Showing posts with label Sad. Show all posts
Showing posts with label Sad. Show all posts

Wednesday, April 22, 2020

Sepucuk Surat Untuk Alam Semesta

Sumber : Facebook - Qureta


Nusupan, 22 April 2020.

Malam hari yang panas, setelah Isya' pukul 20.36 WIB


HAI?! Apa kabar? Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, semesta. Mungkin, ke depannya aku akan lebih sering menulis surat-surat lain untuk menyapamu. Meski kau juga tahu, bahwa aku bicara dengan entah siapa, yang jelas aku hanya ingin menulis ini.

Hmmmm…. Fiuhhh… Ini suara napasku. Aku menariknya dalam-dalam dan membuangnya sama dalam. Rasanya, oksigen hari ini masih segar seperti biasa. Bahkan kadang-kadang, entah perasaanku saja atau memang benar, terasa lebih segar daripada yang dulu-dulu.

Baiklah, aku harus mulai dari mana, ya? Mmm.. Oh ya, aku akan sedikit bercerita sebentar. Ini tentang aku dan diriku sendiri. Mungkin juga diri banyak orang. Jadi begini, aku akan mulai membicarakan soal waktu.

Jika kukira-kira, hari saat aku menuliskan ini (22 April 2020) sudah satu bulan lamanya rupanya orang-orang di seluruh dunia hanya tinggal di rumah, dan melakukan segala sesuatu dari rumah. Kerja, ibadah, belajar, dan semua kebiasaan sehari-hari di rumah saja. Tiba-tiba pikiranku terlempar ke ingatan saat aku masih duduk di bangku sekolah. Dulu, masa libur paling lama hanyalah dua minggu, kadang bisa lebih beberapa hari, sih. Tapi rasanya sudah bosan sekali tinggal di rumah. Padahal saat masuk sekolah setiap hari, yang ada di pikiran justru liburan. (Jangan tanya aku menangi masa presiden Abdur Rachman Wahid atau tidak, karena aku juga tak pernah merasakan rasanya libur sebulan saat ramadhan, kecuali saat pandemi covid-19 ini berlangsung.) Itu berarti, aku belum terlalu tua, kan?

Kemudian bertahun-tahun setelahnya, entah bagaimana engkau, sang alam semesta berkonspirasi sehingga menyebabkan seluruh dunia lumpuh.  Maka izinkanlah aku menanyakan sesuatu padamu;

Semesta, apakah ini caramu menghukum kami?

Kami yang terlalu rakus meraup keuntungan atas kesuburanmu.

Kami yang terus mengotori alammu dengan sampah-sampah kami.

Kami yang tidak peduli pada kelestarianmu.

Lalu kemarahanmu yang tiba-tiba, menyadarkan kami betapa selama ini kami jarang bahkan tidak pernah memedulikanmu. Padahal, hidup kami jelas bergantung padamu, semesta. Engkau yang diciptakan Tuhan dengan kuasanya yang luar biasa itu jelas suatu anugerah dan nikmat yang tak terkira buat kami. Lalu, dengan sadar atau tidak, pesonamu yang indah itu melenakan diri kami. Kami tenggelam dalam debur keinginan kami sendiri terhadapmu. Kalap oleh hal-hal yang sejatinya tidak seharusnya kami nikmati sekarang.

Memang rasanya semua ini salah kami, sehingga kelalaian kami mencelakai diri kami sendiri.

Kami yang terlalu tamak mengejarmu sehingga melupakan tugas kami sendiri. Kami yang terlalu tidak ingin kehilanganmu. Kami yang terlalu percaya diri bahwa selamanya kamu memang tercipta untuk kami. Bahwa kami tidak akan kehilangan kamu. Tapi, penyakit manusia yang paling parah dan menyebalkan adalah menjadi seorang pelupa. Kami lupa akan hakikat kami hidup di dunia ini.

Lalu waktu terus berjalan mengikuti perputarannya sampai masa yang tak terbatas. Dan aku masih di sini saja dengan diriku sendiri, merenungi dan menekuri setiap peristiwa yang terjadi.

Semesta, kau pasti tahu bahwa manusia sepertiku diberi akal untuk berpikir, kan? Tapi kadang-kadang, orang sepertiku ini tidak bijak menggunakannya. Salah satunya ya ini, aku tahu aku sadar bahwa kelakuanku selama ini mungkin telah merugikan alam. Tapi apa yang akhirnya bisa kuperbuat? Setidaknya untuk diriku sendiri. Apa? Mungkin membuang sampah pada tempatnya, memungut sampah yang tidak pada tempatnya, lalu membuagnya pada tempatnya. Dan setelah itu, apa kabar dengan sampah-sampah malang itu? Berakhir ke pembuangan terakhir. Beberapa bermanfaat karena menjadi bahan penyubur tanah, didaur ulang menjadi barang baru lagi, dan tetap menjadi sampah. Beruntung jika ia bisa terurai. Jika tidak? Maka selamanya sampai sisa hidupnya yang panjang itu, ia akan tetap menjadi sampah. Tapi, yang lebih buruk adalah dibakar dan melukai lapisan ozon.

Ah, apakah belum terlambat jika sekarang aku bilang aku ingin meminta maaf?

Semesta, bagaimana bisa aku dan bangsaku terlalu jahat padamu?

Lalu saat wabah yang orang-orang sebut dengan covid-19 datang ke dunia kita, harus kunamai apa hubungan kita setelahnya?

Sunday, July 2, 2017

On Going : Perintilan Hari Ini

Hari ini baru hari ketiga we kembali menginjakkan kaki di tanah Jiran ini. Eh, udah diajak main aja sama kakak senior. Nggak main sih sebenernya. Cuman disuruh nemenin beli sesuatu.
.
Wqwq plisdeh. We kira cuman bakalan sebentar. Beli barang yang dituju, lalu pulang. Eh ternyata enggak. Doi malah ngajak uwe buat ke Game Zone. Hahaha.
.
Padahal, we bukan orang yang suka nge-game. Hape aja nggak ada aplikasi game-nya. Eh, ini diajakin ke "gudang"-nya game sungguhan. Plisdeh. Seorang uwe baru pertama kali seumur hidup buat bener-bener mainin permainan yang ada di sana.
.
Karena main gobak sodor, petak umpet, kasti, udah uwe alamin waktu dulu kecil. Sekarang permainan-permainan itu bermetamorfosa menjadi sebuah candu. Ya candu yang bisa diterima positif atau negatif. Tergantung siapa yang nerimanya.
.
FYI aja, we orangnya jarang banget bisa have fun. Nikmatin hal-hal gila tanpa beban. Yah, jarang. Bahkan hampir nggak pernah. Nggak tau deh. Mungkin hidup we terlalu serius. Terlalu sepaneng. Terlalu saklek. Dan kadang we merasa itu nggak enak. Tapi pun, kadang enak-enak aja. Tergantung mood we nikmatinnya gimana.
.
Tapi hari ini, kakak senior we ngajak we gila-gilaan sampe akhirnya we gila beneran -_- gakgak candaa.
.
We main balap mobil, ngedance, dan game yang kayak Guitar Hero tapi pemainnya harus loncat-loncat di atas stage yang uwe nggak tau apa nama permainan ini. Yah. Loncat-loncat, ketawa-ketawa, teriak-teriak. That's all hal gila yang uwe lakuin hari ini.
.
Saat main permainan yang di stage itu, ada satu lagu yang ternyata we suka denger iramanya. Last Rebirth. Nggak taulah we. Itu judul lagunya atau nama penyanyinya. Yang penting we suka iramanya. Kek anime-anime gimana gitu. Jadi enak.
.
Dan payahnya. We pulang larut lagi. Hahaha. Tapi pulang larut nggak mesti nakal kok. We tetap berpegang teguh pada diri we sendiri. We gak akan nakal. Walaupun di perantauan ini we gak sama ortu. Walaupun sebenernya banyak godaan dan peluang buat we bisa nakal. Tapi nggak. Nggak akan dan nggak bakal we pilih. Sekalipun nakal adalah opsi terakhir yang ada di dunia ini. We pilih mati aja. Pindah alam ke akhirat.
.
Ketahuilah gengs, setiap apa yang kita lakukan, kita pilih, dan kita putuskan di dunia ini tidak terlepas dari penglihatan Allah di dalamnya.
.
We takut. Kalau nanti we jadi nakal, we nggak bisa balik jadi baik lagi. Walaupun sekarang we juga masih belum baik. Tapi setidaknya, we akan terus mencoba menjadi baik. Karena kebaikan itu bukan dilihat dari siapa yang melakukan. Tapi apa yang dilakukan.
.
Jadi, biar bagaimanapun juga situasi dan kondisinya, we akan tetap memilih menjadi baik. Dan berusaha untuk lebih baik.
.
Kebaikan itu amal. Tabungan kita pribadi untuk masa depan. Apabila kita melakukan kebaikan untuk orang lain atau diri kita sendiri, mungkin kita lelah. Tapi, jangan pernah mengeluh apalagi berputus asa. Karena dengan kita terus melakukan kebaikan, lelahnya akan hilang. Dan pahalanya akan tetap ada.
.
Jadi, jangan bosan berbuat baik.
.
.
.
In the Train.
.
Ternyata nggak cuman di Indonesia aja ada orang-orang yang yang nggak taat sama aturan. Keknya penyakit itu hampir menjalari semua manusia di dunia ini, deh.
.
Buktinya, saat uwe udah berada di train khusus cewek, masih aja ada cowok di sana. Padahal, peraturannya udah disiarkan dan dijelaskan lewat  pengeras suara berkali-kali. Apa mungkin kurang jelas? Atau mereka yang nggak denger?
.
We heran. Kenapa gitu. Kayaknya peraturan itu seperti diciptakan memang untuk dilanggar. Hidup jadi kayak nggak seru kalo nggak ngelanggar peraturan.
.
Ah. Jadi keinget we sama peraturan yang seharusnya banget kita taatin. Apalagi kalau bukan Al-Qur'an. Selaku muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kayak nggak pantes banget yah. Kita hidup di dunia ini tanpa menaati peraturan yang udah dibuat Allah di dalam Al-Qur'an. Malah kadang, ianya kita cuekin. Nggak kita baca dan resapi artinya. Kita malah sibuk sama gejet yang entah akan bisa membawa kita ke surga-Nya atau enggak. Dan malah mengesampingkan Al-Qur'an yang bahkan udah jelas dijamin Allah bisa membawa kita ke surga-Nya.
.
Astaghfirullah. Ini tamparan buat we dan kalian semua gengs. Renungilah diri ini. Tangisilah jiwa ini. Yang kosong dan kering kerontang tanpa adanya niatan untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik.
.
Menangislah kita tatkala kita tidak bisa lagi menangis karena hal-hal yang berbau keagamaan atau kemanusiaan. Tangisilah diri kita yang cupu sekali imannya. Tangisilah hati kita yang tidak bisa lagi merasa. Yang keras ini. Yang sungguh terlalu tidak bisa disentuh oleh apapun.
.
Jangan hanya menangis karena putus cinta. Jangan hanya menangis karena dilukai manusia. Sungguh. Kita ini terlalu cupu dibanding anak-anak kecil Suriah. Kita terlalu lemah daripada mereka.
.
Mereka menangis karena kehilangan keluarga tercinta, kehilangan rumah, kegilangan kasih sayang, kehilangan segalanya. Tapi, mereka bisa lantas bangkit. Karena apa? Karena mereka masih punya Allah. Masih ada harapan untuk mereka menuai kebahagiaan yang hqq. Yang sebenar.
.
Malulah. Malulah saat diri masih terlalu naif dengan dunia. Termasuk diri ini. Yang juga tak pernah luput dari dosa. Astaghfirullah. 😢
.
.
.
Still in the train.
.
Wow! Transportasi umum di negara ini selalu penuh sesak oleh orang-orang asli negara ini. Dari keturunan Melayu, Tionghoa, dan India.
.
Ya. Setahu uwe ada 3 suku besar seperti tersebut diatas yang menjadi penduduk asli negara Malaysia. Kek yang di Upin & Ipin itu lho. Tokoh-tokohnya kan juga mengambil dari 3 suku besar tersebut. Tapi sebenernya ada banyak juga ding. Kata Kak Wikipedia ada 19 suku yang disebutkan. Eh, kalau di Malaysia disebutnya kaum ding bukan suku.
.
Upin, Ipin, Mail, Ehsan, Fizi, Ijat, Zul, kak Ros, Opah, Atok Dalang, Bang Saleh, dll kan dari suku Melayu tuh. Sedangkan Mei-Mei, Koh Atong, dll dari suku Tionghoa. Jarjit, Uncle Mutu, Devi, dll dari suku India.
.
Kalau ditempatku sih, kebanyakan suku India Tamil. Dan orang-orangnya pun nggak seperti yang kayak di film-film itu. Searching aja deh kalau kepo suku India Tamil kayak gimana.
.
Dan saat masih di train tadi, ada satu cewek India Tamil yang we lihat. Dia kebetulan kebagian duduk di bangku penumpang. Sedangkan we berdiri. Karena emang di train itu, nggak disediakan banyak kursi buat penumpang duduk. Jadi, berdirilah we.
.
Dan saat kebetulan mata we menemukan sosok dia, ternyata dianya punya mata cokelat tua yang terang. Tapi cokelatnya nggak kayak mata uwe yang buthek. Cokelatnya tuh bening gila. Dalam hati we langsung mengakui kalau dia cantik. Padahal, dia nggak seputih cewek-cewek Tionghoa ataupun Korea. Ya, cantik emang nggak harus selalu putih. Ups. Hehe uwe nggak bermaksud buat rasis ya. Karena ini berdasarkan sudut pandang we pribadi. Don't judge me. Wqwq.
.
Tapi, menurut we lagi. Cewek-cewek itu masih kalah cantik sih sama muslimah berhijab lebar. Atau muslimah berniqab yang tadi nggak sengaja we temuin pas lagi nunggu train yang lama kali tu.
.
Ya, saat uwe masih nunggu train tadi, tetiba ada 2 akhwat berniqab (cadar) duduk di samping we. Pada saat itu juga, we membatin, "MaasyaAllah. Subhanallah. Kapan we bisa se-istiqomah mereka? 😢😢😢"
.
Ya. Harus pakai emot berkaca-kaca tiga kali. Karena emang we selalu salut sama muslimah-muslimah yang mati-matian buat tetep bisa menjaga izzah dan iffah-nya.
.
Izzah adalah kehormatan perempuan sebagai seorang muslimah. Sedangkan Iffah adalah bagaimana seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka.
.
Ya. We abis searching tentang arti kedua kata tersebut. Karena memang, we sangat fakir ilmu dalam hal-hal semacam itu. We sadar. We paham. We belum sepenuhnya baik. Jadi, we emang harus terus belajar dan belajar. Sampai nanti. Sampai nafas we udah sampai di kerongkongan.
.
Betewe nggak hanya itu. We pun juga melihat seorang laki-laki nyunnah berjenggot panjang. Dengan pakaian yang tidak isbal. Dan we selalu salut sama orang-orang seperti ini. Yang tetap menjaga. Dan berusaha untuk terjaga. Yang bisa menjalankan sunnah Rasulullah SAW ditengah gemerlapnya zaman yang udah makin nggak karuan ini.
.
Lalu we bertanya lagi dalam hati, "Apakah kelak we bisa menemukan lelaki seperti ini dalam hidup we nanti? Apakah we bisa bersama dengan seseorang yang berpegang pada sunnah dan selalu mengutamakan dakwah? Atau justru, akan ada sesosok laki-laki yang datang ke bapak we kelak. Dan berjanji akan memperbaiki diri bersama-sama sama uwe?"
.
Ya Allah. Maut, rezeki, jodoh. Memang telah Kau atur semuanya. Memang telah kau persiapkan segalanya. Lantas, kenapa we terus-terusan enggak tenang mikirin  hal-hal yang udah pasti tersebut?
.
Kenapa justru we sering khawatir terhadap apa yang seharusnya we terima aja kehadirannya?
.
Astaghfirullah.  Ya. Kita butuh banyak istighfar. Karena buat masuk surga, nggak segampang membalikkan telapak tangan.

Thursday, November 17, 2016

Mengenang Kembali Untuk Melupai

Hari ini, 365 hari yang lalu. Selamat mengulang kembali kebahagiaan Anda dengan orang lain. Akhirnya, saya hanya bisa mengucap terimakasih dan meminta maaf dengan banyak atas segalanya.

Saya tahu saya sudah dilupakan. Tapi perlu kamu tahu, saya juga sedang berusaha melupakan. Ya, kamu dan kenangan-kenangan memang belum sepenuhnya hilang dalam ingatan. Tapi sekarang, sedang benar-benar saya kubur dalam dan sembunyikan.

Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Hari-hari yang saya pikir sempat indah dulu, terlampaui begitu saja dengan sendu. Pun banyak emosi yang telah saya rasai. Saya pernah menangis, bahagia, terluka, karena Anda. Dengan Anda. Anda yang selalunya membuat hati saya kala itu tidak menentu.

Sering saya meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah saya buat. Entahlah. Hanya saja, saya selalu merasa bersalah saja kepada Anda. Sampai suatu hari, saya lupa caranya memaafkan diri saya sendiri.

Seperti hari ini. Maaf. Karena telah pergi tanpa permisi, dan mungkin tidak akan kembali lagi. Karena saya sekarang, adalah saya yang baru. Yang tidak lagi terlalu banyak mencintai sehingga sulit untuk pergi.

Mungkin, sesuatu seperti mengenang kembali adalah yang paling sakit untuk hati. Terlebih, kenangan yang dulu manis menjelma pahit yang memang susah untuk mati. Mungkin sekedar pergi belumlah cukup untuk berpura pura tak tahu akan kisah yang dulu pernah dan sempat terlewati.

Sekedar pergi hanya mampu menahan pilu untuk sebentar. Yang akhirnya, memaksa diri untuk kembali berpura-pura menjadi tegar.

Maaf. Karena mungkin terlalu sering membuat sakit hati. Yang tak jarang, mampu mengalahkan tajamnya belati.

Emm.. Saya lupa mau bilang apalagi. Meminta maaf atau berterima kasih terlalu banyak pun, tidak baik pula untuk hati dan jiwa ini. Haha. Saya mulai mengasihani diri sendiri. Entahlah. Sudah tak ada inspirasi. Mungkin juga, karena Anda telah pantas untuk saya lupai.

Tuesday, December 15, 2015

Sabtu Malam



Sabtu malam pukul tujuh lebih enam belas menit. Sabtu yang dingin dengan hujan. Sabtu yang gelap karena malam. Sabtu malam yang kelam. Sabtu kedua tanpa percakapan AKU dan KAMU.
Sebenarnya, aku sudah sangat mengantuk sekarang. Padahal baru pukul tujuh. Mungkin karena Matika yang kuperjuangkan pagi tadi, telah banyak menguras energiku untuk malam ini. Untuk bergadang menyelesaikan sesuatu yang pernah ku mulai bersamanya. Sesuatu yang merupakan buah dari pemikirannya. Sesuatu yang masih bersisa dari KITA. Dan yup, ternyata aku menuliskan perihal tentang kamu tanpa ku sadari. Seakan, menulis tentangmu adalah kebiasaan yang kini dengan sangat terpaksa harus ku tinggalkan ketika pada akhirnya aku mulai terbiasa.

Merelakan dalam hubungan yang kau mulai lalu kau usai sendiri ini, bagiku sangat sulit. Cukup sakit jika terus saja kupaksakan. Ingin rasanya aku berhenti saja menjauhimu. Ingin rasanya aku kembali saja berjalan ke arahmu. Kalau perlu aku kan berlari agar cepat sampai. Lalu dengan segala rasa atas nama rindu yang sudah tumpah-tumpah dari wadahnya, aku ingin segera berhambur memelukmu.
Tapi bicara apa aku ini? Masihkah seorang teman perempuan memiliki hak untuk berbicara perihal cinta kepada teman laki-lakinya? Masihkah boleh seorang teman perempuan dengan sangat berharap menginginkan kabar dari teman laki-lakinya? Masihkah tidak apa-apa jika temanmu ini memikirkan dan mengharapkan hal-hal semacam itu?

Karena kehilangan, adalah hal yang paling lama disesap waktu dalam tahap peratapan sakit cinta ini. Dia tak akan bisa menghilang secepat itu dari sebentuk hati yang pernah sama-sama merasakan indahnya cinta. Itu bagi hatiku, sih. Bagaimana hatimu, peduli apa temanmu ini?
Teman. Teman katamu?

Apa ini yang namanya teman: jika bertemu tak saling sapa. Jika dalam satu ruang dan waktu yang sama tak saling tanya. Jika perpisahan ini akhirnya hanya meninggalkan berkas-berkas kebencian antara kita. Teman katamu? Jika semua yang pernah kita bangun bersama harus berakhir senista ini.
Teman adalah seorang sahabat, kawan, seseorang yang ada disaat orang lain membutuhkannya. Pun sebaliknya. Teman merupakan hubungan mutualisme dari dua orang atau lebih yang saling memiliki keterikatan emosional.

Jika aku benar seseorang yang kau anggap temanmu, biarkan aku berekspresi. Karena seorang teman selalu mendukung temannya, bukan? Karena seorang teman tidak mungkin dengan tega meninggalkan temannya disaat tersulitnya, bukan? Seorang teman itu pendukung, penyemangat. Bukannya acuh tak acuh dan justru penurun mood.

Permintaan terakhirku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu adalah: izinkan aku tetap ada dalam hidupmu (bukan hati dan pikiranmu) sebagai orang yang tetap kamu butuhkan. Karena ketahuilah, berlepas diri atasmu tidaklah semudah kelihatannya. Tidak pula sebercanda perasaanmu terhadapku.

Sabtu malam adalah yang paling istimewa, sepertimu. Terimakasih atas segalanya, temanku tersayang.

Monday, December 7, 2015

Teruntukmu..



                Satu hari tanpa percakapan denganmu.
Aku, adalah tunggu menjelma sabar yang selalu menantimu kembali (lagi).

Aku, adalah kasih sayang di antara kita yang belum benar-benar kita sempurnakan.

Aku, adalah rasa tak ingin kehilangan yang nyatanya sesegera mungkin kau usir pergi.

Lalu aku menjadi kenangan tentang kita yang tak ingin benar-benar usai.

Lalu aku menjadi kehilangan yang sampai saat ini masih harus kau suruh bertahan sendiri.

Hingga pada akhirnya, aku adalah aku yang menyayangimu dengan tulus.

Aku, bahkan tak pernah tau bagaimana denganmu? Karena rasa peduliku saat ini hanya memperkenalkan siapa aku setelah tak lagi kau perhatikan.

Aku, hanya tak ingin kau campakkan!

Aku, hanya tak ingin hangat percakapan kita usaikan!

Aku, hanya tak ingin kita buru-buru kembali menjadi aku dan kamu!

Tapi kamu, apakah sudah melupakannya? Melupakan semua yang pernah kita ciptakan? Melupakan semua yang belum sempat kita sempurnakan, lalu dengan tanpa alasan memilih untuk terburu pergi?

Sungguh, jemariku seperti tersengat oleh sesuatu bernama rasa yang menggebu untuk mengungkapkan semua kekesalanku padamu. Perasaan sangat marah karena kau sukai tanpa alasan, kemudian kau tinggalkan tanpa alasan pula.

Rasanya aku ingin pergi tapi tak mampu.

Rasanya aku ingin meninggalkan tapi tak mau.

Rasanya aku ingin kita kembali menjadi kita, tapi ku ragu. Setelah kau kecewakan dengan percuma. Karena perasaan ini hanya kau anggap bual belaka.

Kumohon, jangan begini padaku. Aku yakin kamu ingin serius denganku. Tapi apa ini keseriusanmu yang sebenarnya? Apa ini yang kau sebut rasa sayangmu kepadaku yang sesungguhnya?

Datang dan pergi sesuka hati tanpa alasan. Tidakkah kamu pikir kamu begitu egois? Meninggalkan gadis kecil ini sendirian. Tega sekali kamu!

Sungguh tak apa jika kamu memintaku harus kembali sendirian. Tapi setidaknya, berikan aku alasan! Agar aku dapat dengan ikhlas merelakan! Maka, nantinya aku juga bisa pergi dengan senyuman.

Sunday, July 19, 2015

Lirik Moshimo (Jika)

[LIRIK+TERJEMAHAN] DAISUKE - MOSHIMO (JIKA)

Daisuke - Moshimo (Jika)
Naruto Shippuden Opening #12


ROMAJI:

itsu made mo woikaketeiru anata no zanzou wo

yume ni miru yokogao wa ano koro no mama de
se no takai kusanami ni hashiri satte kieta
omoidasu kioku wo kakiwake ato wou boku wa
modokashiku mo iki wo kirashite saigo wa todokazu ni
tooku
nannen mae no koto deshou
nidoto modorenai ano basho ni
oitekite shimatta boku no kokoro sa

moshi mo yume naraba
torimodosenai no nara
kono kimochi wa dou shite tsutaereba ii no?
imada ni woikaketeru ano hi no zanzou wo
kanashimi ni akekure nagara mo ima
anata naki sekai de boku wa ikiru yo

itsu no hi ka subete wasurete shimau sono toki ga
kono kanashimi mo womoidasenaku naru kurai nara
aa
fukai fukai mune no itami mo
ienai mama de nokoshite woite
wasurecha ikenai boku no kokoro sa

moshi mo yume de nara
anata to aeru no nara
kono kimochi mo wasurezu ni itsudzukerareru yo
itsu made mo woikaketeru ano hi no zanzou wo
kanashimi ni akekure nagara mo ima
anata naki sekai de boku wa ikiru yo

anata ga inaku natte mo
mawari tsudzuketeru sekai de
ano hi no kioku wa mada ikiteiru
boku no tonari de

moshi mo yume de mata
anata ni aeru no nara
sono yokogao kono me ni yakitsuketeokou

moshi mo yume de nara
anata to aeru no nara
kono kimochi wa kitto aseru koto mo naku
itsu ka doko ka de mata au toki ga kuru made
kanashimi wa tsuyogari de dakishimete
anata naki sekai de boku wa ikiru yo

INDONESIA:

Aku akan selalu mengejar bayangan milikmu..

Sosok yang kulihat di mimpi sama seperti sebelumnya..
Ia berlari dan menghilang di tengah rerumputan yang panjang..
Aku berusaha mengejar dan mengingat kenangan itu kembali..
Namun aku tak dapat menggapainya dan akhirnya akan kehabisan nafas..
Begitu jauh..
Entah berapa tahun telah berlalu..
Aku tidak dapat kembali ke tempat itu..
Karena aku hanya akan meninggalkan hatiku..

Jika hanya ini mimpi yang kumiliki..
Dan jika aku tak dapat kembali lagi..
Entah bagaimana caranya aku mengungkapkan perasaan ini?
Namun kini aku terus mengejar bayangan pada hari-hari itu..
Meski pun saat ini aku merasakan kesedihan..
Aku dapat hidup di dunia ini meski pun tanpamu..

Suatu saat aku mungkin akan melupakan segala hal yang ada..
Dan semua kesedihan dan kenangan itu akan menjadi gelap..
Ah..
Rasa sakit yang ada di dalam hati..
Meski pun membiarkannya terluka di sana..
Hatiku ini takkan pernah bisa melupakannya..

Jika aku dapat melalui mimpi ini..
Dan jika aku dapat bertemu denganmu..
Mungkin perasaan itu masih mengalir di dalam diriku..
Aku akan selalu mengejar bayangan pada hari-hari itu..
Meski pun saat ini aku merasakan kesedihan..
Aku dapat hidup di dunia ini meski pun tanpamu..

Meski pun kamu tak lagi ada di sini..
Dunia ini akan terus berputar-putar..
Kenangan pada hari-hari itu akan terus hidup..
Berada di sisiku..

Jika aku melihatmu di dalam mimpi..
Dan jika aku dapat bertemu denganmu..
Aku akan terus memandang sosok dirimu dengan mata ini..

Jika aku dapat melalui mimpi ini..
Dan jika aku dapat bertemu denganmu..
Perasaan ini tidak akan pernah menjadi pudar lagi..
Hingga suatu saat kita dapat bertemu kembali di suatu tempat..
Kesedihan itu pun akan berhenti saat aku mendekapnya..
Aku pasti dapat hidup di dunia ini meski pun tanpamu..

Thursday, July 2, 2015

PLAYLIST: I Would - One Direction






Lately I found myself thinking
Akhir-akhir ini aku sering melamun
Been dreaming about you a lot
Sering bermimpi tentangmu
And up in my head I’m your boyfriend
Dan dalam bayanganku, aku adalah pacarmu
But that’s one thing you’ve already got
Tapi nyatanya kau sudah punya pacar

He drives to school every morning
Dia ke sekolah berkendara setiap pagi
While I walk alone in the rain
Sedangkan aku berjalan dalam guyuran hujan
He’d kill me without any warning
Dia kan membunuhku tanpa peringatan
If he took a look in my brain
Jika dia tahu isi otakku

CHORUS
(2x)
Would he say he’s in L-O-V-E?
Akankah dia bilang dirinya jatuh cinta?
Well if it was me then I would (I would)
Jika aku kekasihmu, maka pasti kan kukatakan itu
Would he hold you when you’re feeling low
Akankah dia mendekapmu saat kau bersedih
Baby you should know that I would
Kasih kau harus tahu bahwa aku kan melakukannya

Back in my head we were kissing
Di dalam benakku, kita berciuman
I thought things were going alright
Kurasa segalanya baik-baik saja
With a sign on my back saying ‘kick me’
Dengan tanda di punggungku bertuliskan "pukul aku"
Reality ruined my life
Kenyataan hancurkan hidupku

Feels like I’m constantly playing
Rasanya aku terus menerus bermain
A game that I’m destined to lose
Bermain sebuah game yang aku tlah ditakdirkan kalah
Cause I can’t compete with your boyfriend
Karena aku tak bisa bersaing dengan pacarmu
He’s got 27 tattoos
Dia punya 27 tato

CHORUS

BRIDGE
Would he please you?
Akankah dia menyenangkanmu?
Would he kiss you?
Akankah dia menciummu?
Would he treat you like I would?
Akankah dia perlakukanmu seperti diriku?
Would he touch you?
Akankah dia menyentuhmu?
Would he need you?
Akankah dia membutuhkanmu?
Would he love you like I would?
Akankah dia mencintaimu seperti diriku?

CHORUS
BRIDGE
CHORUS
I would, I would yeah
Aku kan melakukannya, aku kan melakukannya yeah