Sunday, August 19, 2018

Cerpen : Rahasia Hati



“Pin, nanti pulang sekolah kamu tolong antarkan kue dadar gulung sama lapis ini ke rumah Bu Irma yang di samping sd itu, ya! Soalnya kemarin beliau katanya mau ada hajatan di rumahnya. Terus onde-ondenya pesenan Pak Ikram yang jualan jam itu. Tolong antarkan juga nanti, ya! Kamu pernah ke rumahnya, kan pas silaturahim lebaran kemarin?” aku tersenyum mendengar penjelasan ibu, sambil memasukkan beberapa buku pelajaran untuk hari ini ke dalam tas. Seperti biasa, beliau berbicara dengan tentu saja sambil melakukan pekerjaan lain.
“Iya ibuku tercinta. Arifin sudah catat semua perkataan ibu di kepala kok. Jangan khawatir. Heheh,” aku mencangklong tas yang sudah kupenuhi perlengkapan sekolah hari ini. Mematut diri di depan cermin, menyisir rambut yang baru saja kuminyaki gasby, lalu tersenyum pada diri sendiri. Aku ganteng juga, ya. Pikirku iseng.
“Jangan lupa juga kamu minta uang kekurangan pembayarannya, ya. Mereka sudah kasih DP-nya ke ibu tempo hari. Pokoknya jangan sampai lupa!” ibu menegaskan sambil menyerahkan bungkusan plastik besar padaku.
“Iya, bu. Nggak bakalan lupa pokoknya. Yaudah, Arifin berangkat dulu, ya. Assalamualaikum,”aku tersenyum lagi, mencium tangan ibu, lalu bergegas untuk berangkat sekolah.
“Waalaikumussalam. Lho Pin, kamu nggak mau sangu, nak?”
“Eh iya, lupa, bu. Hehe.”
“Nah, kan belum apa-apa juga.”
***
“Makasih, ya Pin. Kue-kue buatan ibumu selalu ludes kalau saudara ibu ada yang mertamu ke sini. Habis enak, sih. Oh ya, ini ada sedikit buat kamu jajan, diambil ya, Pin!” Bu Irma berceloteh sembari memasukkan amplop ke saku bajuku.
“Eh nggak usah, bu. Saya diajarin sama ibu saya untuk tidak menerima suap. Heheh,” kataku polos sambil nyengir.
“Lho, kamu kira ini suap? Kan udah ibu bilang ini buat jajan kamu. Udah ambil aja, kamu yang pinter sekolahnya nanti ya, biar bisa naikin derajat ibumu kelak. Ibu ikhlas kok,” Bu Irma terus menyodorkan amplop yang akan kukembalikan itu. Yasudah, daripada menolak rezeki, aku terima saja.
“MaasyaAllah, terima kasih banyak atas doanya Bu Irma. Mudah-mudahan, doa baik juga kembali pada ibu sekeluarga, ya. Saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan Pin!”

Sesampainya di rumah, aku langsung melepas sepatuku dan membawanya ke dalam rumah setelah mengucap salam. Sepi, seperti biasa. Ibu pasti masih berjualan di pasar. Dan akan pulang setelah ashar menjelang maghrib nanti. Kebiasaanku setelah pulang sekolah adalah mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti mencuci piring, mencuci baju, memasak, menyapu rumah, dan lainnya. Kata ibu, walaupun anak laki-laki, tapi aku tidak boleh manja. Jika kelak aku sudah memiliki istri, maka dia adalah istriku, bukan pembantu yang bisa kusuruh apa saja nantinya.
Selama hampir 5 tahun ini, aku hanya tinggal berdua bersama ibu. Dan beliau sendirilah yang membiayai kebutuhan hidup dan sekolahku yang sudah mencapai kelas 5 ini. Aku tidak memiliki saudara kandung. Ayahku sudah meninggal ketika usiaku masih 6 tahun. Sepeninggal ayah, ibuku memilih untuk menjadi janda dan membesarkanku sendirian.
Entah kenapa, beliau enggan menikah lagi dengan alasan masih sangat mencintai ayah. Aku yang masih kecil ini, tidak paham apa itu arti cinta. Yang kutahu, ibu selalu mengajarkan untuk memberi tanpa mengharap balasan. Seperti yang selalu beliau lakukan setiap harinya. Ketika dagangannya masih banyak tersisa, beliau memilih membagikannya kepada orang-orang yang tak sengaja ditemuinya di jalan. Daripada mubadzir dan dimakan sendiri, katanya. Lebih baik dibagikan ke orang dengan niat sedekah. Ya, aku tahu itu karena setiap libur sekolah aku mendedikasikan seluruh waktuku untuk membantu ibu berjualan di pasar.

“Eh, ibu sudah pulang? Bagaimana hasil penjualan hari ini? Dagangan ibu laris, kan?” tanyaku pada ibu yang langsung duduk di kursi tamu sembari meletakkan keranjang kosong di atas meja.
“Ibu capek sekali, nak,” wajah ibu memang selalu terlihat lelah seperti itu. Namun, baru kali ini aku mendengarnya mengeluh.
“Mau Arifin pijit sebelah mana?” aku menawarkan.
“Tidak usah. Tapi, dada ibu terasa sesak sejak tadi.” ibu memegangi dadanya sambil sesekali komat-kamit, mungkin berdzikir.
“Atau kita ke dokter saja?” celetukku.
“Memangnya uang ibu sebanyak apa? Kamu nggak usah neko-neko deh, Pin. Nanti juga pasti sembuh sendiri kok. Kamu sudah sholat ashar belum? Sudah makan belum?” tanya ibu sambil mengusap kepalaku, mengusahakan senyum dengan wajah pucatnya.
“Alhamdulillah sudah keduanya, bu. Tapi apa nggak apa-apa ibu nggak periksa ke dokter dulu? Arifin masih ada tabungan kok,” aku berusaha meyakinkan ibu lagi.
Halah, wes to. Besok juga pasti sembuh, Pin. Lagian, bulan ini kan kamu belum bayar SPP juga, kan?”
“Iya, sih bu. Tapi kesehatan ibu lebih penting buat Arifin.”
Ibu rapopo, Pin. Sudah, ya. Ibu mau ambil wudhu dulu, sebelum keburu maghrib. Nanti seperti biasa kita sholat jamaah setelah itu baca Qur’an, ya!” aku mengiyakan kata-kata ibu sambil membantunya berdiri.
***
Setelah percakapan hari itu, seminggu kemudian ibuku tiba-tiba sesak napas lalu pingsan begitu saja setelah pulang dari pasar. Kebingungan, aku menangis sambil berteriak meminta tolong pada tetangga-tetangga sebelah rumahku. Bu Yani, yang rumahnya tepat di samping rumahku, langsung keluar dari rumahnya dengan tergopoh-gopoh. Pak Edi, suaminya pun sama paniknya. Karena histeris ibu pingsan, aku jadi tidak bisa menjelaskan dengan jelas apa yang terjadi sebenarnya. Jadilah mereka memutuskan untuk langsung membawa ibuku ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ibu langsung dibawa ke IGD untuk diperiksa dokter. Aku masih menangis. Bu Yani memelukku dan berusaha menenangkanku. Yang ada di pikiranku saat ini, hanyalah kesembuhan ibu. Tapi, di sisi lain aku juga berpikir, dari mana biaya rumah sakit akan kubayar? Tangisku semakin mengencang.
Setelah diperiksa dokter, ibuku dinyatakan mengidap penyakit asma dengan tingkatan parah menetap. Karena sudah lama dibiarkan tanpa pengobatan, penyakit ibu menjadi semakin kritis dan perlu dirawat inap.
Awalnya, yang mengetahui hal ini hanyalah Pak Edi dan Bu Yani saja. Namun, karena aku terus merengek dan mendesak mereka, akhirnya mereka mau memberi tahu yang sebenarnya.
Uang dari mana? Pikiranku langsung tertuju ke sana. Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa. Aku tidak mengenal saudara-saudara almarhum ayah. Pun tidak mungkin meminta bantuan dari saudara-saudara ibu, karena jauhnya jarak kami tinggal. Benar-benar tidak memungkinkan sama sekali. Ya Allah, bagaimana ini? Aku kembali menangis, kali ini tanpa dipeluk atau ditenangkan oleh Bu Yani atau Pak Edi.
***
“Assalamualaikum ibuku tercinta,” aku membuka pintu ruang rawat ibu. Alhamdulillah, kata dokter ibu sudah siuman dari pingsannya.
“Waalaikumussalam, nak. Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya ibu dengan suara lemah. Wajahnya pias, namun bibirnya memaksakan seutas senyum. Selang oksigen terpasang di hidungnya untuk alat bantu pernapasan.
“Seharusnya Arifin yang tanya seperti itu kepada ibu,” kataku lemas. Air mataku sudah kuhapus dan kutahan sebelum memasuki ruangan ini. Itu semua kulakukan demi melihat senyum ibu lagi. Karena selama ini, sebenarnya aku tidak diizinkan untuk menjadi anak yang cengeng. Tapi kali ini, aku mengingkari janjiku pada ibu.
“Ibu nggak apa-apa, nak. Ibu pasti sembuh nanti,” ibu mengelus kepalaku lembut, sambil tetap tersenyum.
“Oh, iya bu. Ibu mau dengar puisi yang Arifin buat tidak? Kemarin waktu tugas bikin puisi, kata bu guru puisi Arifin lho yang paling bagus!” aku berusaha tersenyum mengatakan hal ini.
“Oh, ya? Coba ibu mau dengar!” kata ibu tertarik. Ia membetulkan posisi tidurnya.
“Baik,” aku mulai menarik napas dalam-dalam. Mengingat-ingat puisi yang kebetulan bertema “Ibu” yang kemarin kubuat sendiri.
Ibu
Terlalu banyak kata yang ingin keluar dari mulutku
Jika berbicara tentangmu
Aksaraku, tak kan pernah cukup untuk gambarkan
Betapa ayu dan anggunnya dirimu tanpa bermacam dandanan
Betapa sederhana dan bersahaja lakumu bukan pencitraan
Betapa teduh dan menenangkan sabdamu tanpa kebencian
Kamu.. malaikat berwujud perempuan yang dikirim Tuhan
Ibu
Untukmu, lebih dari sekadar terima kasih ingin kuhaturkan
Pada luhur budi pekerti yang selalu kauajarkan
Pun, lebih dari sekadar terima kasih tidak terhingga
Telah melahirkanku dengan rahimmu yang mulia
Untuk ibuku, dari Arifin, anakmu tercinta
Aku menyudahi pembacaan puisiku di depan ibu. Kulihat, ada genangan tipis di bawah matanya, yang coba ia hapus. Kembali, aku mengumpulkan kekuatan, menarik nafasku panjang, untuk mengatakan sesuatu kepada ibu.
“Aku ingin berhenti sekolah, bu,” kataku datar tanpa melihat wajah ibu, membuang pandanganku ke lantai. Entahlah, aku tidak tahu perubahan air muka ibu sekarang. Tadi, kulihat ia tersenyum dan seolah hendak mengatakan sesuatu padaku. Tapi, kupotong begitu saja. Ya Allah, ampuni aku. Maafkan aku, ibu.
“Astaghfirullah.. Kenapa? Kenapa kamu nggak mau sekolah lagi, nak? Apa karena ibu? InsyaAllah, dengan izin Allah ibumu ini akan sembuh kembali, nak. Kamu ini masih kecil, masih sangat panjang masa depan menantimu. Kamu harus menggapai mimpi-mimpimu. Banggakan ibu, banggakan almarhum ayahmu. Apapun yang terjadi, kamu tetap harus sekolah!” aku semakin tertunduk, menahan tangis. Ingin menjawab perkataan ibu, tapi yang keluar dari mulutku hanyalah suara parau.
“Arifin mau kerja saja, bu. Bantu biaya pengobatan ibu,” susah payah aku menyusun kata-kata tersebut untuk keluar.
“Allah Maha Kaya, nak. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Jangan nangis lagi, jagoan ibu nggak boleh nangis,” kedua tangan ibu cekatan mengangkat kepalaku, mengusap air mata yang sudah tumpah di kedua pipiku.
***
Seperti kata ibu, aku tetap berangkat sekolah. Tapi, tetap saja yang ada dipikiranku hanyalah wajah ibu. Sepulang sekolah, aku sudah tidak sabar untuk segera ke rumah sakit. Karena sudah benar-benar tidak punya uang, aku terpaksa mengambil beberapa lembar seribuan yang masih tersisa di tabunganku untuk transportasi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Pak RT dan beberapa tetanggaku datang menjenguk ibu. Alhamdulillah, wajah ibu sudah sumringah seperti biasanya. Walaupun, beliau masih menggunakan alat bantu pernapasan.
“Nah ini dia Arifin! Panjang umur kamu, Pin. Kami semua sedang ngomongin kamu lho, barusan!” ucap Pak RT. Aku mencium tangannya, dan beberapa orang yang ada di sana.
“Terima kasih Pak RT, dan semuanya yang sudah berkenan menjenguk ibu saya. Maaf, jadi merepotkan kalian,” aku menunduk takzim.
“Tidak, Pin. Kami datang ke sini untuk membantu kamu dan ibumu. Bapak, dan para warga sudah sepakat untuk membantu kamu dan ibumu. Masalah biaya pengobatan ibumu, nggak usah kamu pikirkan lagi. Dan alhamdulillah, ada salah satu donatur di panti asuhan yang istri bapak kelola, sedang mencari anak asuh. Dan kebetulan, bapak ingat sama kamu, Pin. Ini orangnya, namanya Pak Indra. Jadi, mulai besok kamu jadi anak angkat Pak Indra dan keluarganya,” Pak RT memperkenalkanku dengan seorang bapak berperawakan besar serta berkumis tebal. Tampangnya sangar, namun senyumnya meneduhkan, batinku. Aku bingung harus bagaimana. Antara senang atau sedih mendapat berita seperti ini.
“Lalu ibu saya nanti sama siapa, Pak RT? Kami kan hanya tinggal berdua?” tanyaku polos.
“Jadi begini, nak. Mulai besok, status kamu menjadi anak angkat bapak. Semua keperluan sekolah dan biaya kehidupanmu untuk kedepannya, akan bapak dan istri yang tanggung. Kebetulan, kami juga hanya memiliki satu anak saja. Jadi, setiap hari kamu tetap boleh pulang ke rumahmu. Tapi, mainlah sesekali ke rumah bapak,” Pak Indra menjelaskan sambil mengusap kepalaku. Tidak tahu harus bagaimana, aku hanya melirik ibu yang masih terbaring dengan senyum tulus di wajahnya. Tak kupungkiri, matanya berkaca-kaca. Meski kepalanya mengangguk-angguk seolah setuju.
“Ingat kata-kata ibu yang kemarin itu, Pin. Hari ini, mungkin Allah telah mengijabah doa-doa kita melalui Pak RT, Pak Indra, dan para warga. Ibu ikhlas, le. Asal masa depanmu akan cerah nantinya,” setelah mendengar perkataan ibu barusan, aku langsung berhambur memeluknya. Kembali menangis, lalu mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah.
“Terima kasih, bu!” kataku sambil mengusap sisa air mata. Kucium tangan Pak Indra dan Pak RT dengan penuh syukur kepada Allah. Alhamdulillah.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
SELESAI

Ada Apa dengan Sastra Arab? Part II

Source : dictio.id

Dan puncak dari segalanya, adalah ketika aku pada akhirnya berhasil diterima di jurusan Sastra Inggris di sebuah universitas di Semarang. Saat itu, kupikir aku sudah dekat dengan tujuanku. Menjadi sastrawan, menjadi penulis. Namun, sebuah peristiwa harus menghancurkan mimpi itu dengan sadisnya. Meluluhlantakkan segala impian yang bahkan belum tumbuh tunasnya. Aku gagal kuliah. Aku gagal menjemput impianku pada saat itu.

2 tahun berlalu. Rentang 2016-2018 kuhabiskan dengan penuh harap dan penantian yang tak tenang. Kupikir, itu bukan duniaku. Aku tak nyaman berada di sana. Aku harus segera pulang dan membangun kembali pondasi-pondasi mimpi yang belum sepenuhnya tersusun rapi. Aku seperti terpenjara dalam ketidakberdayaan. Aku.. aku harus apa?

Perasaan-perasaan tak karuan itu pada akhirnya berhasil aku tangkal dengan terus menulis di sosial media. Entah dibaca banyak orang, entah segelintir orang, atau bahkan hanya aku sendiri yang membacanya. Aku tidak peduli. Seperti balas dendam, gaji bulananku sebagai seorang pekerja kusalurkan untuk membeli buku-buku. Sementara mereka tertimbun saja di rak dan belum pernah kubaca sama sekali karena alasan kesibukan bekerja. Sekian lama aku menimbun, ternyata sudah banyak juga.

Beberapa sumpah serapah sempat diajukan karena kebiasaan baruku membeli banyak buku ini. Bahkan, sempat kuutarakan jika nantinya aku tidak kuliah, lebih baik aku menghabiskan seluruh uangku untuk buku-buku saja. Agar aku tetap berwawasan luas, meski pupus sudah impianku menuntut ilmu secara langsung.

Tapi skenario Tuhan lebih indah. Entah kekuatan dari mana yang membuatku berkeyakinan tinggi untuk pergi lebih awal. Tentu saja dengan pembicaraan baik-baik dulu pada atasan. Dengan pembicaraan serius yang harus aku yang menangkan. Agar aku bisa pulang. Agar aku bisa kembali menyulam benang-benang mimpi yang sempat berserakan. Bermodal nekat diikuti dengan riap-riap muanajat, aku memberanikan diri menguatkan hati untuk mau dan mampu menerima segala kemungkinan. Sebaik atau seburuk apa pun pada akhirnya, aku selalu percaya bahwa Tuhan Maha Tahu yang terbaik untukku.

Secara ajaib, aku diperbolehkan berhenti kerja lebih cepat karena alasan jujur, dan terkesan memelas yang kubuat. 3 bulan sebelum masa kontrakku benar-benar habis, aku pulang dengan harapan baru untuk melanjutkan kuliah. Dimana pun tempatnya nanti, yang kupercaya adalah rencana Tuhan selalu yang terbaik.

Keajaiban lain, ketika aku dinyatakan berhasil diterima melalui jalur tes yang bahkan diikuti oleh ribuan mungkin, bahkan bisa mencapai puluhan atau ratusan ribu siswa dengan berbagai latar belakang di seluruh Indonesia. Entah bagaimana aku yang bahkan selama 2 tahun ini jarang bahkan tak pernah menyentuh buku-buku pelajaran, bertemu dengan guru, dan hal-hal berbau pendidikan lainnya, mampu menjadi salah satu yang berhasil memasuki jenjang perguruan tinggi. Bersaing dengan para santri, fresh graduate, dan orang-orang dengan latar belakang yang mungkin lebih baik daripada aku. Sekali lagi aku percaya bahwa inilah skenario terbaik yang Tuhan berikan padaku di waktu yang tepat.

Lalu, bagaimana bisa dari beralih haluan dari Sastra Inggris? Kenapa harus Sastra Arab?

Jawaban yang mungkin akan melegakan penasaranmu dan diriku sendiri adalah. Aku ingin merajut mimpi baru dengan plot yang juga baru. Jika pun ingin menyambung plot lama sebelumnya, mungkin saja aku justru tidak berada di posisi aku berdiri saat ini. Karena rentang waktu dua tahun itu mampu mengubah segalanya. Jurusan Sastra Inggris sudah entah berapa peminatnya sekarang. Setelah output akhirnya merupakan penulis sekelas Fiersa Besari atau Boy Candra, yang tenar dengan karya-karya mereka nan mengagumkan.

Sejauh ini, aku sadar diri. Jauh-jauh hari sudah kupersiapkan mental kalah. Aku tahu belaka seberapa adanya tingkat kemampuanku yang sebenarnya. Kelebihan dan kekurangan yang telah Allah titipkan itu, aku sadar betul bagaimana harus mengaturnya.

Lalu, ada apa dengan Sastra Arab? Adakah seseorang menjadi sumber dari segala kecintaan pada Bahasa Arab?

Jangan tanya demikian, karena jawabannya tentu saja YA. Siapa lagi kalau bukan karena Allah dan Rasul-Nya. Bahasa Arab adalah bahasa surga. Bahasa Arab adalah bahasa kitab suci, Al-Qur’an. Apalagi yang lebih indah dari itu semua?

Ada apa dengan Sastra Arab? Banyak hal, dan aku yakin tidak salah masuk ke jurusan ini.

Saturday, August 18, 2018

Ada Apa dengan Sastra Arab? Part I


Source : badansarab.blogspot.com

Adakah aku tersesat memasuki jurusan ini? Mungkinkah kiranya jurusan ini akan membawaku ke tengah padang pasir luas tanpa penghuni sekali pun? Bilamana jadinya ketika itu benar-benar terjadi? Akankah aku lantas tinggal bersama unta-unta kehausan yang sedang mengisi tangki persediaan minumnya di sebuah oase dengan pohon kelapa dan beberapa semak belukar yang rindang itu?

Entahlah. Aku hanya mampu menjawab semua pertanyan itu dengan satu kata. Hematnya, aku belum benar-benar tenggelam dalam jurusan ini. Cukup jarang didengar telinga, Bahasa dan Sastra Arab. Apa yang akan kau cari di sana? Mau kerja apa setelah wisuda kelak? Mungkin begitu tanya orang-orang. Terlalu sarkas untuk sebuah mimpi yang sedang mulai dirajut.

Hei! Jauh sebelum akhirnya aku berhasil memasuki jurusan Bahasa dan Sastra Arab, rupanya aku sudah tahu belaka ihwal sastra itu sendiri ketika berada di sekolah menengah pertama. Ya, saat itu 2012. Tahun pertama aku berhasil menyelesaikan cerpenku kemudian menjilidnya layaknya sebuah klipping atau makalah. Berlatar belakang atau watermark yang kupilih sendiri, sebuah gambar kartun dari boyben karbitan yang saat itu kusukai. Ah, dasar anak-anak.

Dengan tulisan berwarna kuning merah, yang tetap membuatnya tak terbaca, aku percaya diri saja menyerahkan karya perdanaku itu ke guru bahasa Indonesiaku. Sosok yang sampai saat ini masih kukenang dalam sejarah menulisku. Sosok yang mampu mengubah paradigma banyak orang, teman-temanku, aku, bahkan guru-guru se-smp sekali pun. Sebentar, biar kujelaskan sedikit bahwa tulisan ini tak sepenuhnya membahas tentang keseluruhan Sastra Arab. Namun, lebih kepada pembahasan kenapa aku memilih sastra sebagai sesuatu yang harus kupelajari secara lebih mendalam.

Kembali kepada sosok guru bahasa Indonesiaku ketika smp. Bu Ummu Salamah namanya. Guru baru yang masuk ke sekolahku ketika aku menginjak kelas 2. Tak genap dua tahun bahkan beliau mengajar. Ketika aku kelas 2, lalu sebagian kelas 3 di semester pertama. Kupikir, Allah lebih mneyeyangi beliau daripada kami semua. Ya, beliau meninggal dalam usia yang menurutku masih muda dan produktif.

Seperti kataku tadi, beliau adalah sosok yang hebat. Beliau mampu mengubah paradigma banyak orang di sekolahku. Kembali pada karya hancurku di atas. Aku masih ingat beliau mengomentarinya dengan senyum tulus yang tak dipaksakan. Mengoreksi segala kekurangan dengan sabar. Mengarahkan dan membenarkan bagaimana seharusnya aku menulis. Ah, bukan hanya kepadaku beliau seperti ini. Namun, bahkan kepada seluruh temanku yang juga sama sepertiku. Suka menulis.

Saat itu, aku sangat berharap dapat mengikuti lomba cerpen yang beliau gembar gemborkan di kelas. Katanya, hanya dipilih dua sampai tiga delegasi saja yang akan diikutkan lomba setingkat kabupaten. Tentang menulis cerpen dan juga puisi. Lalu lahirlah karya amatir itu sebagai sebuah portofolio yang kuajukan pada Bu Ummu. Dan keajaiban pun terjadi. Ya, aku ikut lomba. Namun, apalah daya seorang amatir. Tentu saja namaku tidak keluar sebagai juara. Namun, hanya sebagai peserta yang sudah bersyukur diapresiasi sebuah sertifikat yang hari ini entah ada dimana.

Lalu aku mengenal apa itu sastra. Apa itu diksi. Apa itu rima. Dan lain sebagainya. Aku suka pelajaran bahasa Indonesia, namun tak pernah mendapat nilai sempurna ketika ujian dilangsungkan. Toh, yang berguna pada akhirnya tak hanya sebatas nilai. Namun skill dan kemampuan.

Jauh sebelum smp, tulisan pertamaku adalah kumpulan diary saat aku kelas 4 sd. Belasan buku entah berapa saja yang sudah habis ku corat-coreti dengan curahan-curahan hati. Malang, sebelum lulus sd, aku membakarnya karena kesal dnegan diriku sendiri. Membuang kenangan-kenangan lain ke sungai, membiarkan mereka tenggelam atau mengalir bersama alirannya. Yang ada sekarang, adalah kenangan dimana momentum ketika kejadian itu terjadi.

Ya, aku masih ingat jika aku bersama temanku membakar berpuluh bahkan beratus lembar tulisan yang berisi curahan hati kami di sebuah lahan dekat mushola. Dan membuang beberapa kenangan lainnya di sebuah jembatan yang di bawahnya adalah sungai dengan aliran air sedemikian deras. Ah, drama pubertas.

Belum selesai sampai di situ, aku kembali jatuh cinta dengan sastra ketika masuk jenjang smk. Kelas 1, 2, dan 3 puncaknya. Aku bertemu kembali dengan sosok guru yang mendorong kemampuan menulisku. Pak Dwi namanya. Pengajar akuntansi, fotografi, bahkan fisika sekalipun. Namun, begitu passionate ketika sudah menulis.

Kata  beliau, ada laptop, beberapa kamera, dan sejumlah uang yang berhasil beliau menangkan selama menekuni dunia menulis. Jelas aku terkesima dan ingin suatu hari menyamai pencapaiannya, bahkan lebih. Beliau pula sebenarnya yang mendorongku untuk menulis novel. Ya, janjiku padanya di tahun 2015 entah 2016. Namun, sampai 2018 ini belum jua kutepati. Ya Allah.. maafkan aku pak.

Friday, August 3, 2018

Maybe.. I Have To Go..


Apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis biasa sepertiku? Bahkan, untuk sekadar mencintaimu saja aku tidak memiliki apapun untuk bisa mempertanggung jawabkan perasaan ini. Hanya diriku yang kupunya. Yang punya mimpi dan harapan besar kepada Allah untuk bisa membersamaimu kelak, menghabiskan sisa usia.

Meskipun, tak kupungkiri bahwa pada setiap kali munajatku kepada Rabb terdapat harapan besar, bahwa kelak yang akan meminangku adalah kamu. Namun aku juga tidak ingin menjadi hamba yang durhaka dengan terus menerus mendikte Tuhan secara demikian.

Pun begitu, aku lebih mengetahui siapa diriku yang sesungguhnya. Lebih bisa mengontrol bagaimana aku harus bertindak dan bersikap. Menjadi bijak dan dewasa pada keadaan tertentu. Namun juga bisa bermanja dan kekanakan pada situasi yang juga mendukung untuk bisa berbuat demikian.

Dengan begitu, sebenarnya aku paham bahwa mengagumimu akan menimbulkan risiko besar dalam kehidupanku nantinya. Namun, apalah daya diri ini. Aku tak berdaya untuk menolak, meskipun dengan kuat, perasaan yang telah Allah titipkan ini.

Ya, seperti yang juga kamu tahu. Bahwa perasaan ini pasti tidak begitu saja ada. Karena ia datang dengan cara menelusup ke dalam hati yang tentu saja dihembuskan oleh Allah sendiri. Ia, yang menganugerahkan perasaan ini untuk kujaga dan kurawat dengan baik. Dengan kamu sebagai objeknya.

Sungguh, sampai detik ini aku benar-benar masih berharap kepada Allah, bahwa kelak yang akan menjadi jodohku adalah kamu. Tidak di dunia, insyaAllah di akhirat. Karena perkara ini sungguh ingin aku perjuangkan. Namun, kembali aku berkaca tentang siapa diriku. Aku tidak cukup berani untuk mengutarakan yang sebenarnya kepadamu, mungkin karena perbedaan status sosial kita di masyarakat. Meskipun aku tahu, bahwa selamanya kau tak akan pernah mempermasalahkan hal ini. Hanya saja, aku saja yang memang kurang berani.

Padahal, aku sempat berkecil hati ketika tahu bahwa kau telah memiliki seseorang yang istimewa di hatimu. Ya, bukan sekali dua ternyata aku mengetahuinya. Entah benar, entah tidak. Anehnya, perasaanku tetap sama. Tidak berubah, bahkan justru semakin menguat. Keyakinan akan dirimu begitu hebat. Seperti sebuah perangkat keras yang menemukan radar yang selalu membimbingnya untuk tidak tersesat, begitulah yang dirasakan hatiku saat ini. Aku merasa telah begitu dekat dengan pernikahan. Walaupun, sampai detik ini aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya agar bisa bertemu denganmu.

Masa depan adalah kumpulan keberhasilan yang sampai detik ini masih kubangun di kerajaan mimpiku. Terasa begitu jauh, namun kenyataannya tidak juga. Ia dekat. Kita selalu bisa mencapainya. Namun, setiap satu loncatan masa depan itu berhasil kita capai, maka loncatan lain akan menunggu untuk juga diwujudkan. Begitu seterusnya.

Kamu tahu tidak? Bahwa selama kamu masih menghubungiku setiap hari, melalui pesan-pesan singkat tapi bermakna itu. Harapanku terus saja membumbung sampai tinggi menyentuh langit. Kian panjang angan-anganku untuk terus menggenggam namamu dalam keyakinan hatiku. Mungkin, aku rasa diriku memang bersalah telah berbuat demikian. Karena bisa jadi, kamu pun berbuat demikian pada orang lain selain aku, bahkan apakah mungkin kepada semua orang? Entahlah. Sebenarnya, aku tak mau ambil pusing tentang masalah ini. Hanya saja, karena kehadiranmu yang terus menerus di kolom notifikasi ponselku membuatku terus saja berpikiran positif.

“Barangkali kamu juga memiliki perasaan yang sama,” “Barangkali Allah telah menakdirkan kamu sebagai orang yang ditugaskan untuk membimbingku kelak,” “Barangkali diriku, visi dan misi kita, di masa depan akan sama, dan menjadi kuat jika kita benar-benar menyatukannya.” atau apapun itu bentuknya. Yang jelas, selama pikiran-pikiran positif ini terus saja memenuhi kepalaku, aku belum bisa berhenti untuk mengharapkanmu kepada Allah.

Tuan, jika memang engkau adalah orang yang benar-benar ditakdirkan untukku kelak, semoga kau mau mengajariku tentang banyak hal. Tentang apa-apa yang belum kuketahui. Tentang apa-apa yang belum bisa kuterima dengan baik. Tentang segala hal yang berkaitan dengan dunia dan akhiratku, insyaAllah..

Tapi tuan, jika kelak yang Allah takdirkan untukku bukanlah kamu, maka semoga saja aku tidak akan kecewa dengan ketetapan Allah. Sekalipun, ia yang datang tidak lebih baik darimu menurutku, namun bisa jadi ialah yang terbaik menurut Allah untukku. Karena benar, jodoh, maut, dan rezeki itu tidak pernah tertukar.

Jadi tuan, untuk mengakhiri tulisan ini, aku akan selalu berharap kepada Allah tentang segala kebaikan bagi dunia dan akhiratku. Menghilangkan sedikit demi sedikit keragu-raguan tentang kamu yang masih menjadi rahasia. Mungkin bahkan meruntuhkan pertahanan harapan, karena benar-benar tidak kusebut namamu di dalam setiap doaku. Agar nantinya, jika memang bukan kamu yang menjadi peneman sisa usiaku kelak, hati ini tidak terkotori oleh apa-apa yang bukan dan belum menjadi hakku untuk memilikinya.

Sekian tuan, tulisan ini kubuat dengan kesadaran penuh. Tidak bermaksud untuk mengemis cinta darimu. Juga bukan memaksa agar engkau mau menerima perasaan ini seutuhnya. Namun, tulisan ini menjadi obat penawar bagi hatiku yang telah lama gundah karena kehadiranmu. Mungkin, memang aku yang salah..tapi tidak. Hari ini, akan kucoba untuk tidak menyalahkan siapapun, termasuk diriku sendiri. Selebihnya, mungkin yang akan kulakukan untuk kedepannya adalah menerima apa-apa yang telah menjadi takdirku. Memaafkan masa lalu, dan segala sesuatu yang membuatku terluka.

Oke, cukup sampai di sini. Jika tulisan ini kuunggah di media sosial dan kamu membacanya. Maka ada tiga kemungkinan yang akan menjadi responsmu. Pertama, kamu tidak peka dan tidak peduli, bahkan tidak membaca tulisan panjang ini. Kedua, kamu mungkin peka, namun kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Jadi, kuanggap usahaku ini tidak membuahkan hasil yang kuharapkan. Ketiga, kamu peka dan memiliki perasaan yang sama terhadapku.

Kamu pasti tahu, kan, sampai titik ini aku mengharapkan respons yang mana?

Setiap manusia, wajar memiliki fitrah untuk mencintai. Dan wajar pula, memiliki harapan untuk berbalas. Atau orang yang disukai memiliki perasaan yang sama dengannya. Ya, sekali lagi kukatakan, bahwa peristiwa-peristiwa demikian adalah hal yang wajar kita rasakan sebagai seorang manusia.

Tapi Tuan, apapun respons yang nantinya kamu berikan, atau tidak kamu tunjukkan itu, mungkin sama sekali tidak akan mengubah apapun pada hati ini. Aku, yang tetap berharap. Atau aku, yang dengan bijaksana mengikhlaskanmu yang belum pernah kumiliki.