Friday, September 28, 2018

PUISI : Belum Ada Judul


Langit kembali dituangi jelaga
Gelap gulita tanpa cahaya
Inilah malam
Yang juga selalu membuatku tenggelam
Di dalam kelam

Aku dan kekecewaan
Adalah sahabat sangat dekat
Dulu

Kemudian
Takdir menibakanku pada hari ini
Hari dimana kau datang
Dengan kekatamu
Yang entah memang kebenaran
Atau hanya sekadar bualan

Sayang, aku bukan peramal
Aku lumpuh
Jika harus membaca pikiranmu
Membaca bibir dan matamu saja
Aku gagal

Benar
Aku ingin kembali bahagia
Entah itu denganmu atau lainnya
Entah akan sekarang, atau suatu hari
Yang jelas, takdir selalu tiba
Pada waktu yang tepat

Ya
Kau datang
Seseorang dari masa lalu
Yang pernah ingin aku abaikan
Apa alasanmu kembali?
Jika dia masih denganmu?
Untuk apa kau mengetuk pintu?
Jika orang lain masih menggenggam erat tanganmu

Maaf
Kebodohanku tidak akan terulang
Untuk kedua kali

Asal kau tahu
Aku selalu menerima kedatanganmu
Datanglah
Mendekatlah
Kemarilah
Tidak apa-apa
Sungguh tidak apa-apa
Tapi, apakah datangmu
tidak bisakah jika tidak bersamanya?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Prosa : Untuk Seseorang di Masa Depanku

Ketahuilah, aku sudah lama berdamai dengan masa laluku. Memaafkan, kemudian menerima segala yang pernah terjadi dulu. Dan sekarang, sedang berusaha dan masih berupaya untuk memperbaiki semuanya.

Aku, ingin sekali kamu tahu dan mengerti. Bahwa aku yang sekarang sudah sangat bisa menerima kehadiran orang baru.

Tentu saja ini tidak mudah.

Setelah berbagai patah hati dan ketidaksetiaan janji yang sempat mereka berikan, aku jadi banyak belajar dari kehidupan. Bahwa yang baik, belum tentu tepat. Bahwa yang sesungguhnya kuharapkan dan inginkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Tapi sekarang, ketika aku bertemu denganmu. Entah kenapa keyakinan itu tiba-tiba saja tumbuh dan menancapkan akarnya sebegitu dalam.

Menguatkan setiap inci kecewa yang dulu pernah kucicipi. Keyakinan tak kasat mata yang mungkin diberikan Tuhan untuk kutumbuh-kembangkan, menjadi sebuah usaha untuk menggapai impian, menuju kebahagiaan yang hakiki.

Maaf jika aku begitu lancang. Namun, fatwa hatiku tetap saja menyebut-nyebut namamu seperti rintihan dzikir seorang pendosa yang pesakitan.

Namun, jika pada akhirnya tidak denganmu. Jika pada akhirnya adalah orang lain. Dapatkah, punggungmu saja cukup untuk memberiku salam perpisahan?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

One Day One Post : TANTANGAN III - Balkondes Borobudur, Daya Tarik Wisata Baru di Kawasan 7 Keajaiban Dunia



Borobudur adalah salah satu kecamatan dengan prospek wisata terbesar yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan adanya Candi Borobudur yang pernah menempati salah satu dari tujuh keajaiban dunia, membuat nama Kecamatan Borobudur kian mendunia di kancah internasional. Tak hanya itu, potensi wisata lain pun terus dikembangkan oleh pemerintah guna menjadikan wilayah Borobudur dan sekitarnya menjadi tujuan utama para wisatawan mancanegara, maupun lokal.

Potensi tempat wisata yang sedang dikembangkan oleh Kementrian BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di sekitar kawasan wisata Candi Borobudur saat ini adalah Balai Ekonomi Desa atau biasa disebut dengan Balkondes. Saat ini, terdapat sekitar 20 Balkondes dengan berbagai macam fasilitas lengkap yang menjadi destinasi baru para wisatawan di Kecamatan Borobudur.

Menurut Rini Soemarmo selaku Menteri BUMN, Balkondes yang ada di sekitar kawasan wisata Candi Borobudur ini merupakan Interconecting Tourism System berbasis komunitas. Tujuan pembangunan Balkondes pun bukan sekadar untuk meningkatkan perekonomian desa semata. Melainkan, juga untuk memberdayakan dan mengembangkan potensi SDM yang berbasis wisata.

Kementerian BUMN dalam hal ini juga bekerjasama dengan BUMN Pariwisata, yaitu PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Persero, maupun dengan PT Patrajasa, anak usaha Pertamina yang menjadi manajemen Balkondes. Tak hanya itu, website online dengan alamat www.balkondesborobudur.com juga menjadi salah satu sektor yang dikelola pemerintah BUMN untuk memberikan informasi terkait Balkondes yang ada di sekitar kawasan wisata Candi Borobudur, kepada masyarakat luas.

Diantara fasilitas yang ditawarkan saat mengunjungi Balkondes di Borobudur, Komunitas Volkswagen Cabrio Camat Magelang memanfaatkan potensi ini untuk menarik para wisatawan yang ingin melakukan tour keliling desa, kota, ataupun sejumlah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Magelang dengan menaiki mobil produksi Jerman Barat tersebut.

Selain sensasi baru saat menaiki mobil VW klasik tersebut, para wisatawan juga dapat menikmati sejumlah panorama indah lainnya. Seperti gugusan pegunungan di kanan kiri jalan, udara segar khas pedesaan, bangunan Candi Borobudur, maupun tempat wisata lain yang ada di sekitar kawasan Kabupaten Magelang.

Adapun bagi para wisatawan yang ingin merasakan pengalaman menantang yang memompa adrenalin, Balkondes Candirejo yang terletak 4km di sebelah timur kompleks wilayah Candi Borobudur menyediakan paket wisata off-road di pegunungan Menoreh, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang menggunakan mobil Jeep yang telah disediakan.

Dipandu oleh driver off-road yang profesional, para wisatawan akan diajak berpetualang mendaki pegunungan Menoreh yang terletak sekitar 3km dari Candi Borobudur. Walaupun melewati medan yang terjal, berliku, dan berbatu, namun hamparan pemandangan alam serta lanskap hijau yang indah di kawasan Candi Borobudur, membuat pengalaman ini tak akan pernah terlupakan.

#TantanganODOP3
#onedayonepost
#odopbatch6
#nonfiksi

Sunday, September 23, 2018

One Day One Post : TANTANGAN II Part 2 - Broken Home (Poor Family)



“Apa yang bisa diharapkan dari seorang pengangguran sepertiku? Tidak ada! Kalaupun kamu tidak sanggup menghadapi kemelaratan keluarga kita, sebaiknya cari saja laki-laki lain yang mau memberikan segala apa yang kamu minta!”
“Kamu terlalu sensitif, mas! Bukan itu yang kumaksudkan. Aku memintamu bekerja, karena tanggung jawab seorang kepala keluarga adalah menafkahi lahir dan batin. Jika kegiatanmu hanya duduk diam sambil merokok di teras seperti ini, maka secara tidak langsung kamu sudah mendzalimi hakku dan Nurma sebagai seorang yang harus kamu nafkahi!”
“Kenapa tidak kamu saja yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Toh, diamku juga untuk menunggu pesanan lukisan.”
“Lantas, sampai kapan harus menunggu? Kita sudah tidak memiliki persediaan beras lagi untuk makan besok. Apakah saya harus memasak batu?”
“Jaga bicaramu! Setidaknya, hormatilah aku sebagai suami yang harus kau taati!”
“Sudahlah mas, aku muak dengan segala alasanmu! Lebih baik aku pergi saja!”
“Ya, pergi saja! Carilah kehidupan yang lebih baik di luar sana!”
Nurma menyaksikan kejadian itu dibalik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Sejak tadi, belajarnya terganggu karena teriakan-teriakan kemarahan orang tuanya itu. Ia tidak terlalu mengerti tentang hal apa yang sedang kedua orang tuanya perdebatkan. Usianya masih terlalu kecil untuk tahu. Yang jelas, ia memegang teguh perkataan ibunya untuk mencerdaskan dirinya sendiri terlebih dahulu. Agar kelak jika ia besar, bisa menikah dengan laki-laki yang juga terpelajar dan mampu memahami seorang perempuan dengan baik.
Namun, sekuat apapun seorang perempuan menahan perasaannya, ia pasti akan pundung juga. Akan rapuh juga. Sudah berhari-hari sebenarnya, ibu Nurma berusaha membagi jatah menanak nasi untuk dimakan dalam satu hari, oleh tiga orang. Sementara itu, tabungan pribadinya juga sudah menipis untuk bertahan hidup sehari-hari. Sedangkan uang pemberian suaminya belum juga ia terima lagi semenjak satu bulan yang lalu.
Nurma amat tahu perjuangan ibunya untuk bisa menghidupi keluarga mereka sendirian. Dari mulai kerja serabutan, menjadi buruh cuci, dan lain sebagainya. awalnya, Nurma pikir ibu melakukannya dengan senang hati, dan tidak memendam kekesalan pada ayahnya. Ternyata ia salah sangka. Setiap kekesalan yang dipendam itu, mungkin sudah menjadi bom waktu yang meledak saat semua rasa sakit sudah tidak sanggup ibunya rasakan sendiri.
Ayah Nurma adalah seorang pelukis yang hanya mengerjakan pekerjaannya jika ada yang memesan lukisan. Itupun amat jarang sekali. Mengingat orang-orang di zaman millenial ini cenderung tergantung pada benda-benda elektronik. Lukisan pun mulai terkikis dengan adanya display layar yang bahkan bisa menampilkan lebih dari satu gambar.

“Baik, saya pergi. Lebih dari itu, kamu pasti mengizinkan. Saya juga akan membawa Nurma untuk ikut serta. Jika perlu, jangan cari saya lagi.”
“Pergilah! Pergi kalian! Aku tidak butuh peremuan pemalas sepertimu!”
“Apa katamu? Sekarang siapa yang pemalas? Pantaskah seorang suami yang masih sehat fisik dan jiwanya, membiarkan begitu saja istrinya bekerja serabutan, siang dan malam. Sementara masih banyak pekerjaan rumah yang juga harus kuselesaikan, sementara kau hanya tinggal ongkang kaki di teras rumah?”
“CUKUP!” suara cempreng itu memecah ketegangan pertengkaran yang berlangsung.
“Ayah sama ibu, bisa tidak untuk tidak bertengkar terus? Sehariii saja. Agar Nurma bisa konsentrasi belajar dan menyerap ilmu dengan baik. Nurma capek, jika harus mendengarkan kalian berdebat,” gadis kecil itu memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Isak tangisnya sudah tak tertahankan lagi. Ia menangis sejadinya.
Ayah dan ibunya sontak menoleh ke arah suara itu. Pandangan mereka sama-sama iba menatap anak semata wayang mereka menangis tersedu-sedu. Sementara, Nurma terduduk begitu saja setelah mengatakan unek-uneknya itu. Hingga tanpa diduga, sebuah suara membuat sayatan dalam hatinya kian menganga.
“Urus saja anakmu yang cengeng itu! Kalian sama saja tidak bisa diandalkan!” sang ayah lalu berlalu pergi begitu saja, setelah membuang puntung rokoknya sembarangan ke lantai tanah rumah mereka.

#TantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi