Saturday, July 14, 2018

Katanya, "Hidup nggak harus selalu tentang uang?"



Senin, 9 Juli 2018

Iya. Katanya sih begitu. Kata orang yang dulu punya pekerjaan tetap dan gaji bulanan yang tiap tanggal 28 cair. Dia emang nggak khawatir masalah UANG. Sesuatu yang nggak jarang bisa bikin orang yang tadinya adem ayem tiba-tiba bertengkar. Yang tadinya orang baik-baik mendadak jadi penjahat demi sesuap nasi yang harus dibeli dengan membelanjakan uang itu sendiri.

Dulu, mudah rasanya bilang, "Rezeki Allah itu ada. Nggak pernah tertukar buat setiap mahluknya." Iya, ini teorinya. Gampang banget bilang begini. Prakteknya? Kalau nggak bener-bener usaha keras buat mencapai titik nyaman yang dulu pernah diduduki, bahkan lebih dari itu, ya emang sulit.

Banyak orang bisa jadi gelap mata gara-gara se-sen uangnya hilang. Gara-gara dia nggak punya benda  ini buat sekadar beli makan. Buat sekadar bertahan hidup untuk hari ini aja, misal. Lantas menghalalkan segala cara agar pada akhirnya bisa makan dan tetap hidup dengan sehat wal afiyat.

Tapi tahu apa yang terjadi selanjutnya? Mungkin dia berhasil bertahan hidup. Tapi hidupnya kemudian penuh dengan ketakutan. Jika orang tadi bertahan hidup dengan cara tidak benar yang ia halalkan sendiri, maka jelas akibatnya akan dapat dosa. Selain dosa, tentu akan terjadi pergeseran norma di masyarakat. Dia telah melanggar norma yang selama ini diterapkan baik tertulis maupun tidak tertulis.

Kemungkinan, jika orang-orang mampu menuntutnya ke meja hijau, maka hidupnya akan berantakan dan diliputi penyesalan tak berkesudahan. Jika pun tidak, dan dia ketagihan untuk mengulanginya lagi dan lagi, maka yang ada dia jadi kebal terhadap dosa. Norma agamanya sama Tuhan udah nggak ada. Dia nggak takut apapun, karena dia sendiri udah bikin takut orang-orang.

Benar kata ibu. Uang juga penting buat kehidupan. Minimal cukup untuk bertahan hidup. Sisanya, dicukup-cukupkan.

Jadi, kata-kata anak kecil sok tahu ini tentang, "Uang bukan segalanya dalam kehidupan." Itu emang nggak bisa langsung ditelan mentah-mentah. Bisa keloloden nanti. Haha.

Aku tahu banyak yang lebih penting dari sekadar uang. Tapi, berusaha untuk mendapatkannya dengan kerja keras kurasa adalah sesuatu yang normal. Sebab, apa salahnya berusaha keras sedini mungkin, untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, bahkan lebih dari itu di kemudian hari?

Ya, karena kita nggak tahu masa depan. Maka yang ada sekarang, kita hanya harus berusaha menjadi yang terbaik. Mengerjakan kebaikan-kebaikan atau usaha kecil, diimbangi dengan do'a dan sedekah.

Mungkin terlihat mudah. Namun sebenarnya melelahkan juga. Lebih lelah daripada bekerja dengan orang lain. Lelah pikirannya. Karena bagaimanapun harus memutar otak dan mencari jalan keluar terbaik untuk bisa kembali berada di titik aman dan nyaman.

Tuesday, July 10, 2018

Keputusan Prematur?

Febri - Aku - Amara


2 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 18 Mei 2018. Aku resmi berhenti dari pabrik tempatku bekerja. Ya, aku resign atau mengundurkan diri secara baik-baik dari Hitachi Electronics Product Malaysia Berhad.

Bukan tanpa alasan aku berhenti. Tidak mungkin juga sebenarnya jika harus menyia-nyiakan begitu saja gaji setara PNS di negeri sendiri. Namun, demi mengejar cita-cita serta mengikuti naluri hati dan jiwa. Aku rela meninggalkan semua kenyamanan di negara tetangga.

Jujur, bisa kukatakan bahwa keputusanku untuk mengundurkan diri hanya bermodal nekad, keyakinan, serta riap-riap do'a yang bahkan kadang lupa untuk kupanjatkan. Namun, entah bagaimana Allah melancarkan segalanya.

Langkah kakiku dituntun-Nya untuk melangkah saja tanpa ragu. Haha. Mengingat bagaimana hatiku berdebar tak karuan ketika menyampaikan gagasan untuk berhenti bekerja, sebelum habis kontrak pada HRD. Bagaimana saat aku menulis surat pengunduran diri tanpa sepengetahuan teman-teman sekamarku. Bagaimana aku memberikannya dengan wajah pias pada HRD. Bagaimana saat akhirnya mereka menyetujui keinginanku dengan beberapa syarat yang harus kupenuhi.

Bagaimana saat aku sendirian mendorong-dorong trolly di bandara. Bagaimana saat ternyata aku kelebihan bagasi dan harus membayar biaya tambahan yang lumayan. Bagaimana saat aku menjejakkan kaki kembali ke tanah air.

Bagaimana saat aku dan bapak menerobos hujan demi bisa melihat lokasi ujian. Bagaimana saat aku ciut nyali di ruang ujian, yang kemungkinan sebagian besar dari mereka adalah fresh graduate, lulusan pesantren, dan lain sebagainya. Sedangkan aku hanya seorang lulusan smk, itu pun sudah 2 tahun yang lalu.

Ya, semua momen itu kembali terputar di kepalaku bagaikan film layar lebar yang kini ditonton banyak orang.

Dan hari ini, aku hanya tidak menyangka bahwa akhirnya Allah mengabulkan riap-riap do'aku dengan cara yang berbeda.

Alhamdulillah

Memang bukan Semarang, Jakarta, Yogyakarta, apalagi Bandung. Tempat-tempat yang sebenarnya ingin kutinggali untuk perjalanan kehidupanku selanjutnya. Namun, Allah tetap mengabulkan karena menggantinya dengan Salatiga. Ya, tempat yang juga asing dan belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Tidak mengapa. Mudah-mudahan, ini adalah awal dari perjuanganku yang sempat tertunda 2 tahun yang lalu. Tidak ke Sastra Inggris Semarang, Alhamdulillah ke Sastra Arab Salatiga. Hehe.

Aku tidak tahu ini berlebihan atau tidak. Hanya saja, aku merasa sangat bersyukur kepada Allah telah diberi kesempatan ini.
Memang kuakui. Bukan aku yang hebat. Tapi Allah-lah yang Maha Baik.

Alhamdulillah sekali lagi. Ini masihlah awal dari segala perjuangan yang kucita-citakan itu. Aku baru sampai di pintu gerbang yang terbuka. Belum sampai melangkahkan kaki ke dalam untuk melihat-lihat. Apalagi sampai tinggal dan menetap. Belum. Ini masih hanya soal waktu.

Bismillah. Dengan menyebut nama Allah, semoga Dia memberkahi langkah-langkah selanjutnya. Karena jika memang jalanku telah Ia tetapkan untuk memperjuangkan sesuatu yang Allah ridhai, insyaAllah semuanya akan menjadi mudah.

Pun, terima kasih setulus-tulusnya kepada teman-teman yang sudah mendoakan kebaikan untukku. Semoga, kelak Allah membalasnya dengan berlipat ganda, insyaAllah.



📝rismariesttt


Sunday, July 8, 2018

Polyglot


Polyglot. Kata ini beberapa hari yang lalu kuketahui dari internet. Kemudian, karena penasaran aku terus mencari tahunya di Youtube. Sampai pada akhirnya, kurasa aku mulai menyukainya. Dan rasanya, ingin sekali aku bisa menjadi seperti mereka. Mnguasai banyak bahasa, sepertinya menyenangkan, bukan?

Aku lupa kapan tepatnya aku menuliskan ini di dinding kamarku. Yang selanjutnya selalu bisa kulihat setiap hari. Setiap akan tidur, dan hendak tidur.

Kurasa, itu di tahun-tahun ketika aku masih SMK antara kelas 2 atau kelas 3. Ya, saat itu aku benar-benar bersemangat ingin mempelajari beberapa bahasa tersebut. Hingga memiliki wacana untuk menuliskan beberapa kosa kata dengan arti yang sama di dinding kamar untuk kuhafal kemudian. Tapi, nyatanya itu hanya sebuah wacana.

Entahlah. Apa yang terjadi pada diriku saat itu. Seingatku, diriku yang saat itu sedang sangat terobsesi dengan K-Wave, Halyu atau lebih dikenal dengan K-Pop, ingin sekali rasanya bisa fasih berbicara layaknya para oppa dan eonni Korea. Bahkan, sekali waktu ingin berkunjung ke Negara Ginseng tersebut.

Pun juga, kelas 2 SMK adalah saat dimana aku begitu suka mendengarkan lagu One Ok Rock. Band asal Negara Matahari Terbit itu mampu menyihirku untuk juga ingin mempelajari bahasa ibu mereka, bahasa Jepang.

Bahasa Inggris. Tentu saja semua orang ingin menguasainya, bukan? Selain bahasa tersebut merupakan bahasa internasional, bagiku mampu berbahasa Inggris adalah salah satu soft skill yang akan berguna ketika hendak mendaftar pekerjaan dengan prospek kerja yang bagus.

Lalu bagaimana dengan Bahasa Arab? Kupikir, yang satu ini lain lagi. Ceritanya panjang sekali. Dan kurasa, aku baru menyadarinya belakangan ini.

Dulu, aku mengenal bahasa Arab sejak aku bisa berbicara. Orang tua serta keluargaku yang mengajarkannya. Awal sekali aku tahu bahasa ini adalah ketika mereka mengajariku bagaimana bacaan-bacaan yang harus dibaca saat sholat. Kemudian, setelah mereka merasa bahwa aku cukup mampu untuk melafalkannya, dibawalah aku ke guru ngaji yang ada di kampungku.

Namanya mbah Juni. Dari cerita yang kudapat, beliau merupakan pensiunan guru agama yang ternyata lulusan pondok Lirboyo yang ada di Kediri. Meski fisik dan perawakannya sudah sepuh, namun mbah Juni masih dalam kondisi prima mengajari murid-muridnya.

Di rumahnya yang sederhana, mbah Juni mengajari puluhan muridnya dengan sistem mirip kelas yang berjenjang. Paling rendah adalah bagi anak-anak usia balita. Mereka diajarkan untuk menghafal bagian-bagian akhir Juz 30. Dari surah At-Takasur sampai terakhir surah An-Nas. Setingkat lebih tinggi, diajari tentang cara membaca Iqra', bukan metode Al Baghdadiyyah atau yang lebih dikenal dengan "Turutan".

Di tingkat selanjutnya, mbah Juni juga mengajari murid-muridnya membaca Al-Qur'an dari juz 1 sampai juz 30. Dan yang terakhir, beliau mengajari kami membaca kitab-kitab. Aku lupa tepatnya berapa kitab yang sudah kubaca dan pelajari. Yang jelas, mbah Juni begitu telaten mengajari kami. Ya, walau memang tak kupungkiri dengan beberapa marah-marah kasih sayang. Karena ada murid-muridnya yang nakal, atau kadang sulit menirukan apa yang ia ajarkan.

Sejak aku masuk TK kecil sampai lulus SD, setiap sore pukul 3 atau pukul 4 aku selalu sudah siap untuk berangkat mengaji. Saat itu, ibu dan bapakku yang selalu mengantar bahkan menunggui. Hingga pada akhirnya, khatam Al-Qur'an pertamaku terjadi di kelas 4. Alhamdulillah.

Kurasa, 8 tahun lebih aku bertahan di pengajian yang diampu mbah Juni. Akrab sekali dengan bahasa Arab. Hanya saja, saat itu minat untuk mempelajari bahasa ini belum tumbuh merebak seperti saat ini. Baru mulai merekah lagi setelah 8 tahun kemudian, saat ini.

Ketika SMP, saat itu jadwalku berubah drastis. Pulang sekolah paling awal pukul 2 siang. Selebihnya selalu ada pelajaran tambahan sampai pukul 3 sore, bahkan lebih. Jadi, aku terpaksa memutuskan untuk tidak lagi belajar mengaji di tempat mbah Juni. Kemudian menggantinya dengan mengaji sendiri di rumah.

Sebenarnya, banyak kenangan manis yang masih kuingat sampai sekarang. Apalagi saat bulan Ramadhan datang. Bukan hanya setiap Ashar saja aku pergi mengaji. Namun selepas Maghrib, dan selepas Subuh setelah sahur. Dengan menahan kantuk yang tak tertahankan, tak jarang aku atau teman-temanku menguap lebar disertai "Haaaaah" panjang di akhirnya. Sesekali mbah Juni menegur, membuat kami malu sendiri melakukannya.

Menuliskan cerita ini, impianku menguasai bahasa Arab, juga mimpi baru untuk menjadi Polyglot. Lebih dari itu, aku merindukan sosok mbah Juni. Seorang guru ngaji tanpa pamrih. Beliau, yang di masa tuanya masih tetap menerima kedatangan murid-murid baru, mengajari mereka sampai fasih membaca Al-Qur'an dan kitab-kitab. Mengenang wajah galaknya yang lembut, sesekali tersenyum dengan giginya yang ompong.

Sungguh, aku rindu saat-saat itu. Wajah-wajah polos teman-temanku, obrolan-obrolan sederhana kami yang tanpa gadget, tanpa kesibukan masing-masing. Ah, sudah lama sekali rasanya.

Setiap lebaran datang, dulu aku selalu mengunjungi rumahnya. Menanyakan kabar, dan lain sebagainya. Tapi terakhir kalinya adalah dua tahun yang lalu. Tahun ini, entah kenapa hanya menjadi wacana.

Namun, melalui tulisan ini, aku senantiasa mendoakan kebaikan kepada beliau. Mungkin, aku memang tidak sanggup membalas jasa-jasa beliau dan keluarganya kepadaku atau teman-temanku selama ini. Tapi, insyaAllah segala kebaikannya akan mendapat balasan yang lebih baik di sisi Allah. Aamiin..

Terima kasih mbah Juni.. Engkau, sungguh guru terbaik yang pernah kupunya.

Saturday, July 7, 2018

Review (mungkin) : Tentang Kamu

Aku tidak habis pikir pada diriku sendiri. Menenggelamkan diri selama hampir 24 jam, menyelami buku ini, kemudian melumatnya sampai habis. Maksudku, tentu saja tidak 24 jam penuh aku terus membaca

Namun, kau tahu? 500 halaman bukanlah sesuatu yang mudah. Bagiku, prestasi pertamaku menghabiskan buku tebal terakhir kalinya adalah saat masih kelas 3 smp. Ketika membaca buku Sepatu Dahlan setebal 300an halaman. Itupun karena tenggat waktu yang diberikan si empunya buku. Ya, dulu aku selalu meminjam. Tidak sanggup untuk membelinya sendiri

Tidak sesederhana judulnya, "Tentang Kamu" menyuguhkan sebuah kisah berbeda, yang bahkan dari awal bab sudah salah kutebak. Kupikir, Tere Liye akan kembali membuat pembaca jatuh cinta pada tokoh utama yang diceritakan mengalir di dalam cerita. Seperti dalam novel "Hujan"

Jujur, walaupun sudah 2 tahun yang lalu aku membacanya, aku masih tidak bisa melupakan bagaimana setiap adegan yang ditulis apik oleh Tere Liye. Kisah tentang Lail dan Esok yang bergenre Science Fiction. Berlatar masa depan saat kelahiran bayi ke 1 milyar diumumkan. Ah, entah aku lupa latar waktu di buku itu tahun berapa

"Tentang Kamu". Sebenarnya, sudah lama aku memiliki buku ini. Kurasa, aku membelinya tahun lalu. Saat berita masif beredar bahwa tahun depan, buku Tere Liye tidak akan beredar lagi. Ya. Aku termasuk satu dari sekian banyak fans beliau yang merasa kecewa. Kemudian membelanjakan separuh tabunganku, demi membeli buku-buku beliau yang belum sempat kubaca

Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut kegilaan atau bukan. Namun, yang kutahu aku midah sekali jatuh cinta. Termasuk pada karya-karya epic semacam yang ada di buku ini

Kisah ternyata tidak terfokus pada tokoh pertama yang diceritakan, Zaman Zulkarnaen. Bukan. Melainkan, klien firma hukum tempatnya bekerja yang telah meninggal dunia. Uniknya, klien tersebut meninggal dengan aset sebesar 19 triliyun rupiah tanpa ahli waris

Ah, mungkin aku terlambat membaca  novel sebagus ini. Tidak apa. Aku tetap bersyukur karena pada akhirnya berhasil menamatkan kisah hidup seorang anak pelaut tangguh, bernama ibu Sri Ningsih

Aku tidak tahu kisah ini betulan terjadi atau tidak. Yang jelas, dalam beberapa bab sekali baca, aku langsung terkesima. Dengan jalan cerita, dan gaya bahasa Tere Liye yang begitu cerdas ketika mengungkapkan bagaimana masa lalu ibu Sri, hingga akhirnya Zaman benar-benar berhasil memecahkan kasus tersebut

Masa kecil Sri Ningsih yang begitu memilukan, masa remajanya yang memuat pengkhianatan, masa dewasanya yang berhasil memiliki pabrik besar di ibu kota. Lalu saat beliau menghabiskan waktu di London, bekerja sebagai supir bus perempuan sekaligus bertemu suaminya yang berkebangsaan Turki, lalu kehilangan semuanya. Bayi-bayi sekaligus suaminya. Kemudian menghabiskan waktu di panti jompo Kota Paris. Mengajar sekolah menari sampai keliling dunia. Hingga meninggalnya beliau dengan damai di lanti jompo

Sungguh. Aku benar-benar membayangkan jika kisah ini betulan ada di dunia. Akan sangat beruntung sekali orang-orang yang pernah ditemui dan dikenal oleh sosok bernama Sri Ningsih. Pribadi seserhana, namun dengan pemikiran yang tak pernah sesederhana kelihatannya

Pada akhirnya, novel ini sukses menumbuhkan motivasi di hatiku. Tak hanya mengandalkan mimpi dan angan-angan besar, namun juga semangat juang dan pergerakan yang konstan untuk tidak menyerah

Ah, rasanya ingin juga menulis kisah semacam ini. Semoga. Semoga suatu hati nanti aku bisa menepati janji ini. InsyaAllah..

📝rismariesttt

Sunday, June 24, 2018

Beda, Terus Kenapa?

Entahlah, sejak kapan ribuan kata dalam kepala ini meminta untuk dituliskan. Lama, aku menggelisahkan hal ini. Membuatku kadang tetap terjaga untuk beberapa jam setelah lewat tengah malam, tanpa kopi. Masih memikirkan masalah perbedaan yang tanpa ujungnya ini.

Beda. Satu kata yang saat ini membuatku sedikit tertatih untuk mengucapkan dan memikirkannya. Kata-kata bapak malam itu, benar-benar membuatku rapuh. Aku sungguh jatuh.

Mungkin, apa yang dikatakan bapak saat itu memang bukanlah pembenaran. Tapi, kebenaran yang memang terjadi pada masyarakat Indonesia pada umumnya, Jawa pada khususnya.

Entah pula sejak kapan aku merasa separuh nalarku runtuh begitu saja. Mendadak susah mengatur napas ketika kalimat-kalimat yang bapak lontarkan malam itu tiba-tiba terngiang di kepala.

Aku tahu, tidak boleh mempermainkan rasa sebelum tiba waktu tertepatnya. Tapi namanya hati, apa bisa diajak kompromi? Perasaan itu hadir karena perempuan kebanyakan, termasuk aku lebih mendahulukan hati dalam berpikir daripada logika.

Sebenarnya, tidak lucu juga jika disebut ketertarikan sesaat pada lawan jenis. Karena menurutku, perasaan ini bukan demikian adanya. Lebih dari itu, perasaan kepada seseorang yang saat ini kurasakan adalah sebentuk keyakinan yang bersumber dari lubuk hati paling dalam. Kupikir, aku tulus dalam rasaku kali ini.

Namun, apakah perasaan jualah yang menghalangi akal sehat untuk berpikir, bahwa perbedaan pemikiran akan melahirkan keputusan-keputusan yang juga akan berbeda nantinya?

Tunggu sebentar, bukankah hal tersebut wajar adanya dalam sebuah hubungan? Jadi, apa masalahnya? Kenapa bapak harus membesar-besarkan masalah perbedaan ini?

Lagipula, perbedaan yang terjadi bukankah hanya tentang organisasinya saja? Bukan soal akidah apalagi kepercayaan dalam beragama, dalam ber-Tuhan?

Allah..

Saturday, June 2, 2018

Benarkah?

Dwitasari, dalam bukunya yang berjudul "Jatuh Cinta Diam-Diam", menyertakan juga tulisan di bawahnya yang masih kuingat sampai sekarang. Tulisan itu ringkas, namun kaya akan makna, menurutku. Apalagi kalau bukan, "Setiap hati selalu menyimpan sebuah nama".

Di kalimat tersebut, ada dua "se" yang diikuti dengan "tiap" dan "buah". Dalam bahasa Indonesia, "se" merupakan imbuhan yang ditambahkan ke dalam sebuah kata, untuk merepresentasikan bahwa benda yang disebutkan jumlahnya hanya satu. Atau, "se" di sini fungsinya untuk menyingkat kata "satu" itu sendiri.

Maka, bunyi kalimatnya akan menjadi seperti ini jika diubah, "Satu hati selalu menyimpan satu nama".

Oh, ya? Benarkah? Aapakah benar begitu?

Hmm.. kurasa tidak. Tak akan pernah mungkin bahwa satu hati hanya akan menyimpan satu nama saja. Percayalah, ada begitu banyak nama yang pernah singgah dan  menjadi istimewa di sana.

Kau tahu?

Hati manusia adalah sesuatu yang sangat mudah sekali terbolak-balik. Contoh gampangnya saja, dalam hal memilih makanan yang akan kita makan, ataupun pakaian yang akan kita kenakan. Tidakkah kadang kita selalu dibuat bingung oleh begitu banyak pilihan? Kadang, perut ingin makan berat, tapi gengsi mengingatkan, untuk selalu jaga bodi. Walhasil, nggak jadi makan bakso, tapi cuman ngemut permen. Hahah.

Atau, kadang cuaca sedang dingin, namun hati kita menginginkan untuk mengenakan pakaian yang terbuka. Dalam kondisi tersebut, pada akhirnya mau tidak mau kita harus berpikir secara rasional. Dan tidak melulu mengikuti kata hati yang kadang tidak sesuai dengan keadaan.

Ya, begitulah hati. Menurutku, jika ada yang bilang, "Setiap hati selalu menyimpan sebuah nama", kurasa ada yang perlu ditambahkan untuk melengkapi kalimat tersebut.

Menjadi, "Setiap hati yang baik, akan menyimpan nama orang-orang baik di dalamnya. Namun, pasti ada, satu yang terbaik di antara mereka."

Lantas, apakah orang-orang yang baik itu termasuk di dalamnya adalah aku dan kamu?

Entahlah. Coba tanya diri kita masing-masing.

Karena yang paling tahu, kadar kemunafikan maupun kejujuran yang sebenarnya ada dalam diri kita, adalah diri kita sendiri dan Tuhan.

Selamat mencari dan bertanya!

Sunday, May 13, 2018

Who Am I?

Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia 2016

Terhitung sejak akhir 2016, saya memutuskan untuk tidak lagi membagikan foto wajah (selfie) di sosial media manapun. Sejak saat itu pula, saya merasa benar-benar malu pada diri saya sendiri. Malu di sini bukan karena saya tidak bersyukur atas pemberian Allah terhadap diri saya. Melainkan, lebih kepada malu karena begitu banyak kejelekan yang masih terdapat dalam diri saya, yang tidak orang ketahui. Sedangkan Allah selalu menutup rapat-rapat semua itu.

Sebagai seorang hamba, tentu saja saya pernah merasakan benar-benar menjadi yang begitu hina di hadapan Tuhan. Teringat akan dosa-dosa masa lalu yang belum saya taubati secara nasuha. Yang belum saya tangisi secara sungguh-sungguh. Yang masih sering saya kerjakan. Masih begitu lalai akan adanya hari pembalasan kelak. Dan malah berleha-leha dengan seenaknya. Astaghfirullah. Malu. Sangat malu.

Tapi, Allah memang Maha Baik. Dia berikan petunjuk kepada hati saya untuk tergerak memperbaiki diri. Untuk lebih dekat kepada-Nya. Untuk menjadi seorang muslimah yang pandai menjaga. Baik di dunia nyata maupun maya. Dan ini yang sedang saya usahakan untuk istiqomah sampai sekarang.

Memang kelihatannya sulit untuk tidak mengunggah foto diri di sosial media. Menghapus semua yang pernah terunggah dengan pelbagai macam pose pun sama  sulitnya. Tapi, saat itu saya hanya ingin benar-benar mendapatkan cinta Allah. Walau memang sangat sulit untuk menjaga semangat tetap membara.

Wanita, pada dasarnya memiliki sifat ingin dilihat. Ketika ia merasa dirinya cantik, maka umumnya ia akan bertanya pada orang lain, atau minimal mencari pengakuan atas dirinya. Dengan kalimat langsung atau tak langsung, yang intinya menginginkan pembuktian bahwa ia benar-benar cantik. Padahal, sebenarnya cantik itu tidak hanya diukur dari keelokan wajah dan fisik. Dan berusaha menjadi cantik, juga bukan goals atau tujuan kita diciptakan. Cantik itu murni pemberian Allah dan sebesar apa rasa syukur kita terhadap pemberian itu. Bukan sebuah penilaian manusia yang relatif dan selalu berubah.

Dewasa ini, begitu banyak kita temukan gadis cantik dan yang dianggap cantik, hidup dan bernapas di muka bumi ini. Sebagian dari mereka, menghiasi jalan-jalan sambil mengiklankan suatu produk. Ada yang berlenggak-lenggok tanpa menutup aurat. Ada juga yang sudah menutup aurat, tapi tidak sesuai syariat. Dan masih banyak gadis cantik lainnya yang mungkin tidak mengerti seberapa berharganya kecantikannya itu. Yang dengan bangganya ia pamerkan kemana-mana. Memang, orang lain kadang perlu untuk mengetahui siapa identitas kita. Tapi, kadang sebagian orang terlalu mengeksplorasi dirinya secara berlebihan. Hingga menyebabkan suatu permasalahan dengan dirinya sendiri. Dalam Islam, biasanya hal ini ada kaitannya dengan ujub, atau membanggakan dirinya sendiri. Meng-AKU-kan dirinya, lebih baik daripada orang lain. Naudzubillah.. 

Sebenarnya, cantik saja tidak cukup sebagai bekal kita untuk mendapatkan surga. Memang betul. Karena yang Allah lihat pada diri kita adalah taqwa dan hati. Seberapa taatnya kita pada Rabb, pemilik semesta ini. Dan seberapa bersih hati kita untuk selalu qanaah dan khusnudzon kepada-Nya.

Jadi, tidak peduli cantik atau tidaknya seorang wanita di mata manusia lainnya, yang jelas selama dia beriman dan bertaqwa kepada Rabbnya, ia lebih dari sekadar cantik.

Lalu, pertanyaan tentang siapa saya dalam postingan ini apa jawabannya?

Cukup sederhana sebenarnya untuk menjelaskan siapa saya. Tapi kadang, kerumitan terjadi setelah saya memulainya dengan kalimat-kalimat penjelas yang ujung-ujungnya malah tidak nyambung dengan kalimat utama. Heheh.

So, who am i?

Seperti yang selalu saya bilang, saya hanyalah perempuan biasa yang punya segudang mimpi untuk diwujudkan. Sedang berusaha menjadi sebenar-benar muslimah yang taat pada Rabb. Berjuang melawan diri sendiri. Meniti harapan menuju kebahagiaan dunia akhirat. Dan menjadi anak sulung sekaligus perempuan satu-satunya, yang benar-benar berbakti kepada kedua orang tuanya yang alhamdulillah masih sehat dan hidup sampai sekarang.

Sebenarnya, banyak yang ingin saya bagi dan ceritakan di postingan ini. Tapi, kesadaran bahwa hari ini saya belumlah menjadi apa-apa dan bukan sebagai siapa-siapa, membuat jemari saya terhenti sampai di sini untuk menjelaskan detail diri saya secara sepenuhnya.

Cukup surelkan pesan untuk berkenalan secara lebih jauh ke rismariest@gmail.com atau datang sendiri ke rumah saya bagi yang tahu. Haha. :D

Oke, cukup sekian postingan kali ini. Perdana. Semoga bisa istiqomah posting ke blog reot ini untuk setiap harinya. Aamiin.

Entahlah. Blog menjadi pelarian paling sempurna ketika sosial media terasa sudah membosankan. Hahah.