Showing posts with label Tantangan ODOP 6. Show all posts
Showing posts with label Tantangan ODOP 6. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Wawancara 3 : Interpretasi Bahagia dalam Bahasa Sederhana

sumber : Hipwee


Apa arti bahagia?
Mengapa harus bahagia?
Dengan siapa beroleh bahagia?
Dimana ada bahagia?
Kapan harus bahagia?
Bagaimana harus bahagia?

Pertanyaan lengkap tentang “bahagia” bisa mudah saja terhimpun dalam berbagai pertanyaan selengkap 5W+1H seperti di atas. Namun, apa sebenarnya arti bahagia itu sendiri? Apakah definisi bahagia harus selalu saklek dan leterlek dengan apa yang ada dalam pengertian ataupun pendapat-pendapat para ahli? Jawabannya mungkin bisa ya, namun mungkin juga tidak. Karena bahagia sendiri merupakan sebuah ekspresi atau perasaan yang muncul dalam diri manusia tanpa adanya paksaan sebelumnya. Namun, pasti ada pemantik yang membuat seseorang menyatakan diri bahwa ia merasa bahagia dengan keadaan, orang, waktu, benda, yang tengah ia miliki di suatu masa tertentu.

Kali ini, penulis meminta ibu dari penulis sendiri untuk menjabarkan arti bahagia menurut versi beliau, dengan bahasa yang sederhana. Maksudnya, seseorang tidak harus mencapai atau memiliki ini dan itu terlebih dahulu untuk bisa merasakan kebahagiaan hakiki dalam hidupnya. Sebagai informasi, ibu dari penulis bernama Dwi Purwati. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga merangkap pahlawan, motivator, dan inspirasi bagi penulis untuk selalu semangat dalam menjalani hidup. Karena melalui beliaulah, ajaran-ajaran sederhana maupun pemikiran-pemikiran kritis penulis dapat tersalurkan dalam sebuah tulisan sederhada yang sedang dinikmati pembaca ini.

Baiklah, langsung saja akan penulis paparkan hasil wawancara berikut ini.

Pewawancara : Assalamualaikum, ibu apakabar? Sehat, kan?
Narasumber : Alhamdulillah, nak. Ibu baik kok. Kamu sendiri gimana di sana?

Pewawancara : Alhamdulillah, saya juga baik kok bu. Oh, ya. Ngomong-ngomong mau minta waktunya sebentar buat wawancara ya bu. Hehe.
Narasumber : Wealah, macam artis aja diwawancara. Memangnya mau buat apa, nak?

Pewawancara : Buat dijadikan bahan tulisan, bu. Temanya mudah aja kok, apa pendapat ibu tentang arti bahagia itu sendiri?
Narasumber : Wah, langsung dikasih pertanyaan nih. Emm, bahagia, ya? Mungkin bahagia itu sederhana aja. Saat kita bisa menerima dan mensyukuri apa-apa yang kita miliki ini. Segala bentuk kenikmatan yang sedang Allah titipkan kepada kita.

Pewawancara : Oalah, gitu ya, bu. Menarik-menarik. Terus, bagaimana cara kita bersyukur akan karunia Allah itu? Apakah sekadar diikrarkan dengan lisan atau lebih dari itu?
Narasumber : Menurut ibu, mungkin filosofi bahagia dengan cara bersyukur itu layaknya iman yang diucapkan dengan lisan, diyakini dengan hati, dan dilakukan dengan perbuatan. Karena sejatinya, kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakan. Ia ada dalam diri kita. Tinggal bagaimana kita mampu mengelolanya dengan sebaik mungkin. Pilihan pun ada di tangan kita. Apakah kita menghendaki untuk menciptakan bahagia pada diri kita atau justru implikasinya.

Pewawancara : MaasyaAllah, benar sekali, bu. Lalu apa atau bagaimana pendapat ibu pada mereka yang berdalih mencari kebahagiaan di luar dunianya Misal malah merusak dirinya menjadi pribadi yang tidak baik seperti minum-minuman keras, pergi ke diskotik, nge-fly, dan lain sebagainya?
Narasumber : Kalau itu terpulang pada masing-masing orang. Karena setiap kita pasti memegang prinsipnya masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Kadang, nasehat orang lain hanyalah sebagai peringatan saja, bukan sebuah keharusan yang harus dikerjakan. Tabiat seseorang pun demikian, ianya hanya akan bisa berubah ketika ada kesadaran pada diri sendiri untuk mengubahnya menjadi versi dirinya yang lebih baik daripada sebelumnya.

Pewawancara : Wow, super sekali! Hehe, gitu sih kalau kata pak Mario Teguh mah. Terima kasih banyak bu atas waktu dan jawabannya. Semoga nantinya hasil wawancara ini akan bermanfaat untuk banyak orang. Aamiin.
Narasumber : Kamu nih kayak sama siapa aja. Pokoknya ibu sudah mendoakan yang terbaik buatmu. Tetap semangat dalam menggapai seluruh cita-citamu. Jangan pernah putus asa atau berhenti di tengah jalan. Ingat selalu Allah, dan jangan pernah kau lepas genggaman erat tanganmu dalam iman yang menggelora di dalam jiwa. Semoga berhasil, anakku!

Pewawancara : Terima kasih banyak, bu. Pokoknya ibu yang terbaik buatku!
Ya, sekali lagi bahagia adalah perasaan-perasaan senang yang sederhana. Keberadaannya bisa diciptakan dan dibuat oleh siapa saja, termasuk diri kita ini. Karena kita, berhak untuk bahagia!

#NonFiksi
#ODOPBatch6

Sunday, December 2, 2018

Wawancara 2 : Self Healing, Self Controlling

Sumber : consciouslifestylemag.com



Self healing merupakan istilah dalam Bahasa Inggris yang dapat diartikan secara leterlek dengan “Penyembuhan diri sendiri”.  Namun demikian, istilah self healing kali ini ditujukan pada luka-luka batin yang sempat menggores atau menyayat hati. Jadi, bukan sebuah luka fisik yang dapat dilihat dengan panca indera. Metode self healing dapat dilakukan oleh seseorang yang sedang menyimpan luka batin sedemikian dalam. Selain itu, cara ini juga bisa bermanfaat untuk menyelesaikaan masalai-masalah yang belum terselesaikan dalam kehidupan, yang berdampak pada kelelahan emosi seseorang.

Sedangkan self controlling adalah upaya diri untuk tetap waras dalam berbagai situasi dan kondisi. Kemampuan mengontrol dan menguasai diri sendiri dapat disebut juga sebagai softskill yang selayaknya wajib untuk dimiliki setiap kita.

Dalam wawancara kali ini, penulis berkesempatan untuk mewawancarai narasumber yang memiliki latar belakang di dunia pertanian, tapi passionate dalam tulis menulis. Kami saling dipertemukan kemudian mengenal satu sama lain dari sebuah grup kepenulisan via Whatsapp sejak tahun 2017 lalu. Meskipun demikian, kami pernah sekali bertemu dalam acara Kampung Ramadhan yang diselenggarakan di Bakorwil Magelang. Namanya Nur Hidayah, lulusan Fakultas Pertanian dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pernah bekerja di sebuah perusahaan pembuatan berita, lantas sekarang menjadi karyawan tetap di salah satu kantor berbasis teknologi dan pertanian di Yogyakarta.

Berikut isi wawancaranya yang berhasil penulis rangkum dalam sebuah catatan.

Pewawancara : Assalamualaikum Mbak Hid, boleh minta waktunya sebentar untuk wawancara?
Narasumber : Ya, Dek Ris. Boleh aja. Mau wawancara tentang apa, nih?

Pewawancara : Jadi gini mbak, langsung aja deh ya. Emm, Mbak Hid pernah denger istilah self healing belum? Tapi konteksnya bukan ke penyakit fisik, lho ya. Lebih ke penyakit hati kayak misal iri, dengki, cemburu, dan lain sebagainya.
Narasumber : Emm, salah satu cara yang berhasil kupraktekkan mungkin menjaga jarak dulu sama orang yang bersangkutan. Maksudku, biasanya kan luka-luka hati atau perasaan sakit itu ditimbulkan oleh orang lain, kan. Jadi, mungkin lebih kepada menghindar dulu dari orangnya. Kalau misalkan sakit banget, ya mau nggak mau ngelakuin sampe yang ekstrim, misal sampe nge-mute story WA-nya atau blokir sosmednya, dan lain sebagainya. 

Pewawancara : Wah, bisa sampe gitu ya, mbak? Mungkin hal-hal semacam itu bisa terjadi karena sebagai manusia kita memang diciptakan tidak sempurna, ya. Jadi, sisi kemanusiawian kita seolah mendominasi ketika emosi menguras rasa. Hehe. Tapi di saat-saat seperti itu, apakah Mbak Hida tetap bisa mempertahankan self controlling sama orangnya?
Narasumber : Hehe, ya gitu sih, Dek Ris. Namanya juga manusia, kan. Kalau aku misal lagi jauh gitu, hal yang kulakukan adalah menata hati sembari menyembuhkannya pelan-pelan. Berpikir, kalau misal kupupuk terus perasaan mengganjal itu, malahan aku yang sakit dan rugi terus. Jadinya malah imbasnya ke diriku juga, sih. Jadi, insyaAllah kalau lagi jauh mah tetep bisa ngontrol. Tapi kalau lagi dekat, ya diusahakan juga sih. Hehe.

Pewawancara : Makin menarik nih, mbak topik pembicaraannya. Tapi, adakah cara lain yang Mbak Hid lakukan untuk menghibur diri?
Narasumber : Kalau aku, sih sering-sering ke kajian aja, Dek Ris. Itu ngaruh banget buat aku. Karena dari kajian itu aku bisa merenung, melepas sesak di hati. Bisaan, kalau butuh nangis, yaudah habisin semua pas selesai sholat. Tumpahkan semua rasa ke Allah, minta buat direngkuh hatinya, biar nggak terus memendam dendam yang sedemikian dalam. Nah, kalau udah agak baikan, walaupun semua perlakuan atau perkataan yang menyakitkan itu nggak bisa ditarik ulang, setidaknya aku bisa terlihat baik-baik saja di depan seseorang yang pernah menyakitiku itu.

Pewawancara : Subhanallah, Mbak Hid. Aku jadi terharu, nih dengernya. Hehe. Pokoknya bener-bener berjuang buat bisa memiliki hati sebening kristal, ya. Hehe. Oh ya, terakhir nih, apakah ada tips buat kita semua untuk bisa terus latihan memiliki hati yang baik? Tentunya dengan pemahaman self healing dan self controlling yang baik dan benar.
Narasumber : Hmm, apa, ya? Tipsnya sederhana aja, sih mungkin. Semua yang telah terjadi dalam hidup kita ini, sejatinya udah ada di Lauhul Mahfudz sana, bahkan sebelum penciptaan alam semesta, manusia, dan lainnya ada. Jadi, apa yang kita dapatkan hari ini harus senantiasa diterima, dan dijalani dengan penuh keikhlasan.

Pewawancara : MaasyaAllah, keren keren. Terima kasih banyak pokoknya buat semua jawaban serta wejangannya, Mbak Hid. Sangat bermanfaat untuk membantu para remaja atau remaja yang sedang menunggu dewasa agar bisa memiliki sikap yang baik dalam menghadapi sebuah masalah. Sip, sip semoga menjadi ilmu yang bermanfaat yang nantinya akan berbalik juga manfaatnya sama Mbak Hida. Aamiin. Wassalamualaikum.
Narasumber : Aamiin Ya Rabbal Alamin, makasih banyak do’anya Dek Ris. Do’a baik kembali kepada yang mendoakan, insyaallah. Terima kasih kembali. Waalaikumussalam.


#NonFiksi
#ODOPBatch6

Tuesday, October 30, 2018

Surat Cinta untuk PJ ODOP

Surat Cinta Untuk PJ ODOP Pulau Bungin
Salam hangat dan salam cinta terkhusus ketiga PJ (Penanggungjawab) Pulau Bungin, Cak Lutfi, kak Soviatriana, dan kak Tya Romana. Banyak terimakasih yang mustinya terhatur dari kami semua, anggota Pulau Bungin.
Terima kasih karena telah begitu sabar menemani perjalanan kami selama di ODOP ini. terutama di Pulau Bungin. Terima kasih atas materi-materi kepenulisan yang telah diberikan, yang mungkin tak bisa kami dapatkan secara Cuma-Cuma di firqah atau tempat yang lain. Terima kasih banyak atas apa-apa yang kalian dan pihak ODOP berikan kepada kami. Kami, terutama saya sadar betul begitu banyak kekurangan yang ditorehkan selama menjadi anggota ODOP.
Selama tujuh hari itu, hanya sehari saya mengerjakan tulisan dengan sistem kebut semalam. Entah karena apa saya benar-benar tidak bisa membagi waktu barang sepuluh menit untuk menyempatkan menulis setiap hari lantas diposting di blog sendiri. Sebenarnya mungkin saya punya, namun dialihkan untuk tulisan yang lain atau kegiatan lain yang memang begitu padatnya. Hehe, maaf jadi curhat sendiri.
Intinya, terima kasih banyak sekali lagi untuk segenap PJ Pulau Bungin, para senior-senior di ODOP beserta jajarannya, dan seluruh peserta ODOP lain yang masih bertahan di tengah eliminasi seiap minggunya. Kalian telah memberikan yang terbaik pada kami semua. Saya amat beruntung bisa menjadi salah satu di antara kalian, meskipun sering sekali absen tidak mengisi blogwalking, dan yang paling sering bayar utang tulisan selama seminggu. Hehe, saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya atas perilaku saya itu. semoga, di akhir pembelajaran ODOP ini, bukan menjadi akhir dari segalanya, melainkan awal untuk kita semua bertumbuh menjadi para penulis yang berkualitas dan bermanfaat untuk sesama. Sepertinya masih banyak kata-kata yang ingin saya utarakan pada titik ini. Namun, mungkin kata-kata saja tidak dan belum cukup untuk menggambarkan segalanya. Semoga, di lain waktu sua menjadi salah satu hal yang kemudian bisa mengeratkan lagi tali silaturahim ini. aamiin.

Risma Ariesta, Pulau Bungin.

#TantanganODOP6
#odopbatch6
#

Sunday, October 28, 2018

One Day One Post : Tantangan VII 1 - It's Not Me

It's not me
It's not myself
I lost control of what my power should be

Somehow, I don't know why I could be at this point
I lost to another person
Me become foreign and can't recognize

I'm lost,
melting,
then destroyed to pieces
Into the dust of the universe that oscillates in free galaxies

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Saturday, October 20, 2018

One Day One Post : TANTANGAN VI - Sandiwara


Setiap hari menjelang tengah malam, gadis itu selalu datang kemari. Menghidupkan lampu panggung, menyetel musik, lantas menari. Tidak ada senyum di wajah ovalnya. Sekalipun musik terkadang memutar tentang nada-nada kebahagiaan. Mimik wajahnya tetap tak berubah, datar dan menyedihkan. Tubuhnya memang piawai menghayati musik dan menginterpretasikan tarian dengan indahnya. Namun sekali lagi, wajahnya tidak. 

Pada kali lain ketika tidak tengah malam, ia datang lagi. Kali ini bersama beberapa orang lainnya. Cukup ramai personil mereka. Empat perempuan dan enam laki-laki. Dua minggu terakhir ini mereka menghabiskan waktu bersama untuk menjajal koreografer, gladi resik sebelum pertunjukan sebenarnya. Mencocokkan musik, tarian, dan mimik wajah. Gadis itu, seperti yang kutahu sejak awal, ia selalu memasang senyum palsu yang tak terdefinisikan. Namun bersama teman-temannya, ia berhasil menutupi kepura-puraan itu dengan senyuman lebar seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku, terlalu tidak bisa ia bohongi.

“Teman-teman, terima kasih atas kerja keras dan latihan kita selama ini. Besok, adalah acara puncak. Jadi, tolong berikan yang terbaik!” pinta salah seorang laki-laki di antara mereka. 

“Siap, coach!” semua menjawab serentak kecuali gadis tanpa ekspresi.

“Terima kasih sekali lagi. Latihan hari ini kita cukupkan sampai di sini saja. Silakan pulang agar kita bisa mempersembahkan yang terbaik besok. Selamat beristirahat,” tambahnya lagi.

Mereka saling bersalaman satu sama lain, tersenyum, lantas pergi meninggalkan ruangan ini. Seperti biasa, gadis itu tetap tinggal. Kali ini, ia tidak sendiri. Karena laki-laki yang dipanggil coach tadi juga masih di sana. Berdiri membelakanginya.

“Bagaimana bisa? Kenapa kamu tega sekali? Kepergianmu saat pertunjukan kami besok, demi menghadiri wisuda istrimu di luar negeri. Kenapa tidak bilang sejak awal?” gadis itu mulai membuka suara.

“Ini yang terbaik, aku tahu. Dengan begitu, mereka akan membenciku selamanya. Lantas, kepergianku pun tak lagi mereka cari. Dan keberadaanku, tak akan pernah lagi mereka rindukan, termasuk kamu,” suara itu kehilangan wibawanya. Seolah-olah, ia memiliki tuan lain, yang bukan laki-laki itu.

“Kenapa kau membiarkan persaan ini tumbuh? Kenapa tidak kau cegah ketika aku mulai melangkah terlalu jauh? Kenapa?” gadis itu mulai berteriak. Suaranya membias ke arahku, lantas memenuhi ruangan ini dengan isak tangis yang memilukan.

“Aku melihat tarianmu bernyawa. Awalnya, aku tidak ingin merusaknya dengan mengatakan yang sebenarnya,” laki-laki itu tidak menoleh ke arah si gadis. Namun aku tahu, ia sebisa mungkin menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Sayangnya, aku selalu mencari tahu tentangmu. Dan ketika aku mengetahuinya, aku memilih untuk diam dan menunggu kepastian jawabanmu. Selamat, karena telah memilih yang terbaik,” gadis itu mulai bisa mengontrol emosinya dan seolah bersikap dewasa.

“Maafkan aku, yang telah datang ke hidupmu, sebagai seorang yang telah berdua. Maaf, aku harus pergi.”

Laki-laki itu pergi dengan air mata yang menggenang di pipi. Sementara gadis itu, terduduk di panggung sambil terisak. Aku, adalah kursi di barisan paling depan yang selalu memperhatikan senyum palsunya, wajah sendunya, dan kali ini, perpisahan dengan cintanya, yang telah menjadi milik orang lain.

#TantanganODOP6 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi

Friday, October 12, 2018

One Day One Post : TANTANGAN V - Biografi Idola_Nabi Muhammad SAW


Muhammad bin Abdullah adalah seorang laki-laki sempurna yang telah Allah nobatkan sebagai nabi terakhir, yang merupakan Qudwah atau suri tauladan bagi para manusia di akhir zaman ini. Nabi Muhammad merupakan keturunan suku Quraisy, yang pada masa itu dikenal karena kehormatan mereka di seantero bangsa Arab lainnya.

Dari berbagai sumber yang shahih, Nabi Muhammad SAW. lahir ke dunia pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 571 Masehi. Beliau sudah ditakdirkan oleh Allah untuk terlahir ke dunia, tanpa seorang ayah yang menjadi walinya.

Muhammad kecil lahir dari rahim seorang wanita mulia bernama Siti Aminah. Lantas, beliau dipersusukan kepada Khalimatus Sa’diyah. Ketika tumbuh menjadi anak-anak, Muhammad kecil ditinggal ibunya pada usia 6 tahun. Lantas, hak asuh beliau jatuh ke tangan kakeknya, Abdul Muthalib. Saat itu, Muhammad kecil menjadi penggembala kambing yang sukses dan terkenal kejujurannya. Semua orang menyukai tabiat beliau, tanpa terkecuali.

Namun, takdir berkata lain. Kakeknya juga meninggalkan beliau tatkala beliau mulai beranjak remaja. Kepada pamannya yang bernama Abu Thalib, Muhammad lantas diasuh, dan diajak berdagang ke negara Syam. Dari situlah jiwa bisnis Muhammad terasah. Sampai usianya yang ke 25, pada saat itulah seorang saudagar kaya, yang juga merupakan seorang janda bernama Khadijah mengaguminya.

Benar saja, ketampanan ahlak dan juga rupa Muhammad begitu terpancar pada dirinya. Beliau yang sekalipun tak pernah menyembah berhala, menjadi salah satu pertimbangan bagi Khadijah yang juga tak pernah menyembah berhala. Hal itu ia ketahui setelah mengutus pesuruhnya bernama Maisaroh. Akhirnya, pada usianya yang ke 40, dan usia Muhammad yang ke 25, mereka menikah.

Lima belas tahun usia pernikahan, ketika Muhammad berusia 40 tahun, beliau menerima risalah untuk menjadi Nabi terakhir bagi seluruh alam ini. menerima wahyu pertama yang diturunkan oleh malaikat Jibril di Gua Hira’, tempat beliau selalu menyendiri. Lantas, pada saat itu pulalah, Muhammad mengemban risalah kenabian, yang tak ada dua, tiga, empat atau limanya lagi setelah beliau.

Allahumma solli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

#TantanganODOP5
#onedayonepost
#odopbatch6
#nonfiksi

Sunday, October 7, 2018

One Day One Post : TANTANGAN IV - Gagal Radikal


“Wan menurutmu dia cantik nggak?”

Ahmad menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan gambar seorang perempuan bercadar. Dalam foto itu, si perempuan menopang dagunya dengan satu tangan.

“Nggak tahu.”

“Lho, kok gitu sih jawabnya?”

“Ya iyalah, orang mukanya aja nggak kelihatan gitu! Mau dibilang cantik, kalau ternyata cowok gimana?”

“Yee, kamu mah Wan. Sukanya mikir yang aneh-aneh!”

“Alah kamu tuh, yang kebanyakan chatting sama cewek. Bukannya belajar. Emang kamu udah setoran, Mad?”

“…” yang ditanya tidak menjawab.

“Mad, Mad! Kamu udah setoran hafalan Kitab Alfiyyah belum?” tanya Wawan lagi. Kali ini dengan sedikit mengguncang badan Ahmad.

“Eh, apa? Kamu bilang apa tadi Wan?”

“Oalah, kamu nggak ndengerin saya, to? Malah sibuk sama hapenya aja. Ya Allah cah cah piye to iki,” Wawan geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.

“Hehe. Maafin saya, Wan. Kan tau sendiri saya lagi balesin chat,” kilah Ahmad dengan cengiran khasnya.

“Hmm.. Akhir-akhir ini saya perhatikan kamu banyak nggak fokusnya, sih. Suka telat ikut jama’ah, tidur larut malam, jarang bangun tahajud lagi. Cuman sibuk mainan hape saja. Sebenarnya apa yang terjadi sama diri kamu, Mad?”

“Saya nggak kenapa-kenapa, kok. Toh, kayaknya apa yang saya lakukan selama ini juga normal-normal saja. Chattingan saya sama akhwat ini juga biasa-biasa aja, kok. Palingan juga seringnya bahas tentang dakwah atau sekadar basa-basi gitu.”

“Mungkin menurut kamu nggak kenapa-kenapa, Wan. Tapi tentu saja kamu juga paham tentang batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.”

“Iya, Wawan. Saya udah khatam soal bab itu.”

“Bukan apa-apa, Mad. Saya cuman mau berpesan untuk hati-hati sama orang-orang yang sering manggil ikhwan-akhwat di media sosial. Mereka kadang nggak terlalu paham bahasa Arab, belajar agama cuman via internet, lalu parahnya menjadi anggota dari gerakan-gerakan hijrah yang mengatasnamakan dakwah untuk menyebarkan paham-paham agama yang keliru.”

“Kamu ini ngomong apa, sih Wan? Jangan suudzon sama orang dulu, deh kalau belum tahu wujudnya secara langsung. Saya nggak ngerti maksud kamu sama sekali.”

“Maafin saya, Mad. Tapi saya bilang begini agar kamu berhati-hati dan mengantisipasi segala hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Hari ini kamu merasa baik-baik saja saat chattingan sama akhwat bercadar itu. Itu hak kamu jika memiliki perasaan demikian. Dan kata-kata saya tentang gerakan-gerakan itu juga belum tentu benar. Hanya saja, satu pesan saya untuk kamu pegang. Selalu berhati-hati!” Wawan menepuk pundak Ahmad.

“Hahaha. Jangan lebay gitu, deh, Wan. Saya nggak apa-apa kok. Jangan terlalu khawatir sama saya. Saya bisa jaga diri, InsyaAllah,” jelas Ahmad dengan senyum seadanya. Meskipun demikian, Wawan tetap tidak bisa menyembunyikan keraguan dan kecurigaannya terhadap sikap Ahmad.

“Ya. Semoga saja kamu bisa menjaga dirimu dengan baik, sahabat.”

“Aamiin. Terima kasih atas do’anya, teman baik.”

***

Ahmad mematut dirinya di depan cermin. Berkali-kali menyisir rambutnya dengan sesekali membubuhkan gastby agar membuat helaiannya menjadi lebih rapi. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, hingga setengah jam, ia habiskan waktunya hanya untuk menatap pantulan wajah yang itu-itu saja. Ini Sabtu di minggu kedua bulan November. Saatnya Pondok Al-Husyein memberikan perpulangan untuk para santrinya.

Sudah dua bulan lamanya Ahmad tidak pulang, karena keterbatasan kiriman uang dari orang tuanya yang membuat ia harus berhemat. Namun, hari ini Ahmad sudah siap untuk melepas jeratan rindu dengan keluarganya. Ia merasa begitu bersemangat menghadapi hari ini. Sebelum sebuah telepon masuk dari kontak Whatsapp yang paling sering dihubunginya selama empat bulan terakhir, membuyarkan segalanya.

“Halo?”

“Ya. Kamu dimana?”

“Saya di pondok. Tapi sekarang sedang melakukan persiapan untuk pulang ke rumah. Ada apa menelepon?”

“Saya butuh bantuan… Adik saya diculik. Saya tidak tahu harus dengan cara apa menebusnya. Tolong.”

“Astaghfirullah, bagaimana bisa? Lantas, sekarang kamu dimana?”

“Saya di rumah teman. Saya bingung. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Adik saya tidak memiliki siapapun lagi selain saya. Kamu tahu sendiri, kan, bahwa orang tua kami sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu?”

“Iya. Saya masih mengingat semua cerita-cerita kamu. Baiklah, kirimkan alamat tempatmu berada sekarang. Saya akan segera ke sana.”

Telepon ditutup. Rencana Ahmad untuk pulang gagal total. Ia lebih memilih menolong nyawa adik dari seorang perempuan yang baru dikenalnya lewat sosial media itu. Entah mengapa perasaan-perasaan aneh semacam ingin melindungi perempuan ini selalu muncul begitu saja.

Alamat dikirim. Ahmad tidak tahu dimana tempat itu berada. Namun, itu bukanlah sebuah masalah yang besar. Ia pikir, ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Ahmad segera bergegas, merapikan barang-barangnya lagi lalu mengambil kunci motor Wawan dengan cekatan.

“Pinjam motormu.”

“Lho katanya kamu mau pulang?”

“Tidak jadi. Ada hal penting yang harus saya urus dahulu.”

“Memangnya apa?”

“Akan saya ceritakan nanti, insyaAllah.”

“Perempuan bercadar itukah?”

”Saya pergi dulu. Assalamualaikum.”

“Eh, tapi… Waalaikumussalam. Hati-hati!”

Wawan menatap kepergian Ahmad. Ia semakin curiga terhadap sikap temannya yang berubah 180 derajat itu. Satu pertanyaannya tidak dijawab dengan baik. Menurut instingnya, Ahmad sedang jatuh cinta kepada seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya.

***

Ahmad menghentikan laju sepeda motornya pada sebuah rumah di tepi gang yang bersebrangan dengan pohon besar. Ia melihat lagi aplikasi Google Maps yang tadi menunjukkan jalan untuk sampai ke tempat itu. Benar, ia sudah sampai ke tujuan. Namun, rumah itu terlihat kosong, dan seolah memisahkan diri dari dunia luar.

Ponselnya berdering lagi. Melihat nama yang tertera, Ahmad segera mengusapkan jarinya ke atas untuk menerima telepon tersebut.

“Sudah sampai?”

“Emm.. Sepertinya sudah. Tapi saya tidak yakin saya berada di tempat yang benar.”

“Apakah kamu yang memakai kemeja hitam dengan celana jeans?”

“Ya, benar.”

“Baik, saya akan segera datang.”

Telepon ditutup. Terselip keraguan ketika Ahmad memasukkan ponselnya ke saku, lantas melepas helmnya. Seorang perempuan berpakaian serba hitam, bercadar, nampak keluar dari pintu rumah tersebut. Ia segera menghampiri Ahmad dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Diam-diam Ahmad menyembunyikan keterkejutannya, menepis segala jenis prasangka yang sempat terlintas di hatinya. Ia mengikuti langkah perempuan itu sambil beristighfar dalam hati, meminta perlindungan kepada Allah berkali-kali.

***

“Apa yang harus saya bantu untuk membebaskan adikmu dari penculik itu?” tanya Ahmad begitu sampai di dalam. Si perempuan menutup pintu rumah tersebut secara perlahan. Ia meletakkan telunjuknya ke bibir.

“Sssssttt. Jangan keras-keras,” katanya.

“Baiklah, jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?” Ahmad memelankan suaranya. Si perempuan mengulangi gerakannya. Mengendap-endap, menggiring Ahmad ke ruang tengah. Menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah akan menyampaikan informasi mahapenting.

“Nikahi aku.”

“APA?”

“Ya. Kamu tidak salah dengar. Nikahi aku sekarang. Maka adikku akan terbebas dari penculikan.”

“Tapi, tapi apa hubungannya? Apa hubungannya dengan saya dan pernikahan?”

“Hahahahahaha.. Good job! Good job! Drama yang bagus untuk ukuran seorang pemula! Marvelous!” seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari ruangan belakang. Jika hanya dilihat dari tampilan luarnya, laki-laki tersebut hampir menyerupai seorang syeikh dari Timur Tengah atau negara Arab. Lengkap dengan jenggot tebalnya yang tumbuh memanjang.

“Siapa kamu? Apa-apaan ini? Kamu menjebak saya, Fa?” Ahmad panik. Ia menuduh Wafa, nama perempuan bercadar itu.

“Aku tidak menjebakmu. Aku, maksudku kami, justru ingin menyelamatkanmu!” suara dari balik cadar itu terdengar pelan dengan sedikit parau.

“Ya, benar! Kamu sudah tidak perlu lagi khawatir terhadap para thogut di luar sana. Yang menipu negara kita dengan topeng demokrasi. Jika kamu bergabung dengan aliansi ini, maka kita akan membentuk kekuatan yang lebih kuat untuk menegakkan hukum Islam secara murni. Kita akan mengalahkan para kafir yang menguasai pemerintahan!” lelaki berjenggot tebal itu berorasi layaknya berdiri di sebuah podium dengan ribuan penonton. Suaranya keras dan lantang. Dalam kalimat-kalimat yang ia lontarkan, secara tidak langsung terdapat doktrinasi yang disampaikan dengan intonasi dan mimik wajah yang sepertinya sudah lama dilatih.

“Dan jika kamu menjadi suamiku, maka kau berhak atas diriku berikut tiga orang wanita lainnya. Kita akan hidup bahagia, sayang,” Wafa menimpali. Suaranya masih parau. Namun sorot matanya menunjukkan seolah ia tersenyum bahagia.

“Tidak! Kalian semua bohong! Indonesia, negara kita adalah negara kesatuan yang merdeka karena perjuangan para pahlawan. Bhineka tunggal ika, semboyan negara kita bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Selama 73 tahun lamanya kita hidup dalam perdamaian karena toleransi yang sudah mengakar kuat di dalam hati. Kalian semua seharusnya tahu akan hal itu!” Ahmad tak kalah bersungut-sungutnya menghadapi dua orang itu. Sebagai seorang santri yang belajar agama Islam di Indonesia, tentu saja para kyainya telah mengajarkan banyak hal. Tak hanya soal ilmu agama saja, melainkan juga cinta kepada tanah air dan negaranya.

“Persetan dengan toleransi! Tidak ada toleransi di negeri ini. Mayoritas kita, umat Islam justru seolah berada di lautan mayoritas lainnya. Tubuh-tubuh kita tercerai berai, tidak menjadi satu. Karena apa? Karena siapa? Karena para thogut yang haus kekuasaan itu!”

“Anda keliru, pak. Tidak semua informasi yang Anda lihat dan dapatkan dari media-media, dari luaran sana itu merupakan sesuatu yang baik. jangan pernah menelan mentah-mentah sebuah informasi. Karena semua orang yang menyebarkannya bisa menjadi apapun yang mereka mau, tanpa pertimbangan benar atau salah. Panggung dunia maya yang tercipta begitu saja, dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak ingin melihat negeri kita aman dan damai!”

“Ah! Banyak omong kamu! Lebih baik kamu bergabung juga dengan yang lainnya!” laki-laki berjenggot itu menarik tangan Ahmad dengan paksa. Sementara Wafa juga ikut membantunya. Sekuat mungkin Ahmad mencoba melepaskan diri, ia tetap tidak bisa pergi dari rumah itu. Pintunya terkunci. Hanya satu harapan yang masih tersisa baginya. Menghubungi Wawan dengan ponselnya. Namun bagaimana caranya?

***

Di sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, Ahmad bersama empat orang lainnya diikat dan dijadikan sandera. Ada tiga laki-laki dan satu perempuan bercadar di antara mereka. Tangan dan kaki mereka diikat, sedangkan mulut mereka dilakban.

“Wafa! Kenapa kamu lakukan ini pada saya? Bukankah kamu bilang bahwa adikmu diculik, dan hanya kamu satu-satunya orang yang ia miliki? Kenapa kamu justru menjebak saya dengan drama semacam ini?”

“Aku tidak sedang memainkan drama, sayang. Lihat di sebelah kirimu. Dia adikku. Dan dia memang diculik sebelum ini.”

“Apa? Kamu gila! Aku tidak mengerti cara berpikirmu!”

“Maka setelah ini mengertilah.”

“Hahaha. Selamat tinggal para pecundang!” ucap lelaki berjenggot dengan seringai tipis, lantas melangkah keluar hendak menutup pintu.

“Kakak! Kakak jahat! Kenapa kakak tidak mengingat pesan dari almarhum ayah kita?” perempuan bercadar yang diikat berteriak dengan suara parau.

“Mereka sudah meninggal. Tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka. Aku amat kasihan padamu. Andai kata hatimu terbuka dengan seruan Syeikh Ghufron, nasibmu pasti tidak akan semalang ini, adikku,” mendengar jawaban Wafa, lelaki berjenggot yang disebut Syeikh Ghufron itu kembali menyeringai sembari menutup pintu dengan keras dan menguncinya.

Perempuan bercadar yang merupakan adik Wafa tadi tersedu sembari menundukan kepala. Hanya dia sendiri yang mulutnya tidak dilakban. Sebagai seorang kakak, ternyata Wafa masih memiliki kepedulian terhadap adik semata wayangnya itu. Tiga kali sehari Wafa menyuapi adiknya, walau seringnya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Ahmad menatap adik Wafa dengan iba. Ia ikut tertunduk karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya pun dilakban.

“Kakakku sebenarnya adalah orang yang baik. Kita dibesarkan dalam asuhan ayah dan ibu yang sangat menghargai perbedaan. Mereka mengajari kami apapun, termasuk dalam hal agama. Setelah ini, jangan pernah salahkan pakaian yang kami pakai. Karena pribadi seseorang tidak bisa dinilai hanya sekadar dari tampilan luarnya. Oh ya, namaku Alsa,” ucapnya memperkenalkan diri sembari menjelaskan sedikit tentang latar belakang keluarganya. Ahmad hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Karena tak ada lagi bagian tubuh lainnya yang bisa ia gerakkan secara bebas.

“Namun semenjak orang tua kami meninggal, Kak Wafa sempat ingin melepas cadarnya dan hampir tenggelam ke dunia bebas. Lantas, sebuah peristiwa membuatnya menyesal sedemikian hebat, hingga kemudian ia bertemu dengan orang itu,” Alsa menghembuskan nafasnya berat. Ia berhenti sejenak tatkala menyebut ‘orang itu’.

“Entah apa yang ia lakukan, sehingga membuat kakakku menjadi seperti sekarang. Kakak sangat patuh terhadap semua perintahnya, meskipun sesekali kulihat kakak menangis saat menyuapiku. Namun, wajahnya seolah tak menampilkan ekspresi apapun. Ia telah benar-benar menjadi seorang robot hidup. Kurasa, otak kakak telah dicuci sedemikian rupa.” lanjut Alsa. Tidak ada yang bisa Ahmad lakukan selain terkadang mengangguk, menggeleng, atau berkedip cepat.

***

“Cepat katakan dimana teman saya berada!” Wawan mengguncang-guncang badan Ghufron. Ia bersama para santri lainnya berhasil mengepung rumah itu. Sementara Pak Kyai bersama polisi, menunggu di luar rumah.

“Apa maksudmu? Jangan ganggu ketentraman hidup saya!”

“Cih! Justru Anda yang meresahkan umat ini dengan dakwah Anda yang keliru! Anda cuci otak orang-orang awam yang belum paham betul terhadap agama! Bertaubatlah sebelum terlambat!”

“Justru kalian yang harusnya bertaubat, karena telah melakukan penyerbuan ini!”

“Bang, ada suara perempuan meminta tolong di ruangan belakang!” pekik Tio, salah seorang santri. Wawan memberikan kode pada yang lain untuk mengikuti Tio. Sementara Ghufron dipitingnya dengan jurus andalan yang paling ia kuasai dalam pencak silat.

“Kamu harus bertemu Pak Kyai secepatnya. Ikut saya!” Wawan menggiring tubuh itu secara paksa. Dibantu oleh dua rekannya yang lain, Ghufron dibawa keluar rumah untuk menemui Pak Kyai. Sementara itu, Wafa telah lebih dahulu ditangkap. Ia dimasukkan ke mobil polisi untuk kemudian dibawa ke kantor polisi agar diperiksa lebih lanjut.

“Dasar kalian para pembela thogut! Bisanya Cuma menangkap dan mengadili orang-orang tak bersalah! Sedangkan yang dilindungi justru antek-antek kafir yang merusak negeri ini! Lihat saja pembalasan Allah di pengadilan tanpa akhir nanti!” pekik Ghufron ketika melihat banyaknya polisi yang berjaga di depan rumahnya. Sementara Pak Kyai membaca beberapa wirid untuk tetap tenang. Beliau sudah mengetahui betul perangai orang-orang seperti Ghufron. Terlalu bersemangat belajar ilmu agama, namun ternyata malah tersesat di jalan yang salah.

“Jangan bawa mereka ke kantor polisi. Tapi bawalah ke pondok untuk mendapatkan rehabilitasi dariku dan para santri lainnya. Mereka bukanlah seorang penjahat. Melainkan, hanya keliru saja dalam hal cara berpikir dan memahami sesuatu,” Pak Kyai berbicara kepada Wawan dan beberapa polisi yang berada di sekitar mobil tempat Wafa sudah ada di dalamnya.

“Tapi Pak Kyai, bagaimana jika dia nantinya…”

“Jangan suudzon terhadap saudara kita. Apakah aku pernah mengajarimu untuk berlaku kasar terhadap orang lain? Maafkanlah kesalahannya. Karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Jadi, kupikir kita harus memberi mereka kesempatan untuk menyadari kesalahan, dan kembali ke jalan yang benar,” Pak Kyai memotong kata-kata Wawan yang menyayangkan keputusan beliau untuk membawa Ghufron dan Wafa ke pondok.

“Baik, Pak Kyai. Sendika dhawuh,” ucap Wawan pada akhirnya.

Biar bagaimanapun, pemahaman Ghufron sebelumnya tentang mendirikan sistem pemerintahan baru di Indonesia, merupakan pemikiran yang bisa dikategorikan sebagai gerakan separatis. Karena, mereka tidak bisa menerima hukum tata negara dan pemerintahan Indonesia sebagaimana yang telah diwariskan para pahlawan, sebelum negeri ini merdeka.

Pak Kyai tau akan hal itu. Seperti kata beliau, bahwa orang-orang seperti Ghufron dan Wafa bukanlah seorang penjahat. Melainkan, mereka hanya butuh diluruskan dan diberi pemahaman yang benar tentang arti sebuah bangsa dan cinta tanah air, sebagai seorang pemeluk agama yang baik. Maka dari itu, menempatkan Ghufron dan Wafa di lingkungan pondok dengan atmosfer yang mendukung, bisa jadi akan memperluas pemikiran mereka tak hanya tentang agama, namun juga bangsa dan negara.

***

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Ahmad setelah mereka sampai di pondok. Kelima sandera berhasil dibebaskan dan mendapat pertolongan intensif, termasuk dirinya dan Alsa.

“Jangan bodoh. Saya sudah curiga kepadamu sejak awal. Saya memutuskan untuk mengikutimu dari belakang setelah kamu bilang meminjam motor, tanpa menjawab satu pertanyaan saya," Wawan menjelaskan. Mereka berjalan beriringan melewati lapangan pondok yang luas.

“Lalu bagaimana dengan Pak Kyai?”

“Sejak kamu memperlihatkan foto perempuan bercadar itu kepada saya, saya langsung mencari tahu tentang lambang pada cincin yang ia kenakan. Lantas, saya memberitahu Pak Kyai akan hal ini tanpa sepengetahuanmu. Saat itu, beliau langsung tahu dan hafal tabiat apa saja yang menjadi ciri khas gerakan ini. Namun, sebelumnya saya juga tidak menyangka bahwa Pak Kyai justru akan membawa mereka kemari.”

“Maafkan saya, Wan. Ternyata saya kurang berhati-hati.”

“Tidak apa-apa, sahabat. Saya sudah sangat bersyukur bahwa kamu tetap mempertahankan kecintaanmu terhadap tanah air kita, dan reputasi kita sebagai seorang santri. Sebenarnya, ini juga termasuk sebagai tanggung jawab kita kepada Allah kelak,” Wawan merangkul bahu Ahmad, disusul balasan yang lebih erat.

“Terima kasih, sahabat baik!"

SELESAI

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi