Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Saturday, May 9, 2020

Re-Read Tentang Kamu, Membaca Ulang Mutiara

Sabtu, 9 Mei 2020

di kamar gelapku, desa Nusupan saat hujan deras turun dan menerocohi kasurku.

Ini kali kedua aku membaca buku yang sama dengan ketebalan yang lumayan. Bukan buku berat memang, melainkan novel dengan bahasa yang santai, lugas, dan mudah dipahami. Alasan aku membaca buku itu untuk kedua kalinya adalah untuk mengerjakan tugas penelitianku yang mandeg beberapa lama atas novel itu, dan lainnya karena aku butuh inspirasi bacaan, pun kehidupan. Tidak salah memang jika aku menjatuhkan pilihan pada salah satu novel tebal dari penulis terkenal, Tere Liye demi kembali menggali pelajaran tentang banyak hal. Judul novel itu Tentang Kamu, dengan sampul sepatu sederhana – cenderung lusuh. Namun, isi di dalam buku itu tentu tak sesederhana sampulnya.

Pepatah lama itu benar, rasanya lebih enak mengerjakan sesuatu yang sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Karena selain menghemat waktu, dengan aku bisa mengerjakan tugas sekaligus mendapatkan inspirasi menulis.

Selain itu, ternyata membaca ulang buku yang sama itu tidak selalu membosankan, walaupun kita telah tahu akhirnya. Bagiku, membaca dua atau beberapa kali karya yang sama itu berbeda sama sekali dengan saat pertama kali membacanya, saat seorang pembaca belum tahu apa yang ingin disampaikan penulis, juga tentang bagaimana akhir dari karya tersebut. Namun dengan membaca ulang sebuah karya, seorang pembaca bisa naik level menjadi pengamat, peneliti. Mungkin, akan banyak bagian-bagian yang digaris bawahi atau distabilo dengan warna terang karena dirasa penting untuk dikutip. Atau mungkin juga, akan ada beberapa kata-kata yang dipikirkan lagi dengan seksama.

Saat membaca novel Tentang Kamu untuk kali kedua ini, entah kenapa dan bagaimana emosiku benar-benar teraduk, meski sebelumnya pun sama. Tapi ini lebih dalam. Aku menangis tersedu-sedu saat membaca salah satu bab pada novel tersebut. Meski hanya barisan kata-kata, ajaibnya aku juga bisa membayangkan peristiwa sedih yang berusaha penulis gambarkan. Dan benar saja, Tere Liye sukses membuat air mataku bercucuran.

Aku lupa saat kali pertama membaca novel ini aku menangis atau tidak, tapi yang jelas aku menyelesaikannya secepat kilat. Hanya sehari aku merampungkan novel setebal 500an halaman itu.

Di sisi lain aku juga belajar tentang cara penulisan sang maestro. Jujur, aku juga kagum terhadap orang-orang di balik penerbitan novel-novelnya. Nyaris tanpa cacat. Tidak ada typo atau salah ketik sama sekali, dari halaman satu sampai halaman 500 sekian. Tidak ada peristiwa ganjil atau sesuatu yang tidak bisa dilogika saat membacanya. Data yang dipakai pun sangat lengkap. Aku yakin beliau, Tere Liye sangat akurat saat melakukan riset sebelum meramunya, dan menuliskannya menjadi karya epik. Namun, pasti sulit sekali menciptakan karya seperti itu. butuh waktu bertahun-tahun dan juga banyak jam terbang, pengalaman, dan elemen-elemen lainnya untuk kemudian dikawinkan menjadi satu, dan menghasilkan karya yang tidak hanya indah, tapi juga sangat bermakna dan kaya akan nilai.

Terakhir, aku benar-benar bangga Indonesia memiliki penulis seperti beliau. Aku angkat topi untuk pak Darwis Tere Liye. Selain produktif menelurkan karya setiap tahunnya, sosoknya yang sederhana dan jarang menampilkan diri pribadi – berbicara soal kehidupan pribadinya di media sosial atu media-media lainnya membuatku iri. Sebenarnya, hidup seperti apa yang beliau jalani, hingga bisa menjadi seorang sosok hebat seperti sekarang? Memang aku belum membaca seluruh karya-karya beliau – meminjam salah satu khas tulisannya di novel Tentang Kamu, mudah-mudahan aku berkesempatan membaca seluruhnya besok lusa. Juga, karya-karya para sastrawan Indonesia, dan dunia lainnya. Semoga aku berkesempatan mengenal kehebatan mereka melalui karya-karya abadi mereka dalam bentuk tulisan, utamanya.

Dan juga, mudah-mudahan aku bisa memaksa diriku untuk menjadi pembaca yang baik dan hebat dulu, sebelum akhirnya menjadi penulis baik dan hebat kelak di kemudian hari.


NB : Sengaja aku tidak menyertakan gambar, meskipun memilikinya. Buku ini amat fenomenal sehingga mudah saja untuk mencarinya di mesin pencarian. Lagipula, terbitnya juga sudah cukup lama. Hehe.


xoxo,

Risma Ariesta

Monday, February 25, 2019

Review Buku : Setelah Membaca Okky Madasari


Judul : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Tebit : 2012
Genre : Novel
Jumlah halaman : 275
ISBN : 978-979-22-8009-8
Rating : 8/10

Kemarin saya baru saja menamatkan sebuah novel epik buah karya Okky Madasari. Siapa gerangan beliau? Perempuan kelahiran 30 Oktober 1984 ini merupakan salah satu penulis sekaligus jurnalis berbakat di Indonesia. Melalui novel Maryam yang ditulisnya sebagai buku ketiga ini, Okky dinobatkan sebagai penerima penghargaan Khatulistiwa Literary Award di tahun 2012, yang kemudian berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2014.

Pertama kali saya mengetahui tentang perempuan bernama lengkap Okky Puspa Madasari ini ialah melalui Qureta. Sebuah portal online yang membagikan informasi dari banyak penulis. Saat itu, saya menyaksikan Okky sedang menjadi pembicara di kuliah Qureta. Dalam sebuah video yang saya tonton, beliau sedang menyebutkan karya-karyanya yang terdiri dari beberapa judul novel berikut tema besar yang digarapnya.

Bagi saya, Maryam adalah masterpiece. Tak kalah dengan dua novel sebelumnya, Entrok dan Pasung Jiwa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, membaca Okky Madasari seperti menggali sejarah. Pada novel Entrok ia ceritakan tentang pemerintahan totalitarianisme dan militerianisme pada zaman orde baru. Kemudian Pasung Jiwa yang mengangkat tema besar tentang LGBT. Sedangkan untuk Maryam sendiri, Okky mengulas tentang kehidupan para jama’ah Ahmadiyah yang terusir dari tempat tinggal mereka sendiri.

Maryam yang sudah habis saya baca ini, menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan bernama Maryam yang menganut paham Ahmadi sejak dari kakeknya. Dalam novel tersebut disebutkan bahwa meskipun Islam mereka berbeda dengan Islam kebanyakan tetangga, namun keluarga mereka sudah sejak lama berbaur dengan orang-orang sekitar. Dalam urusan muamalah, mereka memang sama saja dengan masyarakat lainnya. Namun, dari segi ibadah mereka cnederung tertutup dan eksklusif. Hal ini tergambar jelas saat para Ahmadi mengadakan pengajian rutinan, shalat Jum’at di masjid golongan mereka sendiri, bahkan tuntutan bapak ibu Maryam untuk menikah dengan laki-laki Ahmadi yang dari golongan mereka sendiri.

Seiring berjalannya cerita, Maryam sang tokoh utama memulai perjalanan cintanya yang nampak manis. Bersama Gamal, laki-laki yang juga Ahmadi, Maryam merasa dirinya akan bahagia ketika kelak mereka menikah. Karena jika itu terjadi, maka bapak ibunya juga akan senang sebab mendapat menantu yang seiman. Namun ternyata Tuhan berkata lain, Gamal pergi meninggalkan keluarganya, meninggalkan imannya, meninggalkan Maryam. Ia menganggap bahwa apa yang selama ini diyakini oleh kedua orang tuanya ialah sesat.

Lantas, setelah kejadian itu Maryam yang baru saja diwisuda merantau ke Jakarta. Di sana, ia mendapatkan sebuah pekerjaan prestisius di sebuah bank dengan gaji yang lumayan. Selain itu, ia mengenal Alam yang bukan laki-laki Ahmadi, yang berniat untuk menikahinya. Saat itu bapak dan ibunya sudah memperingatkan Maryam dari awal. Jika Alam benar-benar serius ingin mempersuntingnya, maka ia harus menjadi seorang Ahmadi. Namun, justru Maryamlah yang mengambil langkah nekat untuk keluar dari imannya. Mereka menikah tanpa persetujuan bapak dan ibu Maryam. Saat itu, hanya keluarga Alamlah yang menyetujui pernikahan mereka berdua. Dengan syarat, Maryam harus kembali mengucapkan syahadat sebagai tanda ia telah keluar dari ajaran sesat. Namun, ternyata hubungan itu tidak berjalan lama hingga kandas karena perbedaan yang dimiliki Maryam dan Alam tak akan pernah bisa disatukan.

Kegagalan dalam rumah tangga tersebut membuat Maryam ingin pulang menemui keluarganya. Namun, ternyata sudah terlambat. Keluarganya tak lagi bertempat tinggal yang sama seperti dulu karena telah diusir dari rumah mereka sendiri. Intimidasi para tetangga terhadap keyakinan yang keluarga Maryam bawa membuat mereka harus meninggalkan rumah yang telah dibangun dari keringat sendiri. Seolah perjuangan sekian lama yang senantiasa mereka lakukan tidaklah berarti apa-apa karena anggapan “sesat” yang tersemat pada ajaran yang mereka imani.

Beramai-ramai para jama’ah Ahmadiyah mengungsi dengan berdesak-desakan. Mereka berbagi tempat tinggal untuk satu sama lain sampai waktu yang tidak ditentukan. Kegigihan mereka menggenggam erat keimanan meskipun dalam kondisi terpepet, nyatanya adalah klimaks yang disuguhkan penulis untuk menguatkan identitas pemeluk paham ini. Walaupun apa yang mereka yakini berbeda dari orang-orang kebanyakan, namun hubunganya dengan Tuhan sama seperti yang lainnya.


Awalnya, saya pikir novel Maryam ini hanya akan menceritakan tentang seorang Maryam dan kehidupan pribadinya. Namun lebih dari itu, ternyata penulis menggali lebih dalam sampai ke ujung tentang kisah Maryam ini. Selain itu, Maryam menurut saya ditulis dengan cara yang tak biasa, yakni menggunakan alur maju mundur tanpa ditandai oleh pemenggalan paragraf dengan spasi atau sebuah simbol tertentu. Namun demikian, pembaca tetap bisa mengikuti alur yang disajikan dengan membayangkan adegan demi adegan yang meski tak berkesinambungan, tapi tetap bisa dimengerti. Bahasa yang digunakan juga sangat renyah untuk diikuti sampai akhir cerita di novel ini habis.

Saya menggolongkan novel ini sebagai bacaan fiksi yang cukup berat karena tema yang diangkatnya. Namun dari sisi bahasanya sendiri, jujur setelah membaca Okky Madasari, imajinasi dan alam ide saya bertambah barang satu dua tingkat lebih tinggi.

Friday, February 8, 2019

Resensi – Pribadi Mulia dalam Balutan Sederhana nan Bersahaja

Dok. Pribadi


Judul Buku : Pribadi Muhammad (Syakhshiyyah al-Rasul)
Penulis : Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah : Asy’ari Khatib
Penerbit : Penerbit Zaman, Jakarta
Tahun terbit : Cetakan I, 2013
Jumlah halaman : 386 halaman
ISBN : 978-602-17919-2-9

Ketika saya mencoba berselancar di internet untuk mencari referensi tulisan yang mungkin juga pernah membuat resensi tentang buku Pribadi Muhammad ini, rupanya saya belum menemukan apa yang saya cari. Hanya ada sedikit ulasan dari website penerbitnya yakni Penerbit Zaman, serta ulasan singkat dari Goodreads. Walhasil, resensi ini mudah-mudahan menjadi resensi pertama yang dibuat terkait dengan buku ini. Hehe.

“Sungguh telah ada pada diri Rasulillah itu teladan bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Kutipan dari salah satu ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pembuka paling awal dari buku ini. Sesuai judulnya, dalam buku ini dikupas secara mendalam tentang bagaimana kepribadian Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-harinya. Ada tiga tema besar yang dituliskan oleh Dr. Nizar Abazhah dalam buku ini. Yakni tentang Sosok Nabi, Keseharian Nabi, serta Mukjizat Nabi. Ketiga tema besar ini tentu saja memiliki sub-sub tema yang mengandung penjelasan runtut dan mendalam dengan bahasa yang mudah dipahami.



Allah memilih Rasulullah saw. sebagai penutup para nabi dan Dia himpunkan kepadanya sifat-sifat mereka yang mulia: jujur, amanah cerdas hati dan pikiran, senantiasa dalam keadaan sadar, tidak menutup-nutupi, dan terjaga dari kemaksiatan. Rasulullah saw. terhindar dari segala dosa, besar maupun kecil. Melaksanakan semua perintah Allah tanpa sedikit pun melanggarnya. Menjaga diri dari semua larangan-Nya tanpa sekali pun terjerumus ke dalamya. (h.29)

Meskipun telah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah adalah sosok yang ummy alias tidak bisa membaca dan menulis, namun Allah telah memilih beliau sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk seluruh alam sampai akhir zaman. Jadi, tidak mengherankan bahwa dari diri beliau selalu muncul hal-hal yang membuat kita terkagum-kagum.

Jika marah, beliau berpaling. Jika senang, beliau memejamkan mata. (h.46)

Lantas, jika orang lain merendahkan Rasulullah, beliau balas dengan kebaikan. Semakin direndahkan dan dilecehkan, semakin dibalas dengan kebaikan. Menurut Aisyah istrinya, akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Terlalu banyak penggambaran dalam bentuk kata-kata yang dipaparkan oleh penulis yang seketika membuat pembaca terkagum-kagum dengan sosok karimatik sepanjang zaman ini. Namun demikian, hal itu pun tidak cukup kiranya mengingat begitu mulianya sosok Nabi Muhammad saw. sebagai utusan dan kekasih Allah itu.

Berkaitan dengan sifat tawaduk, Nabi saw. menjadi gambaran utama yang merepresentasikan sifat mulia ini. Beliau benar-benar tampil sebagai ideal akhlak seorang muslim yang berbeda sama sekali dari moral Jahiliyah. Diberi pilihan pangkat antara menjadi nabi yang raja, seperti Nabi Sulaiman, dan menjadi nabi yang sahaya, Rasulullah memilih pangkat kesahayaan. Beliau memilih sedikit dengan dunia agar kelak menghadap Allah dengan tenang dan leluasa. (H.R. Muslim, 188), (h.182)

Dalam berbagai literatur pun berkali-kali dijelaskan bahwa Rasulullah saw. merupakan sosok yang sederhana. Meskipun para sahabat sering menyanjungnya dengan sanjungan-sanjungan yang terhormat lagi mulia, namun beliau justru lebih senang dipanggil sebagai manusia biasa yang lahir dari seorang perempuan yang memakan dendeng. Subhanallah! Betapa sifat tawaduk tanpa rekayasa maupun pencitraan yang tercermin dalam kata-kata serta sikap beliau ini. 

Menjelaskan tentang dirinya, Nabi saw. bersabda, “Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana budak lain makan, duduk sebagaimana budak lain duduk.” (Thaqabat Ibn Sa’d, 1/371, Al-Syifa, 1/168), (h.183)



Mungkin, buku ini memanglah tidak selengkap Sirah Nabawiyyah. Karena Dr. Nizar Abazhah pun membuat seri tersendiri bagi karyanya ini. Dalam beberapa paragraph di buku ini pun bertebaran footnote yang menggiring pembaca untuk juga membaca karyanya yang lain seperti Perang Muhammad, Ketika Nabi di Kota, Bilik-Bilik Cinta Muhammad, dan lain-lain.

Pada bagian tentang keseharian nabi pun diungkapkan berbagai macam kebiasaan beliau yang juga hampir sama dengan kebiasaan rang biasa pada umumnya. Seperti halnya penggambaran tentang kesederhanaan rumah beliau, bagaimana posisi maupun cara tidur beliau, alas tidur beliau yang hanya dari selembar tikar tipis yang membuat cap di bagian punggung beliau, dan banyak kesederhanaan lainnya yang mungkin jauh dari para sahabat, apalagi kita umatnya. Meneladani Rasulullah secara keseluruhan rasanya memang tidak mungkin kita lakukan. Karena nafsu yang kita miliki terkadang senantiasa lebih besar daripada ketaatan yang kita miliki.

Nabi membagi harinya untuk ibadah, keluarga, dan manusia. Ini dilakukannya dengan konsistensi yang menakjubkan. Begitu menghadap kepada Allah, beliau menghadap secara total. Jika melakukan sesuatu, beliau tak berhenti sampai tuntas. Tak heran bila tak ada kamus gagal dalam setiap tindakan beliau. (Bathal al-Abthal, 52), (h.278)

Sedangkan pada bagian mukjizat, Dr. Nizar Abazhah membaginya menjadi mukjizat umum yang nabi peroleh ketika periode Makkah serta jenis-jenisnya, dan mukjizat terbesar nan kekal, yakni Al-Qur’an. Mukjizat saat periode Makkah yang pertama adalah Isra’ Mi’raj yang merupakan penghormatan Allah untuk Rasul-Nya. Sedangkan mukjizat yang kedua ialah ketika Rasulullah berhasil lolos dari kepungan kaum kafir Qurays dalam peristiwa hijrah. Nah, untuk mukjizat yang terbesar nan kekal berupa Al-Qur’an itu sendiri, seperti yang kita ketahui bersama sampai saat ini. Bahkan, jarak masa hidup nabi dengan kita saja mungkin lebih dari 1400 tahun. Namun, apa yang tertulis dalam mukjizat itu tidak pernah sedikitpun bertambah, berkurang, maupun hilang. Bahkan mukjizat tersebut banyak sekali yang menyimpannya dalam bentuk mushaf berjalan yang senantiasa menghiasi dada para penghafalnya, untuk memberkahi kehidupannya dan alam semesta.

Buku Pribadi Muhammad ini memang sudah tak dapat diragukan lagi kualitasnya. Dari sisi bahasa terjemahannya saja, mudah dimengerti oleh pembaca yang awam sekali pun. Bahkan, ulasan ini kiranya tidak cukup untuk menggambarkan semuanya. Maka dari itu, saya pribadi sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca karena bahasanya yang ringan, dan halamannya yang tidak terlalu tebal sebagaimana Sirah Nabawiyyah. Namun, alangkah baiknya setelah selesai menamatkan buku biografi Rasulullah  saw. ini juga turut menyambungnya dengan seri lain tentang tulisan-tulisan yang membahas biografi Rasulullah. Karena, barangsiapa yang mengenal nabinya, InsyaAllah ia akan dekat dengan Tuhannya.


Tuesday, June 7, 2016

Hujan Meteor - BAB I

credit by : cikalnews.com

Hujan Meteor
 (Sebelum editing)
A.      Pengertian Hujan Meteor
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Hujan Meteor adalah hujan yang terjadi karena meluncurnya benda-benda angkasa ke permukaan bumi. Sedangkan menurut situs Wikipedia, hujan meteor adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika sejumlah meteor terlihat bersinar pada langit malam. Lalu apakah meteor itu? Meteor adalah benda luar angkasa yang masuk ke dalam atmosfer bumi. Pada umumnya habis terbakar sebelum masuk ke permukaan bumi. Namun jika bersisa, maka yang jatuh ke permukaan bumi disebut meteorit.
Meteor sebenarnya dikenal juga dengan nama-nama lain seperti, meteor shower, shoting star, dan bintang jatuh. Kepercayaan secara turun temurun bahwa bintang jatuh dapat mengabulkan permohonan, sebenarnya hanyalah mitos. Jika dikaji lagi dengan akal sehat, apalagi bagi seorang muslim, hal seperti ini bisa saja mengacu kepada kemusyrikan dan malah menjauhkan diri kita dari Allah SWT. Karena bagaimanapun juga, Dia-lah Sang Pencipta Yang Maha Mengabulkan Segala Permohonan.

B.       Penyebab Hujan Meteor
Hujan meteor disebabkan oleh adanya pertemuan lintasan orbit (jalur yang dilalui sebuah objek) komet dan lintasan orbit bumi. Hal ini terjadi karena lintasan orbit membentuk konsep elips, yang memungkinkan adanya pertemuan waktu kedua orbit saling berdekatan. Pada saat berdekatan itulah muncul energi yang bisa menyebabkan gesekan serta volume meteor yang masuk ke atmostfer bumi mengalami peningkatan secara pesat. Dengan meningkatnya volume secara mendadak itulah, meteor menjadi kehilangan daya untuk mempertahankan tetap berada pada satu lintas orbit sehingga pada akhirnya terjadilah hujan meteor di sebagian wilayah bumi.

C.      Hujan Meteor Dalam Pandangan Islam
Beberapa ayat Al-Qur’an terkait fenomena hujan meteor.
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar syaitan dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Q.S Al-Mulk : 5)
“Sesungguhnya Aku telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang terang.” (QS. As-Shaffat: 6 – 10).
Beberapa potongan ayat Al-Qur’an di atas telah menjelaskan bagaimana pandangan Islam terhadap fenomena hujan meteor. Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya fenomena meteor yang jatuh ke bumi merupakan sebuah benda langit yang digunakan oleh Allah SWT untuk melempar syaitan yang dengan sengaja mencuri dengar berita dari langit.
Kesimpulan ini diperkuat lagi dengan penjelasan dalam sebuah hadist riwayat Bukhari sebagai berikut.
“Apabila Allah menetapkan suatu ketetapan di langit maka para malaikat mengepakkan sayap mereka karena tunduk terhadap firman-Nya, seperti layaknya suara rantai yang digesek di atas batu. Setelah rasa takut itu dicabut dari hati para malaikat, mereka bertanya-tanya: ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?’ Malaikat yang mendengar menjawab, ‘Dia berfirman yang benar. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Bisikan malaikat ini didengar oleh jin pencuri berita. Pencuri berita modusnya dengan ‘pundi-pundian’ (jin yang bawah menjadi penopang bagi jin yang di atasnya, bertingkat terus ke atas). Jin yang paling atas mendengar ucapan malaikat, kemudian disampaikan ke jin bawahnya, dan seterusnya, hingga jin yang paling bawah menyampaikannya kepada tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka mendapat panah api sebelum dia sampaikan kepada dukun, dan terkadang berhasil disampaikan sebelum terkena panah api. Kemudian dicampur dengan 100 kedustaan. (sehingga ada 1 yang benar). Orang mengatakan, bukankah pak dukun telah mengatakan demikian dan dia benar? Akhirnya sang dukun dibenarkan dengan satu kalimat yang benar yang dicuri dari langit.” (HR. Bukhari 4800).
Sebagai seorang muslim, hal-hal yang telah dijelaskan melalui ayat Al-Qur’an maupun hadist diatas sudah semestinya kita akui dan imani kebenarannya. Meskipun terkadang sesuatu yang telah dijelaskan tidak masuk akal dalam pemikiran logika kita.
Menurut para ahli astronomi, hujan meteor bisa terjadi kapan saja dan bisa diprediksikan kapan terjadinya. Bahkan bisa saja terjadi secara terus menerus. Kenapa hujan meteor bisa diprediksi? Pada dasarnya penentuan terjadinya hujan meteor mengacu kepada dua keadaan yaitu perhitungan lintasan orbit bumi dan komet. Dari perhitungan lintas orbit bumi dan komet inilah akan ditemukan satu saat dimana lintasan orbit bumi dan komet membentuk elips dan saling mendekat.
Selaras dengan tujuan pelemparan batuan yang diarahkan kepada syaitan yang mencuri dengar berita dari langit, yang menunjukkan penjagaan terhadap langit itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa penjagaan langit terjadi secara terus menerus. Mengingat syaitan yang juga terus menerus berusaha mencuri dengar berita dari langit.
Kesimpulannya, tidak ada pertentangan antara pendapat para ahli astronomi dengan apa yang sudah ditetapkan Allah dalam firman-firman-Nya.
Wallahu a’lam..

(Selepas Editing)
Hujan Meteor

A.      Pengertian Hujan Meteor
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Hujan Meteor adalah hujan yang terjadi karena meluncurnya benda-benda angkasa ke permukaan bumi. Sedangkan menurut situs Wikipedia, hujan meteor adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika sejumlah meteor terlihat bersinar pada langit malam. Lalu apakah meteor itu? Meteor adalah benda luar angkasa yang masuk ke dalam atmosfer bumi. Pada umumnya habis terbakar sebelum masuk ke permukaan bumi. Namun jika bersisa, maka yang jatuh ke permukaan bumi disebut meteorit.
Meteor sebenarnya dikenal juga dengan nama-nama lain seperti, meteor shower, shoting star, dan bintang jatuh. Kepercayaan secara turun temurun bahwa bintang jatuh dapat mengabulkan permohonan, sebenarnya hanyalah mitos. Yaitu sbuah informasi yang sebenarnya salah, namun telah dianggap benar dari generasi ke generasi. Jika dikaji lagi dengan akal sehat, apalagi bagi seorang muslim, meminta sesuatu kepada benda atau mahluk adalah suatu perbuatan syirik. Menyekutukan Allah. Karena bagaimanapun juga, hanyalah Allah Yang Maha Segalanya. Hanyalah Allah yang dapa mengabulkan segala permohonan.
Seperti yang telah tertuang dalam terjemahan Surat Al Mu’min ayat 60 berikut :
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang – orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

B.       Penyebab Hujan Meteor
Apakah penyebab hujan meteor? Penyebab terjadinya hujan meteor adalah pertemuan antara lintasan orbit komet dan lintasan orbit bumi. Hal ini terjadi karena lintasan orbit membentuk konsep elips, sehingga memungkinkan pertemuan kedua belah pihak. Pertemuan ini akhirnya akan memunculkan sebuah energi yang bisa mengakibatkan gesekan. Nah, pada saat lintasan orbit saling berdekatan inilah, volume meteor yang masuk ke atmosfer bumi mengalami peningkatan secara pesat. Dengan meningkatnya volume mendadak itulah, meteor menjadi kehilangan daya untuk tetap berada pada satu lintas orbit, sehingga  menyebabkan hujan meteor di sebagian wilayah bumi.

C.      Hujan Meteor Dalam Pandangan Islam
Di dalam Al-Qur’an, ternyata sudah dibahas mengenai beberapa kasus tentang keberadaan benda – benda langit dalam tata surya atau sekalipun yang tak terjamah. Berikut beberapa tuangan ayat Al-Qu’an dalam terjemah bahasa Indonesia terkait fenomena hujan meteor.
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar syaitan dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Q.S Al-Mulk : 5)
Sesungguhnya Aku telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Aku telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya). Aku menjaganya dari setiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS. Al-Hijr: 16 – 18).
Sesungguhnya Aku telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang terang.” (QS. As-Shaffat: 6 – 10).
Potongan ayat di atas telah menjelaskan dari sudut pandang Islam terhadap fenomena alam yang satu ini. Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya fenomena meteor yang jatuh ke bumi merupakan batuan langit atau bintang yang digunakan oleh Allah SWT untuk melempar syaitan yang dengan sengaja mencuri dengar berita dari langit.
Namun, fenomena hujan meteor juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Sebelum akhirnya batuan meteorid itu jatuh dan mengenai permukaan bumi, ia melakukan pendekatan terlebih dulu kepada bumi. Mengapung -  apung di sekitar bumi, lalu perlahan tapi pasti tertarik oleh gravitasi bumi. Meteoroid yang tertarik oleh gravitasi bumi ini lantas memasuki atmosfer bumi kemudian saling bergesekan hingga menimbulkan api yang terlihat seperti cahaya yang sangat terang. Benda ini lantas disebut sebagai meteor. Tidak sampai disitu, meteor yang semakin tertarik oleh gravitasi bumi akan melaju dengan sangat cepat  menuju tanah. Nah, ketika pendaratan terjadi, maka meteor akan disebut sebagai meteorit. Alias batu luar angkasa yang sudah mendarat di bumi.
Kesimpulan dari sudut pandang Islam dan sudut pandang Ilmiah memang berbeda jauh. Namun, ada sebuah hadist riwayat Bukhari yang akan memperkuat pejelasan tentang hal ini.
“Apabila Allah menetapkan suatu ketetapan di langit maka para malaikat mengepakkan sayap mereka karena tunduk terhadap firman-Nya, seperti layaknya suara rantai yang digesek di atas batu. Setelah rasa takut itu dicabut dari hati para malaikat, mereka bertanya-tanya: ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?’ Malaikat yang mendengar menjawab, ‘Dia berfirman yang benar. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Bisikan malaikat ini didengar oleh jin pencuri berita. Pencuri berita modusnya dengan ‘pundi-pundian’ (jin yang bawah menjadi penopang bagi jin yang di atasnya, bertingkat terus ke atas). Jin yang paling atas mendengar ucapan malaikat, kemudian disampaikan ke jin bawahnya, dan seterusnya, hingga jin yang paling bawah menyampaikannya kepada tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka mendapat panah api sebelum dia sampaikan kepada dukun, dan terkadang berhasil disampaikan sebelum terkena panah api. Kemudian dicampur dengan 100 kedustaan. (sehingga ada 1 yang benar). Orang mengatakan, bukankah pak dukun telah mengatakan demikian dan dia benar? Akhirnya sang dukun dibenarkan dengan satu kalimat yang benar yang dicuri dari langit.” (HR. Bukhari 4800).
Sebagai seorang muslim, hal-hal yang telah dijelaskan melalui ayat Al-Qur’an maupun hadist diatas sudah semestinya kita akui dan imani kebenarannya. Meskipun terkadang semua yang telah dijelaskan tidak masuk akal dalam pemikiran logika kita.
Wallahu a’lam..
Tugas ini telah ditautkan kepada KMO Indonesia dan Ibu Erna
This entry was posted in

Tuesday, May 24, 2016

Sebuah Alasan

Dulu, aku selalu berpikir. Bahwa semua hal yang tak beralasan itu biasa saja. Bahkan terkesan baik - tidak penting. Tak perlu diambil pusing.

Seperti hal nya saat aku dan seseorang saling jatuh hati tanpa alasan. Saat itu, kami sama-sama menganggap, bahwa sebuah alasan tidak terlalu penting untuk hubungan ini. Tapi nyatanya kami salah. Salah besar.

Sebuah alasan, rupanya benar-benar menjadi sesuatu yang harusnya kita pegang dengan sangat kuat untuk tetap bertahan. Berdiri. Dan terus melangkah sampai tujuan.

Pun sama. Alasan. Kenapa kita harus membahagiakan orang tua kita, salah satunya adalah untuk membalas jasa-jasa mereka. Pun begitu, kasih orang tua terutama ibu, seperti sang surya menyinari dunia. Tidak pernah habis. Tak kan mampu kita membalas semuanya. Ya, dengan apapun itu.

Finish what you start. And start it from a reason. Strong why!

Pun sama dengan menjadi penulis. Atau saat menulis sebuah tulisan. Aku harus punya tujuan. Lalu alasan yang sangat kuat KENAPA aku harus bisa mencapai tujuan itu.

Baiklah. Aku memang SANGAT INGIN SEKALI menjadi seorang penulis. Ya, meskipun pernah ku dengar kata orang. 'Menulis tidak akan membuatmu kaya'.

But, i write not to be rich. I write to get closer with God. To be more usely as a human. To be reminded. Yeah, that's all my reason and strong why.

Alasan aku menulis, dan ingin menjadi penulis memang bukan karena uang. Karena suatu saat uang akan habis. Tapi alasan yang sesungguhnya adalah, aku hanya ingin dekat dengan Sang Pencipta. Dengan menebar manfaat bagi sesama manusia misalnya. Berbuat baik dan menciptakan perubahan dengan apa yang kutulis contohnya.

Lebih dari itu, alasan kuat lainnya adalah, aku hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Saat aku meninggal nanti, bukan hanya nama yang aku tinggalkan.

Tapi karya, buah pikiran, perubahan untuk anak cucuku kelak. Bahkan dunia kalau perlu.

Ya, alasanku tetap menulis adalah aku ingin mengkristalkan peristiwa. Mengekalkan kenangan dalam sebuah tulisan. Lalu, biarlah semua yang kutulis nantinya, ter-imaji dalam benak pembaca. Biarlah mereka juga mengenangnya dalam benak masing-masing.

Dengan menulis, hidupku menjadi lebih hidup. Lebih berarti. Then, i'll write for ever and ever again.

xoxo,

Risma Ariesta

Friday, December 25, 2015

PASSPORT TO HAPPINESS GIVEAWAY - GAGAS MEDIA DAN ACER




“Perjalanan itu menyembuhkan.”

Adalah sedikit dari sekian banyak quote indah dari buku terbaru kak Ollie, Passport To Happiness terbitan Gagas Media. Yang juga merupakan buku yang menjadi tema dari Give Away dari Gagas Media ini dengan judul yang sama, Passport To Happiness. Passport menuju kebahagiaan.

Bicara tentang bahagia, sebenarnya aku adalah siswi kelas 3 SMK penganut paham, ‘bahagia itu sederhana’. Ya, tak ada sesuatu yang benar-benar mewah di dunia ini. Karena semua yang diciptakan-Nya, kelak hanya menjadi fatamorgana dan fana belaka. Semua yang ada akan tiada suatu hari nanti. Tapi, dunia yang fana ini adalah labuhan hidup yang sangat menentukan bagaimana hidup kita kelak di tempat kekal suatu hari nanti, kampung akhirat.

Hmm.. Kembali  ke bahasan utama Give Away ini. Passport To Happiness, perjalanan menuju kebahagiaan. Seingatku, tempat-tempat yang pernah kukunjungi selama hidupku tidak seindah tempat yang diceritakan kak Ollie dalam bukunya. Maupun yang teman-teman lain ceritakan dalam event ini. Namun setelah banyak mengingat, akhirnya aku menemukan beberapa tempat yang pernah membuatku bahagia. Beberapa perjalanan menuju tempat itu, yang membuatku bahagia. Ingatanku mengawang pada perjalanan-perjalanan yang pernah kulakukan beberapa tahun silam atau bulan-bulan lalu.

Pertama, beberapa bulan yang lalu, sekitar pertengahan bulan September. Aku bersama kelima temanku: Ayuk, Noki, Aqil, Berno, dan Wawan. Berkunjung ke Hutan Mangli, di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah dalam rangka keperluan syuting film untuk lomba yang akan kami ikuti. Kami berenam berangkat dari Borobudur pukul 9 waktu itu. Menyusuri jalan raya Magelang sekitar satu setengah jam dengan motor. Membuat pantat ini panas rasanya berlama-lama duduk di jok motor. Hmm, walaupun hanya sekadar membonceng, tapi rasanya tetap capek! Di sepanjang jalan, aku melihat deretan pinus yang seperti menyengat  penglihatanku yang mulai terkantuk-kantuk. Sungguh, deretan pohon pinus yang rindang dan dingin itu mampu membius mataku seketika itu juga. Hutan Mangli, tempat para pinus hidup dan berdiri dengan kokoh ini baru kutahu terletak di kaki Gunung Andong. Sungguh kebetulan yang membahagiakan! Ingin rasanya aku mengajak teman-temanku itu mendaki Gunung Andong yang sangat terkenal di kalangan para pendaki itu. Tapi, tidak lucu kan kalau mendaki gunung di siang hari bolong? Haha. Akhirnya kami pun hanya bisa menikmati jajaran pinus yang melingkupi kami bak sejuta tabir yang memisahkan antara langit, udara bebas, dan tanah tempat kami berpijak. Suasana dingin mendominasi hutan pinus yang permai ini. Dalam hati, aku berjanji pada diriku sendiri untuk kembali ke tempat ini. Selain itu, Hutan Mangli memberiku kenangan tentang persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya tetap menjadi sahabat saja, bukan lebih. Ya. Sekarang, aku banyak belajar dari para pinus yang sedang memenuhi memori dalam ingatanku. Untuk tidak pernah berharap lebih pada seorang teman. Untuk tetap berdiri dengan kaki sendiri dengan kokoh dan gagah. Meskipun bersama-sama, terkadang juga menyenangkan. Senyum getir akhirnya menghiasi wajahku setelah mengingat kembali kenangan yang  telah berlalu itu. Namun setidaknya, aku pernah bahagia bersama mereka.


Kedua, saat aku masihlah seorang anak kecil enam Sekolah Dasar dengan segala kepolosannya. Masih segar dalam ingatan. Ketika dulu, aku sering bersepeda sepanjang pagi, pun siang, bahkan sore bersama teman-temanku. Ke persawahan, jalanan berbatu, perkampungan penduduk desa lain, kemanapun! Asalkan perjalanan yang ku lalui bersama mereka, aku merasa hidup ini lebih hidup. Seakan dunia ini, Tuhan ciptakan hanya untuk kami, bersepeda dan mengembara. Aku ingat saat semua temanku – dengan sepeda mereka masing-masing, dan seragam yang masih mereka kenakan. Berkumpul di depan rumahku, menghampiriku, mengajakku bersepeda kemanapun angin akan membawa kami berkelana menjelajahi semesta. Lalu dengan senyum yang kelewat lebar, aku tak sabar mengucap salam pada ibu dan bapakku, seraya berpamitan mencium tangan mereka. Begitulah seterusnya setiap hari sepulang sekolah. Nana, Erni, Monika, Mukas, Fajar, Tyo, Bagus. Tujuh nama yang tak akan pernah ku lupa. Mereka selalu berjasa setiap harinya. Membuat senyum di bibir ini tak pernah redup karena kebahagiaan yang mereka berikan. Ya, setidaknya asalkan bersama mereka, ke manapun tujuannya, aku bisa bahagia. Sayang, mengabadikan momen dalam bentuk foto belumlah terlalu penting bagi kami saat itu.

Pada akhirnya, waktu membawaku bersama kenangan-kenangan tentang bahagia itu dalam tahap menuju kedewasaan diriku.

Ketiga, ketika aku memasuki tahun-tahun pertama di Sekolah Menengah Pertama. Senang sekali rasanya, aku mampu memasuki sekolah favorit di daerahku. Namun karena letak sekolah dengan rumahku yang cukup jauh, membuat bapak jadi ikut-ikutan aku berangkat ke sekolah. Sederhananya, bapak jadi harus meluangkan waktunya setiap pagi untuk mengantarku dengan motor jadulnya. Tapi, disitulah letak bahagianya. Bukan tentang seberapa bagus jalan yang kami lalui untuk menuju sekolahku itu. Tapi tentang momen bersama bapak yang selalu bisa kunikmati setidaknya setiap hari di pagi hari. Kali ini, aku benar-benar menjadi penganut paham, ‘bahagia itu sederhana’. Ya, sesederhana berangkat ke sekolah dengan membonceng motor jadul bapak. Beranjak dewasa, membuat arti dari bahagia menjadi sesederhana itu.

Sekolah. Tempat menimba ilmu, memupuk mimpi, mengasa harap, menambah pengalaman, mencari teman, bahkan mengisi waktu luang. Sekolah selalu se-krusial itu dalam pikiranku. Pun momen di pagi hari saat aku kembali melalui perjalanan menuju ke sekolah bersama bapak. Bapak. Pria inilah yang tak pernah letih atau pun bosan untuk mengantarku berangkat ke sekolah setiap paginya. Seperti aku ini pelanggan ojeknya yang sangat setia. Haha. Tapi tidak seperti itu, kok. Aku hanya ingin saja selalu menikmati momen kebersamaan dengan bapak sebelum akhirnya aku tak bisa menikmatinya lagi. Sensasi duduk di belakang kemudi bapak adalah yang selalu ku rindukan tatkala hari-hari libur seperti hari ini (saat aku menulis, ini hari libur). Aku mendadak bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang seorang bapak yang sangat dalam dan murni terhadap putri kecil kesayangannya ini. Hmm, bapak tak terlalu suka difoto.
Keempat, tempat dimana akhirnya aku selalu pulang. Tempat yang merupakan muara dari setiap perjalanan yang ku tempuh. Rumah. Aku selalu bahagia berada di rumah. Pun jalan menuju pulang ke rumah. Tempat semua penatku akhirnya terobati. Tempat segala harapan, mimpi, serta kebahagiaanku bermula dan akhirnya berakhir pula. Rumahku adalah rumah sederhana yang dipenuhi banyak jendela. Rumah dengan ruangan-ruangan sederhana, dengan sekat-sekat yang sering. Sekat yang membagi semua ruangan dengan bagian-bagian yang membuat ruangan dari rumah ini terkesan ‘banyak’. Ya, rumah kecil dengan dinding separuh triplek, dan separuh lagi batu bata yang dingin, namun hangat karena kasih sayang dan keharmonisan. Aku tumbuh dan besar di tempat ini. Aku menjadi diriku yang sekarang karena tertempa di tempat ini juga. Aku yakin, tak ada tempat indah selain rumahku sendiri. Karena sesederhana atau seburuk atau sebagus apapun kondisi rumahku, ia tetaplah rumahku. My home sweet home. Ini ayah, ibu dan adik kecilku. Aku yang memfoto.

Kesimpulannya, setiap tempat selalu mempunyai kisah dan bahagianya sendiri-sendiri. Entah itu jauh atau dekat. Sederhana atau mengagumkan. Kuno atau modern. Asalkan bersama orang-orang terkasih, mudah-mudahan bahagia itu tak perlu dicari. Tapi datang dengan sendirinya.

Dan pada akhir dari tulisan ini, aku hanya ingin sedikit curhat. Haha. Ya, aku mengikuti Give Away dari Gagas Media ini tentunya mengharapkan hadiah yang diiming-imingkan. Apalagi kalau bukan smartphone alias hp? Hehe, jadi sebenarnya begini, saat aku pergi ke suau tempat bersama teman-temanku, salah seorang teman meminjam hpku. Dan karena sesuatu yang membuatnya antusias, tanpa sadar ia menjatuhkan hpku yang membuat layarnya menjadi pecah seperti ini.
Huhuhu. Sedih sekali rasanya menggunakan hp tak beres ini selama 4 bulan terakhir ini. Sedih juga karena temanku itu tidak mengganti biaya ganti rugi secara penuh. Huhu curhat lagi ini :’( Pada akhir sekali dari tulisan ini aku hanya bisa berdo’a satu hal pada Allah untuk bisa membujuk admin Gagas Media dan pihak Acer untuk melirik tulisanku ini lalu memenangkannya sebagai pemenang smartphone Acer itu semoga :D
Hahaha ngarep pisan euy :D