuk tahu. Yang jelas, ia memegang teguh perkataan ibunya untuk mencerdaskan dirinya sendiri terlebih dahulu. Agar kelak jika ia besar, bisa menikah dengan laki-laki yang juga terpelajar dan mampu memahami seorang perempuan dengan baik.
Namun, sekuat apapun seorang perempuan menahan perasaannya, ia pasti akan pundung juga. Akan rapuh juga. Sudah berhari-hari sebenarnya, ibu Nurma berusaha membagi jatah menanak nasi untuk dimakan dalam satu hari, oleh tiga orang. Sementara itu, tabungan pribadinya juga sudah menipis untuk bertahan hidup sehari-hari. Sedangkan uang pemberian suaminya belum juga ia terima lagi semenjak satu bulan yang lalu.
Nurma amat tahu perjuangan ibunya untuk bisa menghidupi keluarga mereka sendirian. Dari mulai kerja serabutan, menjadi buruh cuci, dan lain sebagainya. awalnya, Nurma pikir ibu melakukannya dengan senang hati, dan tidak memendam kekesalan pada ayahnya. Ternyata ia salah sangka. Setiap kekesalan yang dipendam itu, mungkin sudah menjadi bom waktu yang meledak saat semua rasa sakit sudah tidak sanggup ibunya rasakan sendiri.
Ayah Nurma adalah seorang pelukis yang hanya mengerjakan pekerjaannya jika ada yang memesan lukisan. Itupun amat jarang sekali. Mengingat orang-orang di zaman millenial ini cenderung tergantung pada benda-benda elektronik. Lukisan pun mulai terkikis dengan adanya display layar yang bahkan bisa menampilkan lebih dari satu gambar.

“Baik, saya pergi. Lebih dari itu, kamu pasti mengizinkan. Saya juga akan membawa Nurma untuk ikut serta. Jika perlu, jangan cari saya lagi.”
“Pergilah! Pergi kalian! Aku tidak butuh peremuan pemalas sepertimu!”
“Apa katamu? Sekarang siapa yang pemalas? Pantaskah seorang suami yang masih sehat fisik dan jiwanya, membiarkan begitu saja istrinya bekerja serabutan, siang dan malam. Sementara masih banyak pekerjaan rumah yang juga harus kuselesaikan, sementara kau hanya tinggal ongkang kaki di teras rumah?”
“CUKUP!” suara cempreng itu memecah ketegangan pertengkaran yang berlangsung.
“Ayah sama ibu, bisa tidak untuk tidak bertengkar terus? Sehariii saja. Agar Nurma bisa konsentrasi belajar dan menyerap ilmu dengan baik. Nurma capek, jika harus mendengarkan kalian berdebat,” gadis kecil itu memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Isak tangisnya sudah tak tertahankan lagi. Ia menangis sejadinya.
Ayah dan ibunya sontak menoleh ke arah suara itu. Pandangan mereka sama-sama iba menatap anak semata wayang mereka menangis tersedu-sedu. Sementara, Nurma terduduk begitu saja setelah mengatakan unek-uneknya itu. Hingga tanpa diduga, sebuah suara membuat sayatan dalam hatinya kian menganga.
“Urus saja anakmu yang cengeng itu! Kalian sama saja tidak bisa diandalkan!” sang ayah lalu berlalu pergi begitu saja, setelah membuang puntung rokoknya sembarangan ke lantai tanah rumah mereka.

#TantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi