Showing posts with label Fake. Show all posts
Showing posts with label Fake. Show all posts

Sunday, July 2, 2017

On Going : Perintilan Hari Ini

Hari ini baru hari ketiga we kembali menginjakkan kaki di tanah Jiran ini. Eh, udah diajak main aja sama kakak senior. Nggak main sih sebenernya. Cuman disuruh nemenin beli sesuatu.
.
Wqwq plisdeh. We kira cuman bakalan sebentar. Beli barang yang dituju, lalu pulang. Eh ternyata enggak. Doi malah ngajak uwe buat ke Game Zone. Hahaha.
.
Padahal, we bukan orang yang suka nge-game. Hape aja nggak ada aplikasi game-nya. Eh, ini diajakin ke "gudang"-nya game sungguhan. Plisdeh. Seorang uwe baru pertama kali seumur hidup buat bener-bener mainin permainan yang ada di sana.
.
Karena main gobak sodor, petak umpet, kasti, udah uwe alamin waktu dulu kecil. Sekarang permainan-permainan itu bermetamorfosa menjadi sebuah candu. Ya candu yang bisa diterima positif atau negatif. Tergantung siapa yang nerimanya.
.
FYI aja, we orangnya jarang banget bisa have fun. Nikmatin hal-hal gila tanpa beban. Yah, jarang. Bahkan hampir nggak pernah. Nggak tau deh. Mungkin hidup we terlalu serius. Terlalu sepaneng. Terlalu saklek. Dan kadang we merasa itu nggak enak. Tapi pun, kadang enak-enak aja. Tergantung mood we nikmatinnya gimana.
.
Tapi hari ini, kakak senior we ngajak we gila-gilaan sampe akhirnya we gila beneran -_- gakgak candaa.
.
We main balap mobil, ngedance, dan game yang kayak Guitar Hero tapi pemainnya harus loncat-loncat di atas stage yang uwe nggak tau apa nama permainan ini. Yah. Loncat-loncat, ketawa-ketawa, teriak-teriak. That's all hal gila yang uwe lakuin hari ini.
.
Saat main permainan yang di stage itu, ada satu lagu yang ternyata we suka denger iramanya. Last Rebirth. Nggak taulah we. Itu judul lagunya atau nama penyanyinya. Yang penting we suka iramanya. Kek anime-anime gimana gitu. Jadi enak.
.
Dan payahnya. We pulang larut lagi. Hahaha. Tapi pulang larut nggak mesti nakal kok. We tetap berpegang teguh pada diri we sendiri. We gak akan nakal. Walaupun di perantauan ini we gak sama ortu. Walaupun sebenernya banyak godaan dan peluang buat we bisa nakal. Tapi nggak. Nggak akan dan nggak bakal we pilih. Sekalipun nakal adalah opsi terakhir yang ada di dunia ini. We pilih mati aja. Pindah alam ke akhirat.
.
Ketahuilah gengs, setiap apa yang kita lakukan, kita pilih, dan kita putuskan di dunia ini tidak terlepas dari penglihatan Allah di dalamnya.
.
We takut. Kalau nanti we jadi nakal, we nggak bisa balik jadi baik lagi. Walaupun sekarang we juga masih belum baik. Tapi setidaknya, we akan terus mencoba menjadi baik. Karena kebaikan itu bukan dilihat dari siapa yang melakukan. Tapi apa yang dilakukan.
.
Jadi, biar bagaimanapun juga situasi dan kondisinya, we akan tetap memilih menjadi baik. Dan berusaha untuk lebih baik.
.
Kebaikan itu amal. Tabungan kita pribadi untuk masa depan. Apabila kita melakukan kebaikan untuk orang lain atau diri kita sendiri, mungkin kita lelah. Tapi, jangan pernah mengeluh apalagi berputus asa. Karena dengan kita terus melakukan kebaikan, lelahnya akan hilang. Dan pahalanya akan tetap ada.
.
Jadi, jangan bosan berbuat baik.
.
.
.
In the Train.
.
Ternyata nggak cuman di Indonesia aja ada orang-orang yang yang nggak taat sama aturan. Keknya penyakit itu hampir menjalari semua manusia di dunia ini, deh.
.
Buktinya, saat uwe udah berada di train khusus cewek, masih aja ada cowok di sana. Padahal, peraturannya udah disiarkan dan dijelaskan lewat  pengeras suara berkali-kali. Apa mungkin kurang jelas? Atau mereka yang nggak denger?
.
We heran. Kenapa gitu. Kayaknya peraturan itu seperti diciptakan memang untuk dilanggar. Hidup jadi kayak nggak seru kalo nggak ngelanggar peraturan.
.
Ah. Jadi keinget we sama peraturan yang seharusnya banget kita taatin. Apalagi kalau bukan Al-Qur'an. Selaku muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kayak nggak pantes banget yah. Kita hidup di dunia ini tanpa menaati peraturan yang udah dibuat Allah di dalam Al-Qur'an. Malah kadang, ianya kita cuekin. Nggak kita baca dan resapi artinya. Kita malah sibuk sama gejet yang entah akan bisa membawa kita ke surga-Nya atau enggak. Dan malah mengesampingkan Al-Qur'an yang bahkan udah jelas dijamin Allah bisa membawa kita ke surga-Nya.
.
Astaghfirullah. Ini tamparan buat we dan kalian semua gengs. Renungilah diri ini. Tangisilah jiwa ini. Yang kosong dan kering kerontang tanpa adanya niatan untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik.
.
Menangislah kita tatkala kita tidak bisa lagi menangis karena hal-hal yang berbau keagamaan atau kemanusiaan. Tangisilah diri kita yang cupu sekali imannya. Tangisilah hati kita yang tidak bisa lagi merasa. Yang keras ini. Yang sungguh terlalu tidak bisa disentuh oleh apapun.
.
Jangan hanya menangis karena putus cinta. Jangan hanya menangis karena dilukai manusia. Sungguh. Kita ini terlalu cupu dibanding anak-anak kecil Suriah. Kita terlalu lemah daripada mereka.
.
Mereka menangis karena kehilangan keluarga tercinta, kehilangan rumah, kegilangan kasih sayang, kehilangan segalanya. Tapi, mereka bisa lantas bangkit. Karena apa? Karena mereka masih punya Allah. Masih ada harapan untuk mereka menuai kebahagiaan yang hqq. Yang sebenar.
.
Malulah. Malulah saat diri masih terlalu naif dengan dunia. Termasuk diri ini. Yang juga tak pernah luput dari dosa. Astaghfirullah. 😢
.
.
.
Still in the train.
.
Wow! Transportasi umum di negara ini selalu penuh sesak oleh orang-orang asli negara ini. Dari keturunan Melayu, Tionghoa, dan India.
.
Ya. Setahu uwe ada 3 suku besar seperti tersebut diatas yang menjadi penduduk asli negara Malaysia. Kek yang di Upin & Ipin itu lho. Tokoh-tokohnya kan juga mengambil dari 3 suku besar tersebut. Tapi sebenernya ada banyak juga ding. Kata Kak Wikipedia ada 19 suku yang disebutkan. Eh, kalau di Malaysia disebutnya kaum ding bukan suku.
.
Upin, Ipin, Mail, Ehsan, Fizi, Ijat, Zul, kak Ros, Opah, Atok Dalang, Bang Saleh, dll kan dari suku Melayu tuh. Sedangkan Mei-Mei, Koh Atong, dll dari suku Tionghoa. Jarjit, Uncle Mutu, Devi, dll dari suku India.
.
Kalau ditempatku sih, kebanyakan suku India Tamil. Dan orang-orangnya pun nggak seperti yang kayak di film-film itu. Searching aja deh kalau kepo suku India Tamil kayak gimana.
.
Dan saat masih di train tadi, ada satu cewek India Tamil yang we lihat. Dia kebetulan kebagian duduk di bangku penumpang. Sedangkan we berdiri. Karena emang di train itu, nggak disediakan banyak kursi buat penumpang duduk. Jadi, berdirilah we.
.
Dan saat kebetulan mata we menemukan sosok dia, ternyata dianya punya mata cokelat tua yang terang. Tapi cokelatnya nggak kayak mata uwe yang buthek. Cokelatnya tuh bening gila. Dalam hati we langsung mengakui kalau dia cantik. Padahal, dia nggak seputih cewek-cewek Tionghoa ataupun Korea. Ya, cantik emang nggak harus selalu putih. Ups. Hehe uwe nggak bermaksud buat rasis ya. Karena ini berdasarkan sudut pandang we pribadi. Don't judge me. Wqwq.
.
Tapi, menurut we lagi. Cewek-cewek itu masih kalah cantik sih sama muslimah berhijab lebar. Atau muslimah berniqab yang tadi nggak sengaja we temuin pas lagi nunggu train yang lama kali tu.
.
Ya, saat uwe masih nunggu train tadi, tetiba ada 2 akhwat berniqab (cadar) duduk di samping we. Pada saat itu juga, we membatin, "MaasyaAllah. Subhanallah. Kapan we bisa se-istiqomah mereka? 😢😢😢"
.
Ya. Harus pakai emot berkaca-kaca tiga kali. Karena emang we selalu salut sama muslimah-muslimah yang mati-matian buat tetep bisa menjaga izzah dan iffah-nya.
.
Izzah adalah kehormatan perempuan sebagai seorang muslimah. Sedangkan Iffah adalah bagaimana seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka.
.
Ya. We abis searching tentang arti kedua kata tersebut. Karena memang, we sangat fakir ilmu dalam hal-hal semacam itu. We sadar. We paham. We belum sepenuhnya baik. Jadi, we emang harus terus belajar dan belajar. Sampai nanti. Sampai nafas we udah sampai di kerongkongan.
.
Betewe nggak hanya itu. We pun juga melihat seorang laki-laki nyunnah berjenggot panjang. Dengan pakaian yang tidak isbal. Dan we selalu salut sama orang-orang seperti ini. Yang tetap menjaga. Dan berusaha untuk terjaga. Yang bisa menjalankan sunnah Rasulullah SAW ditengah gemerlapnya zaman yang udah makin nggak karuan ini.
.
Lalu we bertanya lagi dalam hati, "Apakah kelak we bisa menemukan lelaki seperti ini dalam hidup we nanti? Apakah we bisa bersama dengan seseorang yang berpegang pada sunnah dan selalu mengutamakan dakwah? Atau justru, akan ada sesosok laki-laki yang datang ke bapak we kelak. Dan berjanji akan memperbaiki diri bersama-sama sama uwe?"
.
Ya Allah. Maut, rezeki, jodoh. Memang telah Kau atur semuanya. Memang telah kau persiapkan segalanya. Lantas, kenapa we terus-terusan enggak tenang mikirin  hal-hal yang udah pasti tersebut?
.
Kenapa justru we sering khawatir terhadap apa yang seharusnya we terima aja kehadirannya?
.
Astaghfirullah.  Ya. Kita butuh banyak istighfar. Karena buat masuk surga, nggak segampang membalikkan telapak tangan.

Saturday, December 10, 2016

Syukuri

Setidaknya, aku masih bisa bersyukur.
Setidaknya, Allah telah memberiku kelebihan lain.
Setidaknya, aku percaya akan ada keajaiban suatu saat nanti.

Bersyukur lebih banyak, bahagia lebih banyak.

Berusaha lebih banyak, dapat hasil yang sesuai.

Hidup bukan tentang pandangan orang lain. Tapi tentang cara kita bersyukur atas apa yang telah kita miliki.

Thursday, November 17, 2016

Mengenang Kembali Untuk Melupai

Hari ini, 365 hari yang lalu. Selamat mengulang kembali kebahagiaan Anda dengan orang lain. Akhirnya, saya hanya bisa mengucap terimakasih dan meminta maaf dengan banyak atas segalanya.

Saya tahu saya sudah dilupakan. Tapi perlu kamu tahu, saya juga sedang berusaha melupakan. Ya, kamu dan kenangan-kenangan memang belum sepenuhnya hilang dalam ingatan. Tapi sekarang, sedang benar-benar saya kubur dalam dan sembunyikan.

Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Hari-hari yang saya pikir sempat indah dulu, terlampaui begitu saja dengan sendu. Pun banyak emosi yang telah saya rasai. Saya pernah menangis, bahagia, terluka, karena Anda. Dengan Anda. Anda yang selalunya membuat hati saya kala itu tidak menentu.

Sering saya meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah saya buat. Entahlah. Hanya saja, saya selalu merasa bersalah saja kepada Anda. Sampai suatu hari, saya lupa caranya memaafkan diri saya sendiri.

Seperti hari ini. Maaf. Karena telah pergi tanpa permisi, dan mungkin tidak akan kembali lagi. Karena saya sekarang, adalah saya yang baru. Yang tidak lagi terlalu banyak mencintai sehingga sulit untuk pergi.

Mungkin, sesuatu seperti mengenang kembali adalah yang paling sakit untuk hati. Terlebih, kenangan yang dulu manis menjelma pahit yang memang susah untuk mati. Mungkin sekedar pergi belumlah cukup untuk berpura pura tak tahu akan kisah yang dulu pernah dan sempat terlewati.

Sekedar pergi hanya mampu menahan pilu untuk sebentar. Yang akhirnya, memaksa diri untuk kembali berpura-pura menjadi tegar.

Maaf. Karena mungkin terlalu sering membuat sakit hati. Yang tak jarang, mampu mengalahkan tajamnya belati.

Emm.. Saya lupa mau bilang apalagi. Meminta maaf atau berterima kasih terlalu banyak pun, tidak baik pula untuk hati dan jiwa ini. Haha. Saya mulai mengasihani diri sendiri. Entahlah. Sudah tak ada inspirasi. Mungkin juga, karena Anda telah pantas untuk saya lupai.

Tuesday, December 15, 2015

Sabtu Malam



Sabtu malam pukul tujuh lebih enam belas menit. Sabtu yang dingin dengan hujan. Sabtu yang gelap karena malam. Sabtu malam yang kelam. Sabtu kedua tanpa percakapan AKU dan KAMU.
Sebenarnya, aku sudah sangat mengantuk sekarang. Padahal baru pukul tujuh. Mungkin karena Matika yang kuperjuangkan pagi tadi, telah banyak menguras energiku untuk malam ini. Untuk bergadang menyelesaikan sesuatu yang pernah ku mulai bersamanya. Sesuatu yang merupakan buah dari pemikirannya. Sesuatu yang masih bersisa dari KITA. Dan yup, ternyata aku menuliskan perihal tentang kamu tanpa ku sadari. Seakan, menulis tentangmu adalah kebiasaan yang kini dengan sangat terpaksa harus ku tinggalkan ketika pada akhirnya aku mulai terbiasa.

Merelakan dalam hubungan yang kau mulai lalu kau usai sendiri ini, bagiku sangat sulit. Cukup sakit jika terus saja kupaksakan. Ingin rasanya aku berhenti saja menjauhimu. Ingin rasanya aku kembali saja berjalan ke arahmu. Kalau perlu aku kan berlari agar cepat sampai. Lalu dengan segala rasa atas nama rindu yang sudah tumpah-tumpah dari wadahnya, aku ingin segera berhambur memelukmu.
Tapi bicara apa aku ini? Masihkah seorang teman perempuan memiliki hak untuk berbicara perihal cinta kepada teman laki-lakinya? Masihkah boleh seorang teman perempuan dengan sangat berharap menginginkan kabar dari teman laki-lakinya? Masihkah tidak apa-apa jika temanmu ini memikirkan dan mengharapkan hal-hal semacam itu?

Karena kehilangan, adalah hal yang paling lama disesap waktu dalam tahap peratapan sakit cinta ini. Dia tak akan bisa menghilang secepat itu dari sebentuk hati yang pernah sama-sama merasakan indahnya cinta. Itu bagi hatiku, sih. Bagaimana hatimu, peduli apa temanmu ini?
Teman. Teman katamu?

Apa ini yang namanya teman: jika bertemu tak saling sapa. Jika dalam satu ruang dan waktu yang sama tak saling tanya. Jika perpisahan ini akhirnya hanya meninggalkan berkas-berkas kebencian antara kita. Teman katamu? Jika semua yang pernah kita bangun bersama harus berakhir senista ini.
Teman adalah seorang sahabat, kawan, seseorang yang ada disaat orang lain membutuhkannya. Pun sebaliknya. Teman merupakan hubungan mutualisme dari dua orang atau lebih yang saling memiliki keterikatan emosional.

Jika aku benar seseorang yang kau anggap temanmu, biarkan aku berekspresi. Karena seorang teman selalu mendukung temannya, bukan? Karena seorang teman tidak mungkin dengan tega meninggalkan temannya disaat tersulitnya, bukan? Seorang teman itu pendukung, penyemangat. Bukannya acuh tak acuh dan justru penurun mood.

Permintaan terakhirku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu adalah: izinkan aku tetap ada dalam hidupmu (bukan hati dan pikiranmu) sebagai orang yang tetap kamu butuhkan. Karena ketahuilah, berlepas diri atasmu tidaklah semudah kelihatannya. Tidak pula sebercanda perasaanmu terhadapku.

Sabtu malam adalah yang paling istimewa, sepertimu. Terimakasih atas segalanya, temanku tersayang.

Monday, December 7, 2015

Teruntukmu..



                Satu hari tanpa percakapan denganmu.
Aku, adalah tunggu menjelma sabar yang selalu menantimu kembali (lagi).

Aku, adalah kasih sayang di antara kita yang belum benar-benar kita sempurnakan.

Aku, adalah rasa tak ingin kehilangan yang nyatanya sesegera mungkin kau usir pergi.

Lalu aku menjadi kenangan tentang kita yang tak ingin benar-benar usai.

Lalu aku menjadi kehilangan yang sampai saat ini masih harus kau suruh bertahan sendiri.

Hingga pada akhirnya, aku adalah aku yang menyayangimu dengan tulus.

Aku, bahkan tak pernah tau bagaimana denganmu? Karena rasa peduliku saat ini hanya memperkenalkan siapa aku setelah tak lagi kau perhatikan.

Aku, hanya tak ingin kau campakkan!

Aku, hanya tak ingin hangat percakapan kita usaikan!

Aku, hanya tak ingin kita buru-buru kembali menjadi aku dan kamu!

Tapi kamu, apakah sudah melupakannya? Melupakan semua yang pernah kita ciptakan? Melupakan semua yang belum sempat kita sempurnakan, lalu dengan tanpa alasan memilih untuk terburu pergi?

Sungguh, jemariku seperti tersengat oleh sesuatu bernama rasa yang menggebu untuk mengungkapkan semua kekesalanku padamu. Perasaan sangat marah karena kau sukai tanpa alasan, kemudian kau tinggalkan tanpa alasan pula.

Rasanya aku ingin pergi tapi tak mampu.

Rasanya aku ingin meninggalkan tapi tak mau.

Rasanya aku ingin kita kembali menjadi kita, tapi ku ragu. Setelah kau kecewakan dengan percuma. Karena perasaan ini hanya kau anggap bual belaka.

Kumohon, jangan begini padaku. Aku yakin kamu ingin serius denganku. Tapi apa ini keseriusanmu yang sebenarnya? Apa ini yang kau sebut rasa sayangmu kepadaku yang sesungguhnya?

Datang dan pergi sesuka hati tanpa alasan. Tidakkah kamu pikir kamu begitu egois? Meninggalkan gadis kecil ini sendirian. Tega sekali kamu!

Sungguh tak apa jika kamu memintaku harus kembali sendirian. Tapi setidaknya, berikan aku alasan! Agar aku dapat dengan ikhlas merelakan! Maka, nantinya aku juga bisa pergi dengan senyuman.

Thursday, August 20, 2015

Diary Dia

Aku pernah lupa rasanya tersenyum diam-diam ketika bisa bercakap dengan seseorang yang mengerti duniaku-- dunia yang tak pernahdimengerti siapapun.

Aku meraih ponselku di saku celana. Menghidupkan data seluler, lalu menunggu beberapa saat. Kemudian secara bersamaan pemberitahuan-pemberitahuan dari akun media sosialku bermunculan. Menggetarkan ponselku berkali-kali, sampai sesekali lemot untuk disentuh.

Aku membuka pemberitahuan itu satu per satu. Melihati masing-masing akun yang berbeda. Tapi aneh, saat tiba di sebuah pemberitahuan di akun twitterku. Saat membuka notifikasi, hatiku menjadi besar karenanya.

Karena orang yang membuatku tersenyum diam-diam itu mengikuti akun twitterku.

Seumur-umur aku mengenalnya, yang ada aku yang selalu mengikuti akun-akunnya terlebih dulu. Tapi kali ini aneh. Ada yang berbeda dari orang itu. Belakangan ku sadari, setelah hari hari yang berat, aku tak lagi merindukannya. Bukan berpaling kepada laki-laki lain, tapi lebih memilih pergi. Menjauh dari dia, kehidupannya, dan segalanya tentang orang itu.

Lalu belakangan ku ketahui, ternyata hubungannya dengan sang pacar tak lagi sama. Kelihatannya mereka berpisah, setelah beberapa drama putus-nyambung yang mereka alami. Aku kok tahu? Apalagi kalau bukan hasil stalking. Ya, meskipun aku menjauhinya, aku tak pernah menjauhi blognya. Buku diary nya. Aku tak pernah melewatkan satu pun postingannya yang tak ku baca.

Lalu diam-diam aku mengagumi tulisannya. Gayanya dalam menulis seperti sang idola, Raditya Dika. Aku sukw caranya memaparkan kisah hidup yang pernah ia alami. Suka saat dia menyebutkan orang-orang yang berpengaruh dalam hidupnya, termasuk dang ibu yang menurutnya overprotektif, namun sangat penyayang dan penyabar. Aku tahu ini juga dari blognya.

Namun kurasa aku tak pernah sekalipun ia ceritakan. Dalam status status facebooknya yang jenaka, postingan blog yang renyah namun tetap miris, dan entah di dalam hatinya. Belakangan, aku memang tak pernah berharap lebih. Tersenyum bersamanya pun adalah kebahagiaan tersendiri, sampai saat ini. Terlebih lagi yang lainnya.

Ah sudahlah, aku tak ingin membahasnya lagi. Aku ingin pergi lagi.

Yang Orang Itu Pikirkan Tentang Aku..

Gadis bermata sayu itu masih memandangiku. Aku menyadarinya, namun tak pernah kuhiraukan dia. Selalu seperti ini.
Saat kami berpapasan pun, tak ada salam maupun sapa. Aku takut menumbuhkan harapan di hatinya.
Karena sebenarnya, aku tak pernah ingin memberi harapan kepada siapapun. Begitu juga kepada gadis ini. Aku tak ingin menyakiti hati orang lain yang mengharapkanku. Sekeras mungkin aku mencoba untuk cuek padanya.
Dia menyukaiku. Dan aku tahu itu.

Friday, July 10, 2015

Smile With A Fake



Raut muka bahagia, dengan fake smile.

Mungkin aku harus menampakkan raut muka kayak begini kalo ketemu orang itu. Ya, pura-pura bahagia di depannya dengan senyum palsu.

Senyum palsu yang ku maksudkan bahwa aku turut bahagia dengan kebahagiaannya saat ini.
Mungkin terbaca dan terdengar konyol. Tapi memang inilah yang terjadi. Aku bahkan selalu terlihat bodoh dan konyol di matanya.

Kuucapkan selamat atas kembalinya perempuan yang sangat kau cintai kedua setelah ibumu itu. Aku turut bahagia mendengarnya. Cih.

Dalam layar monitorku, aku membaca kebahagiaanmu yang kau tulis di suatu tempat yang dapat ku baca setiap hari. Aku merasakaan kebahagiaanmu saat itu juga. Ku akui, kamu memang seorang yang pandai merangkai kata, terutama untuk membuat orang tertawa.

Semakin hari aku membaca tulisan-tulisanmu, aku selalu melihat perkembangan yang cukup lumayan di sana. Meski kurasa ada banyak typo atau EYD yang kurang tepat, tapi kau berhasil menciptakan sebuah rekahan senyum di bibir ini. Ya, tanpa sadar aku tertawa saat membacanya. Kurasa, kau telah menemukan gayamu dalam menulis. Dan kau berhasil membuat semua orang tanpa sadar larut dalam tulisan-tulisan itu, dalam kehidupanmu.

Perasaanku. Perasaanku lagi-lagi terlalu lunak padamu. Seperti yang kau tahu, aku memang payah. Aku lemah terhadapmu. Aku bahkan bingung dengan diriku sendiri. Pun dengan hati dan pikiranku. Aku tak bisa mengendalikan mereka sesuai perintah otakku. Mereka selalu saja berbuat seenaknya. Dan sialnya, aku tak dapat mencegahnya.

Dasar payah!


You can fake your smile, but you can't fake your feelings.

Thursday, July 9, 2015

Jejak Keberuntungan

Aku berjalan sendirian. Selalu sendirian. Tak pernah tau kemana angin kan membawaku. Tak pernah takut akan gelap ataupun dingin. Mereka sahabatku. Sahabat terbaikku. Semesta yang mengajariku bersahabat dengan mereka.

Namaku Rinda. Usiaku baru dua belas tahun seminggu yang lalu. Dan aku sendirian. Benar-benar sendirian. Aku tak memiliki satupun teman. Keluarga pun tidak. Mungkin, ayah ibuku pun tak menginginkanku terlahir di dunia.

Tuhan, malang sekali nasibku. Aku selalu berteriak pada semesta saat langkah kakiku membawa tubuh mungil ini kepada tepian bukit di pegunungan.

“SEMESTA! BUNUH SAJA AKU! LUMAT SAJA TULANG-TULANGKU! TELANLAH TUBUH INI DALAM PERUTMU!”.

Sering sekali aku menangis bersama rimbun dedaunan yang terkadang gugur di hamparan rimba. Tak peduli bahaya mengancamku. Justru bahayalah temanku. Aku sering berdialog dengan pohon, tempat para ular melilitkan tubuhnya.

“Wahai pohon, beruntung sekali dirimu. Banyak binatang yang mau singgah di tempatmu.”

“Tak pernah merasakan dinginnya rimba, tak takut menghadapi gelapnya malam. Dan juga, tak sekalipun merasa sepi.”
Dan pohonpun hanya terdiam.

Aku tersenyum getir merasai keadaanku sekarang. Sering aku berpikir bahwa Tuhan sangat tidak adil padaku. Bahwa hanya akulah, hamba-Nya yang paling tidak Ia cintai. Aku bahkan tidak berpikir bahwa aku pernah mengenal Tuhan. Karena tidak ada yang mengajariku tentang hal itu.
Seperti yang telah kalian ketahui, aku sendirian. Dan selalu sendirian.
**

Suatu pagi, langkah kakiku telah membawaku ke suatu tempat. Tempat ini sangat ramai. Dimana banyak kendaraan berseliweran, orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan mereka bahkan tak saling kenal satu sama lain.

Aku duduk diam di depan sebuah bangunan berdinding kayu. Di atas pintunya ada beberapa hiasan bagus. Aku tak tahu pasti apa itu. Firasatku mengatakan kalau itu adalah tulisan.

Sayangnya, aku tak bisa membaca. Jadi aku tak akan pernah mengetahui apapun di dunia ini. Sekali lagi, aku mengasihani diriku sendiri. Betapa malangnya aku, betapa sialnya nasibku.

Aku bagaikan mahluk asing dari planet lain yang tersesat di bumi manusia.

Penampilan lusuhku membuat beberapa orang melihatku dengan tatapan jijik. Aku tak mengerti arti tatapan apakah itu. Tapi firasatku mengatakan, kalau mereka tidak menyukai keberadaanku.

Namun langkah kakiku terlalu lelah untuk melangkah lagi. Setelah menyusuri rel kereta seharian kemarin, tiba-tiba aku berada di tempat ini. Dan sepertinya tubuhku butuh istirahat barang sejenak.

Aku pun tanpa sadar telah membaringkan tubuh mungilku. Berusaha menutup mataku, walau apapun yang terjadi. Dan akhirnya aku terlelap.
**

Friday, May 29, 2015

STORY: Maaf, Aku Menyukaimu

Maaf, aku menyukaimu dengan segenap hatiku.

Maaf, aku menyukaimu dengan melibatkan semua perasaanku.

Maaf, aku menyukaimu tanpa bertanya padamu dulu.

Maaf, aku menyukaimu karena hatiku yang mengatakannya.

Maaf...

Tapi apakah kau tahu?
Setiap hari setiap waktu aku selalu berusaha menyembunyikan perasaan ini agar tidak terlihat bodoh di hadapanmu.
Kau tahu itu?

Tidak. Kau tak tahu dan tak pernah mau tahu.
Memikirkan orang yang menyayangimu adalah hal yang merepotkan bagimu.

Bukankah begitu?

Tapi saat aku menjadi diriku yang saat ini, aku sangatlah kerepotan.
Karena aku memikirkanmu.
Kuharap, aku bisa menjadi orang lain di lain waktu.
Agar aku tak lagi direpotkan oleh pikiran tentangmu, yang kadang menjengkelkan.

Dan jika saja hatiku bisa memilih,
aku pasti tak akan memilihmu untuk jadi orang yang ku sukai!
Yap, karena kau terlalu merepotkan bagiku.

Gomen ne.

Sunday, May 24, 2015

STORY: Rindu . (titik)

Sudah lama aku tak merasakan debar jantung yang begitu cepat seperti saat ini. Seakan jantung yang berdebar ini, akan jatuh dari tempatnya. Ya, baru sekarang aku merasakannya lagi. Saat bertemu orang itu setelah sekian lama. Mungkin aku begini karena sebagian hatiku merindukannya. Meski kehadirannya tak pernah di sisiku. Tapi aku bahagia. Walau hanya sesaat.

Bahkan untuk menuliskan postingan ini, tak ada satu pun inspirasi yang terbayang di otakku. Mungkin memori di dalamnya sudah penuh. Atau mungkin ada virus yang diam-diam menjangkit di sana. Ah, entahlah. Aku tak punya bahan tulisan. Pun sebatas topik. Hanya wajah lelaki dengan senyum semanis madu itu yang dapat ku bayangkan saat ini. Manis sekali. Mungkinkah aku suka padanya? Apakah jatuh cinta akan semudah ini? Terkadang di waktu yang tak tepat dan juga orang yang salah. Tapi saat ini, aku tak tahu isi hatiku.

Bukan salahnya jika dia terus saja hilang-timbul di pikiranku. Karena dia juga tidak pernah memintaku untuk memikirkannya. Hanya aku saja yang terlalu naif untuk terus-terusan memikirkan orang itu. Payah! Memang aku payah. Tak bisa menghilangkan pikiran naif ini dari otakku. Ya, membuatku terlihat lebih payah lagi karena aku bahkan tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.

Benar kata orang, bahagia itu sederhana. Hanya dengan melihat orang yang kita sayangi ada di sekitar kita, itu sudah lebih dari cukup.
Tapi, jika melihat orang yang kita sayangi ada di sisi orang lain.. hah.. itu juga sudah lebih dari sekedar sakit karena patah hati.


Orang lain tidak pernah tahu dan tidak pernah mengerti kalau ini akan begitu sulit dan menyakitkan. Ku harap, laki-laki itu membaca tulisan ini. Meski hanya sebatas omong kosong dariku.

Dalam perjalanan untuk bahagia,tak pernah semudah itu. Apalagi jika aku merindukannya.

Friday, May 22, 2015

STORY : Ini, Kata Hatiku.. mungkin

ini mungkin curhatan dalam bentuk cerpen untuk seseorang yang aku benci dengan penuh cinta..

Sebenarnya, tulisan ini ingin kujadikan bahan untuk novel. Tapi karena tidak sabaran, jadi aku mempostingnya di blog saja. Haha. Dan semoga kamu yang kumaksud membaca dan mendengarkan kata hatiku ini dengan seksama :v

Aku akan tetap disini meski kau mengatakan, “Jangan bersamaku.” Tenang saja, keberadaanku bukan lagi sebagai orang yang menyukaimu. Tapi sebagai teman yang akan ada kapanpun kamu butuh.

Dulu aku rasa aku menyukaimu. Tapi sekarang, ku rasa itu hanyalah sekadar rasa kagum yang terlalu lama. Namun lalu hilang seiring berjalannya waktu. Kelihatannya sesepele itu, ya aku melupakan rasa itu. Tapi tidak. Tidak sesepele yag kamu pikirkan saat membaca tulisan ini.

Jalan pikiranku terlalu sulit untuk kamu pahami. Jadi, sebelum kamu menyuruhku pergi, aku sudah lebih dulu menyadari hal itu. Haha. Apakah aku terlalu naif? Apakah aku terlalu merendahkan diriku sendiri di hadapanmu? Aku bahkan tidak mengenal diriku yang dahulu setelah aku bertemu kamu.

Aku yang dulunya kumal, kini rela mengorbankan sebagian besar waktuku untuk mempercantik diri. Tentu saja untuk menarik perhatianmu. Tapi aku salah strategi. Karena kau tidak tertarik dengan gadis cantik. Lalu kucoba untuk menjadikan diriku berguna sebagai temanmu. Membantumu mengerjakan PR, menerangkan pelajaran yang tak kau mengerti, bahkan memberimu jawabanku saat ulangan. Haha. Aku tertawa karena menyadari diriku bodoh sekarang. Ya, aku melakukan semua itu tentu saja dengan mengharap balasan sesuatu darimu. Harapanku tidak muluk-muluk, hanya perasaanmu saja. Tapi harapanku itu sia-sia. Karena justru kau malah memanfaatkan kebaikanku ini. Oke, gadis pintar saja juga tak cukup menarik perhatianmu. Lalu gadis seperti apa yang kau inginkan?

Selanjutnya, tapi aku tidak pernah memakai cara ini. Sekalipun tidak. Tampil seksi. Hahaha. Lucu sekali kata itu jika aku yang menyebutkannya. Kamu bahkan tahu bahwa aku sama sekali tidak berusaha untuk cara ketiga ini. Lalu aku menyerah. Begitu saja.

Hingga aku mengetahui sebuah status dalam akun fb mu. Mungkin seorang perempuan yang terbakar cemburu yang menulisnya. Hah, aku berkata seperti ini karena lalu aku melihat akun mu terpampang di bagian konfirmasi teman. Ya, akunmu meng-unfriend pertemanan dengan akunku.

“Please, jangan ganggu akun ini lagi. Aku mohon jangan pernah.”

Itu seingatku. Karena sudah lama sekali. Akan ku ceritakan kronologi kejadian sebelumnya. Begini, awalnya aku sedang online fb pada tengah malam. Lalu seorang teman mengirim sesuatu di wall-ku. Aku tak ingat persis, tapi dia mengirimkan sebuah link aplikasi fb. Karena penasaran, aku meng-klik link itu dan tautan pun bergulir ke halaman selanjutnya. Iseng, aku ikuti saja perintah yang aplikasi itu sediakan. Hingga akhirnya, ibu menyuruhku tidur karena sudah terlalu larut.

Esok harinya, kamu tidak masuk sekolah tanpa alasan. Lalu salah seorang temanmu menghampiriku dengan tampang mengejek.

“Ciee ciee yang naksir Unyil (nama disamarkan). Udahlah lo ngomong langsung aja ke dia, nggak usah pake aplikasi aplikasi segala. Hahaha” aku lantas kaget mendengar apa yang barusan ia ucapkan. Belum sempat aku menyanggahnya, dia melewatiku begitu saja dengan entengnya. Huh, dia pikir aku ini apa.

Tapi apa benar yang dia katakan? Aplikasi aplikasi? AH FACEBOOK!! Aduuuh, aku terlalu ceroboh untuk urusan seperti ini. Akankah kamu sampai mendengar kabar burung ini? Ku harap kamu tak mudah percaya. Tapi bagaimana jika kamu langsung percaya? Aku tak mau usahaku menyembunyikan perasaan selama ini akan sia-sia saja. Kata salah satu temanku, meski aku tak pernah mengungkapkan perasaan ini padamu, namun dari sikapku terlihat jelas kalau aku menyukaimu. Gila! Sampe segitunya? Bahkan aku pun nggak pernah sadar gimana sikapku ke kamu.

Sekarang kamu tahu kan apa penyebabnya? Jadi please, katakan ke pacar kamu itu kalo semua yang aku lakukan ini hanya iseng dan nggak beneran. Tapi kalo pacar kamu nganggepnya beneran sih, aku harap kalian enggak putus.

Tapi kemarin setelah lama aku nggak stalker kamu, aku akhirnya memberanikan diri untuk melakukan hal itu lagi. Tapi jangan khawatir, aku akan melakukannya tanpa ngelike status kamu kok. I’ll make it safely. Karena aku tau pasti kalo pacar kamu itu bakalan on dan lihat-lihat pemberituan. Kan gawat, kalo dia su’udzan lagi. Sebenernya sih niatku baik, enggak pengen kalian berantem. Itu aja. Karena kalo kamu bahagia, aku (belum tentu) juga bahagia. Jadi ku harap kamu ngerti.

Oh iya, aku tadi mau ngomong tentang salah satu status kamu yang bilang kalo

“Kita yang dulu akan beda dengan Kita yang sekarang. Jadi jangan berharap akan sama lagi.”

Yang aku ingin tanyakan adalah, apa artinya itu? Kamu eh ‘kalian’ putus? (kayaknya nggak ikhlas banget hati ini buat sekedar ngomong ‘kalian’) Mungkin bagi aku yang dulu, kesempatan ini sangatlah berharga. Tapi kenyataannya, sekarang nggak gitu. Aku biasa aja tuh. Tunggu tunggu. Apa ini yang dinamakan move on? Hahaha. Seriusan aku udah move on? Aku baru sadar setelah saat itu di Jogja bertemu laki-laki seperti kamu.

Bukan wajah ataupun fisiknya yang mirip. Tapi kepribadiannya. Ya, sekarang aku jadi tahu apa yang hatiku inginkan. Bukanlah wajah yang tampan atau fisik yang menawan yang bisa menarik hatiku. Tapi kepribadian yang baiklah yang bisa. Meskipun aku menemukan orang seperti kamu, tapi dia juga sudah punya pacar. -__-

Hahaha. Dunia mungkin jahat kepadaku sekarang. Tiap menyukai seorang laki-laki, pasti perempuan lain sudah lebih dahulu memiliki hatinya. Kenapa sih, aku selalu terlambat jatuh cinta? Atau mungkin memang belum saatnya aku jatuh cinta? Ku pikir perasaanku mudah berubah. Aku mudah menyukai orang. Tapi mudah juga membenci orang. Sial, apakah otakku sendiri bahkan tidak sanggup mengontrol hatiku? Bahkan ia semakin gila dari hari ke hari. Mungkin tanpa aku sadari.


Tulisan ini aku tulis di tanggal 29 April 2015 saat aku baru saja selesai menangis setelah mendengar beberapa Playlist di komputerku.

STORY : Sejak Malam Ini..

Aku tidak tahu, sejak hari ini.. malam ini tepatnya. Saat dingin mulai menusuki kulitku. Juga mengusik pikiranku. Pikiran yang khawatir apakah aku akan bisa tidur atau tidak. Pikiran yang berkata bahwa ini sudah terlalu larut. Pikiran yang mengatakan bahwa aku harus melanjutkan film yang ku tonton dan belum selesai. Oh tidak tidak aku hanya bercanda. Haha mungkin kau tidak tahu hal ini, ya terkadang aku suka bercanda bahkan dengan diriku sendiri.

Tapi kurasa, pikiranku sedang memikirkan seseorang. Seseorang nan jauh di sana. Mungkinkah itu kamu? Aku benci jika harus mengatakannya. Tapi, apalah dayaku. Bahkanpun aku tak pernah bisa membohongi perasaanku sendiri, hanya untuk sekedar menghindar darimu.
Lalu aku bertanya kepada angin malam yang menggodaku. Tapi, ya kau tahu. Dia pasti tak kan bisa menjawabku. Karena dia hanyalah angin yang bertiup semaunya. Tapi mungkin dia juga tahu, karena angin juga menggodamu malam ini kan?

Semula, aku tak ingin lagi mengetahui tentang kamu. Karena satu tahun yang lalu sudah cukup buatku. Semula, aku tak ingin melepaskan egoku ‘lagi’. Tapi ternyata, aku memenangkannya sekali lagi, malam ini. Sejak melihat status yang kamu buat di jejaring sosial. Ya, seperti kau tahu dulu. Aku sangatlah menyukaimu. Kau tahu, ‘dulu’. Sekarang, entahlah.. kini yang aku tahu hanyalah Naruto dan Drama Korea. Haha tidak lebih dari itu. Kurasa aku sudah mulai melupakanmu. Melupakan apa yang kau tulis maksudku..

Namun malam ini, aku melanggar janjiku sendiri untuk tidak peduli denganmu. Tapi nyatanya aku peduli. Andai saja kau bisa melihat visitor blogmu berdasarkan nama dan asal, kau pasti akan tahu bahwa akulah yang paling sering mengunjungi blogmu. Karena bagiku, blogmu adalah kamu yang sebenarnya. Adalah kamu yang berbicara, kamu yang hidup. Setelah di dunia nyata kita tidak pernah saling menyapa, bahkan berbicara satu sama lain. Sekarang, aku memposisikan diriku sebagai pembaca dan pendengarmu yang baik. Ini cukup.

Lalu terkadang, diam-diam aku tertawa karena kau menulis tentang lelucon. Tapi juga terkadang ada gejolak aneh yang tenggelam-timbul dalam dadaku saat ku baca tulisanmu tentang seseorang. Entah apa. Aku tak tahu aku kenapa, tapi aku selalu menerka kalau kau tak pernah sekalipun menulis sesuatu tentangku. Haha, aku menkhayal terlalu tinggi.

Tapi, yang ada di pikiranku adalah kau menyukai seorang gadis. Dan kurasa itu bukan aku. Sampai di sini, aku cukup sadar diri dan tahu diri siapa diriku ini. Aku hanyalah seorang remaja tanggung yang diperbodoh oleh laki-laki yang bahkan usianya pun belum sampai kepala dua. Haha.

Akan sangat terlihat bodoh sekalijika ternyata aku kembali menyukaimu. Kembali jatuh ke lubang yang sama. Yang aku pernah gagal dulu. Ya, seperti kau tahu kata pepatah, bahwa tupai pun tidak akan mau jatuh ke lubang yang sama setelah sekali dia jatuh. Tapi kurasa, aku memang bukan tupai. Aku manusia. Dan manusia bebas untuk jatuh berkali-kali kurasa – emm pandangan ini untuk sebagian orang saja ya, tapi aku tidak.


Ok, inti dari postinganku malam ini adalah, bahwa aku harus melanjutkan film yang aku tonton sekarang juga, sebelum jarum pendek menunjuk ke angka dua belas -__-

Wednesday, January 28, 2015

Pensil Ajaib

Hari ini ngedit video lagi. Berhadapan sama adobe premiere lagi. Siap-siap pusing lagi. Hadeeeh.. Gambar di atas itu hasil shooting tiga hari kemarin. Dan itu worth it banget waktu shotingnya. Ada pemain yang justru ngamuk. Ada yang ngambek. Crew yang kurang komunikasi, terus ada beberapa cacat di videonya. Aku yang gagal jadi sutradara. Disalah-salahin, dimaki-maki pemain, semuanya marah sama aku. Mereka pikir aku nggak punya perasaan.


Iseng. Very latee lateee post in few years ago 😂😂😂



@rismariest