Sunday, October 7, 2018

One Day One Post : TANTANGAN IV - Gagal Radikal


“Wan menurutmu dia cantik nggak?”

Ahmad menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan gambar seorang perempuan bercadar. Dalam foto itu, si perempuan menopang dagunya dengan satu tangan.

“Nggak tahu.”

“Lho, kok gitu sih jawabnya?”

“Ya iyalah, orang mukanya aja nggak kelihatan gitu! Mau dibilang cantik, kalau ternyata cowok gimana?”

“Yee, kamu mah Wan. Sukanya mikir yang aneh-aneh!”

“Alah kamu tuh, yang kebanyakan chatting sama cewek. Bukannya belajar. Emang kamu udah setoran, Mad?”

“…” yang ditanya tidak menjawab.

“Mad, Mad! Kamu udah setoran hafalan Kitab Alfiyyah belum?” tanya Wawan lagi. Kali ini dengan sedikit mengguncang badan Ahmad.

“Eh, apa? Kamu bilang apa tadi Wan?”

“Oalah, kamu nggak ndengerin saya, to? Malah sibuk sama hapenya aja. Ya Allah cah cah piye to iki,” Wawan geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.

“Hehe. Maafin saya, Wan. Kan tau sendiri saya lagi balesin chat,” kilah Ahmad dengan cengiran khasnya.

“Hmm.. Akhir-akhir ini saya perhatikan kamu banyak nggak fokusnya, sih. Suka telat ikut jama’ah, tidur larut malam, jarang bangun tahajud lagi. Cuman sibuk mainan hape saja. Sebenarnya apa yang terjadi sama diri kamu, Mad?”

“Saya nggak kenapa-kenapa, kok. Toh, kayaknya apa yang saya lakukan selama ini juga normal-normal saja. Chattingan saya sama akhwat ini juga biasa-biasa aja, kok. Palingan juga seringnya bahas tentang dakwah atau sekadar basa-basi gitu.”

“Mungkin menurut kamu nggak kenapa-kenapa, Wan. Tapi tentu saja kamu juga paham tentang batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.”

“Iya, Wawan. Saya udah khatam soal bab itu.”

“Bukan apa-apa, Mad. Saya cuman mau berpesan untuk hati-hati sama orang-orang yang sering manggil ikhwan-akhwat di media sosial. Mereka kadang nggak terlalu paham bahasa Arab, belajar agama cuman via internet, lalu parahnya menjadi anggota dari gerakan-gerakan hijrah yang mengatasnamakan dakwah untuk menyebarkan paham-paham agama yang keliru.”

“Kamu ini ngomong apa, sih Wan? Jangan suudzon sama orang dulu, deh kalau belum tahu wujudnya secara langsung. Saya nggak ngerti maksud kamu sama sekali.”

“Maafin saya, Mad. Tapi saya bilang begini agar kamu berhati-hati dan mengantisipasi segala hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Hari ini kamu merasa baik-baik saja saat chattingan sama akhwat bercadar itu. Itu hak kamu jika memiliki perasaan demikian. Dan kata-kata saya tentang gerakan-gerakan itu juga belum tentu benar. Hanya saja, satu pesan saya untuk kamu pegang. Selalu berhati-hati!” Wawan menepuk pundak Ahmad.

“Hahaha. Jangan lebay gitu, deh, Wan. Saya nggak apa-apa kok. Jangan terlalu khawatir sama saya. Saya bisa jaga diri, InsyaAllah,” jelas Ahmad dengan senyum seadanya. Meskipun demikian, Wawan tetap tidak bisa menyembunyikan keraguan dan kecurigaannya terhadap sikap Ahmad.

“Ya. Semoga saja kamu bisa menjaga dirimu dengan baik, sahabat.”

“Aamiin. Terima kasih atas do’anya, teman baik.”

***

Ahmad mematut dirinya di depan cermin. Berkali-kali menyisir rambutnya dengan sesekali membubuhkan gastby agar membuat helaiannya menjadi lebih rapi. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, hingga setengah jam, ia habiskan waktunya hanya untuk menatap pantulan wajah yang itu-itu saja. Ini Sabtu di minggu kedua bulan November. Saatnya Pondok Al-Husyein memberikan perpulangan untuk para santrinya.

Sudah dua bulan lamanya Ahmad tidak pulang, karena keterbatasan kiriman uang dari orang tuanya yang membuat ia harus berhemat. Namun, hari ini Ahmad sudah siap untuk melepas jeratan rindu dengan keluarganya. Ia merasa begitu bersemangat menghadapi hari ini. Sebelum sebuah telepon masuk dari kontak Whatsapp yang paling sering dihubunginya selama empat bulan terakhir, membuyarkan segalanya.

“Halo?”

“Ya. Kamu dimana?”

“Saya di pondok. Tapi sekarang sedang melakukan persiapan untuk pulang ke rumah. Ada apa menelepon?”

“Saya butuh bantuan… Adik saya diculik. Saya tidak tahu harus dengan cara apa menebusnya. Tolong.”

“Astaghfirullah, bagaimana bisa? Lantas, sekarang kamu dimana?”

“Saya di rumah teman. Saya bingung. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Adik saya tidak memiliki siapapun lagi selain saya. Kamu tahu sendiri, kan, bahwa orang tua kami sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu?”

“Iya. Saya masih mengingat semua cerita-cerita kamu. Baiklah, kirimkan alamat tempatmu berada sekarang. Saya akan segera ke sana.”

Telepon ditutup. Rencana Ahmad untuk pulang gagal total. Ia lebih memilih menolong nyawa adik dari seorang perempuan yang baru dikenalnya lewat sosial media itu. Entah mengapa perasaan-perasaan aneh semacam ingin melindungi perempuan ini selalu muncul begitu saja.

Alamat dikirim. Ahmad tidak tahu dimana tempat itu berada. Namun, itu bukanlah sebuah masalah yang besar. Ia pikir, ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Ahmad segera bergegas, merapikan barang-barangnya lagi lalu mengambil kunci motor Wawan dengan cekatan.

“Pinjam motormu.”

“Lho katanya kamu mau pulang?”

“Tidak jadi. Ada hal penting yang harus saya urus dahulu.”

“Memangnya apa?”

“Akan saya ceritakan nanti, insyaAllah.”

“Perempuan bercadar itukah?”

”Saya pergi dulu. Assalamualaikum.”

“Eh, tapi… Waalaikumussalam. Hati-hati!”

Wawan menatap kepergian Ahmad. Ia semakin curiga terhadap sikap temannya yang berubah 180 derajat itu. Satu pertanyaannya tidak dijawab dengan baik. Menurut instingnya, Ahmad sedang jatuh cinta kepada seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya.

***

Ahmad menghentikan laju sepeda motornya pada sebuah rumah di tepi gang yang bersebrangan dengan pohon besar. Ia melihat lagi aplikasi Google Maps yang tadi menunjukkan jalan untuk sampai ke tempat itu. Benar, ia sudah sampai ke tujuan. Namun, rumah itu terlihat kosong, dan seolah memisahkan diri dari dunia luar.

Ponselnya berdering lagi. Melihat nama yang tertera, Ahmad segera mengusapkan jarinya ke atas untuk menerima telepon tersebut.

“Sudah sampai?”

“Emm.. Sepertinya sudah. Tapi saya tidak yakin saya berada di tempat yang benar.”

“Apakah kamu yang memakai kemeja hitam dengan celana jeans?”

“Ya, benar.”

“Baik, saya akan segera datang.”

Telepon ditutup. Terselip keraguan ketika Ahmad memasukkan ponselnya ke saku, lantas melepas helmnya. Seorang perempuan berpakaian serba hitam, bercadar, nampak keluar dari pintu rumah tersebut. Ia segera menghampiri Ahmad dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Diam-diam Ahmad menyembunyikan keterkejutannya, menepis segala jenis prasangka yang sempat terlintas di hatinya. Ia mengikuti langkah perempuan itu sambil beristighfar dalam hati, meminta perlindungan kepada Allah berkali-kali.

***

“Apa yang harus saya bantu untuk membebaskan adikmu dari penculik itu?” tanya Ahmad begitu sampai di dalam. Si perempuan menutup pintu rumah tersebut secara perlahan. Ia meletakkan telunjuknya ke bibir.

“Sssssttt. Jangan keras-keras,” katanya.

“Baiklah, jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?” Ahmad memelankan suaranya. Si perempuan mengulangi gerakannya. Mengendap-endap, menggiring Ahmad ke ruang tengah. Menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah akan menyampaikan informasi mahapenting.

“Nikahi aku.”

“APA?”

“Ya. Kamu tidak salah dengar. Nikahi aku sekarang. Maka adikku akan terbebas dari penculikan.”

“Tapi, tapi apa hubungannya? Apa hubungannya dengan saya dan pernikahan?”

“Hahahahahaha.. Good job! Good job! Drama yang bagus untuk ukuran seorang pemula! Marvelous!” seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari ruangan belakang. Jika hanya dilihat dari tampilan luarnya, laki-laki tersebut hampir menyerupai seorang syeikh dari Timur Tengah atau negara Arab. Lengkap dengan jenggot tebalnya yang tumbuh memanjang.

“Siapa kamu? Apa-apaan ini? Kamu menjebak saya, Fa?” Ahmad panik. Ia menuduh Wafa, nama perempuan bercadar itu.

“Aku tidak menjebakmu. Aku, maksudku kami, justru ingin menyelamatkanmu!” suara dari balik cadar itu terdengar pelan dengan sedikit parau.

“Ya, benar! Kamu sudah tidak perlu lagi khawatir terhadap para thogut di luar sana. Yang menipu negara kita dengan topeng demokrasi. Jika kamu bergabung dengan aliansi ini, maka kita akan membentuk kekuatan yang lebih kuat untuk menegakkan hukum Islam secara murni. Kita akan mengalahkan para kafir yang menguasai pemerintahan!” lelaki berjenggot tebal itu berorasi layaknya berdiri di sebuah podium dengan ribuan penonton. Suaranya keras dan lantang. Dalam kalimat-kalimat yang ia lontarkan, secara tidak langsung terdapat doktrinasi yang disampaikan dengan intonasi dan mimik wajah yang sepertinya sudah lama dilatih.

“Dan jika kamu menjadi suamiku, maka kau berhak atas diriku berikut tiga orang wanita lainnya. Kita akan hidup bahagia, sayang,” Wafa menimpali. Suaranya masih parau. Namun sorot matanya menunjukkan seolah ia tersenyum bahagia.

“Tidak! Kalian semua bohong! Indonesia, negara kita adalah negara kesatuan yang merdeka karena perjuangan para pahlawan. Bhineka tunggal ika, semboyan negara kita bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Selama 73 tahun lamanya kita hidup dalam perdamaian karena toleransi yang sudah mengakar kuat di dalam hati. Kalian semua seharusnya tahu akan hal itu!” Ahmad tak kalah bersungut-sungutnya menghadapi dua orang itu. Sebagai seorang santri yang belajar agama Islam di Indonesia, tentu saja para kyainya telah mengajarkan banyak hal. Tak hanya soal ilmu agama saja, melainkan juga cinta kepada tanah air dan negaranya.

“Persetan dengan toleransi! Tidak ada toleransi di negeri ini. Mayoritas kita, umat Islam justru seolah berada di lautan mayoritas lainnya. Tubuh-tubuh kita tercerai berai, tidak menjadi satu. Karena apa? Karena siapa? Karena para thogut yang haus kekuasaan itu!”

“Anda keliru, pak. Tidak semua informasi yang Anda lihat dan dapatkan dari media-media, dari luaran sana itu merupakan sesuatu yang baik. jangan pernah menelan mentah-mentah sebuah informasi. Karena semua orang yang menyebarkannya bisa menjadi apapun yang mereka mau, tanpa pertimbangan benar atau salah. Panggung dunia maya yang tercipta begitu saja, dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak ingin melihat negeri kita aman dan damai!”

“Ah! Banyak omong kamu! Lebih baik kamu bergabung juga dengan yang lainnya!” laki-laki berjenggot itu menarik tangan Ahmad dengan paksa. Sementara Wafa juga ikut membantunya. Sekuat mungkin Ahmad mencoba melepaskan diri, ia tetap tidak bisa pergi dari rumah itu. Pintunya terkunci. Hanya satu harapan yang masih tersisa baginya. Menghubungi Wawan dengan ponselnya. Namun bagaimana caranya?

***

Di sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, Ahmad bersama empat orang lainnya diikat dan dijadikan sandera. Ada tiga laki-laki dan satu perempuan bercadar di antara mereka. Tangan dan kaki mereka diikat, sedangkan mulut mereka dilakban.

“Wafa! Kenapa kamu lakukan ini pada saya? Bukankah kamu bilang bahwa adikmu diculik, dan hanya kamu satu-satunya orang yang ia miliki? Kenapa kamu justru menjebak saya dengan drama semacam ini?”

“Aku tidak sedang memainkan drama, sayang. Lihat di sebelah kirimu. Dia adikku. Dan dia memang diculik sebelum ini.”

“Apa? Kamu gila! Aku tidak mengerti cara berpikirmu!”

“Maka setelah ini mengertilah.”

“Hahaha. Selamat tinggal para pecundang!” ucap lelaki berjenggot dengan seringai tipis, lantas melangkah keluar hendak menutup pintu.

“Kakak! Kakak jahat! Kenapa kakak tidak mengingat pesan dari almarhum ayah kita?” perempuan bercadar yang diikat berteriak dengan suara parau.

“Mereka sudah meninggal. Tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka. Aku amat kasihan padamu. Andai kata hatimu terbuka dengan seruan Syeikh Ghufron, nasibmu pasti tidak akan semalang ini, adikku,” mendengar jawaban Wafa, lelaki berjenggot yang disebut Syeikh Ghufron itu kembali menyeringai sembari menutup pintu dengan keras dan menguncinya.

Perempuan bercadar yang merupakan adik Wafa tadi tersedu sembari menundukan kepala. Hanya dia sendiri yang mulutnya tidak dilakban. Sebagai seorang kakak, ternyata Wafa masih memiliki kepedulian terhadap adik semata wayangnya itu. Tiga kali sehari Wafa menyuapi adiknya, walau seringnya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Ahmad menatap adik Wafa dengan iba. Ia ikut tertunduk karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya pun dilakban.

“Kakakku sebenarnya adalah orang yang baik. Kita dibesarkan dalam asuhan ayah dan ibu yang sangat menghargai perbedaan. Mereka mengajari kami apapun, termasuk dalam hal agama. Setelah ini, jangan pernah salahkan pakaian yang kami pakai. Karena pribadi seseorang tidak bisa dinilai hanya sekadar dari tampilan luarnya. Oh ya, namaku Alsa,” ucapnya memperkenalkan diri sembari menjelaskan sedikit tentang latar belakang keluarganya. Ahmad hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Karena tak ada lagi bagian tubuh lainnya yang bisa ia gerakkan secara bebas.

“Namun semenjak orang tua kami meninggal, Kak Wafa sempat ingin melepas cadarnya dan hampir tenggelam ke dunia bebas. Lantas, sebuah peristiwa membuatnya menyesal sedemikian hebat, hingga kemudian ia bertemu dengan orang itu,” Alsa menghembuskan nafasnya berat. Ia berhenti sejenak tatkala menyebut ‘orang itu’.

“Entah apa yang ia lakukan, sehingga membuat kakakku menjadi seperti sekarang. Kakak sangat patuh terhadap semua perintahnya, meskipun sesekali kulihat kakak menangis saat menyuapiku. Namun, wajahnya seolah tak menampilkan ekspresi apapun. Ia telah benar-benar menjadi seorang robot hidup. Kurasa, otak kakak telah dicuci sedemikian rupa.” lanjut Alsa. Tidak ada yang bisa Ahmad lakukan selain terkadang mengangguk, menggeleng, atau berkedip cepat.

***

“Cepat katakan dimana teman saya berada!” Wawan mengguncang-guncang badan Ghufron. Ia bersama para santri lainnya berhasil mengepung rumah itu. Sementara Pak Kyai bersama polisi, menunggu di luar rumah.

“Apa maksudmu? Jangan ganggu ketentraman hidup saya!”

“Cih! Justru Anda yang meresahkan umat ini dengan dakwah Anda yang keliru! Anda cuci otak orang-orang awam yang belum paham betul terhadap agama! Bertaubatlah sebelum terlambat!”

“Justru kalian yang harusnya bertaubat, karena telah melakukan penyerbuan ini!”

“Bang, ada suara perempuan meminta tolong di ruangan belakang!” pekik Tio, salah seorang santri. Wawan memberikan kode pada yang lain untuk mengikuti Tio. Sementara Ghufron dipitingnya dengan jurus andalan yang paling ia kuasai dalam pencak silat.

“Kamu harus bertemu Pak Kyai secepatnya. Ikut saya!” Wawan menggiring tubuh itu secara paksa. Dibantu oleh dua rekannya yang lain, Ghufron dibawa keluar rumah untuk menemui Pak Kyai. Sementara itu, Wafa telah lebih dahulu ditangkap. Ia dimasukkan ke mobil polisi untuk kemudian dibawa ke kantor polisi agar diperiksa lebih lanjut.

“Dasar kalian para pembela thogut! Bisanya Cuma menangkap dan mengadili orang-orang tak bersalah! Sedangkan yang dilindungi justru antek-antek kafir yang merusak negeri ini! Lihat saja pembalasan Allah di pengadilan tanpa akhir nanti!” pekik Ghufron ketika melihat banyaknya polisi yang berjaga di depan rumahnya. Sementara Pak Kyai membaca beberapa wirid untuk tetap tenang. Beliau sudah mengetahui betul perangai orang-orang seperti Ghufron. Terlalu bersemangat belajar ilmu agama, namun ternyata malah tersesat di jalan yang salah.

“Jangan bawa mereka ke kantor polisi. Tapi bawalah ke pondok untuk mendapatkan rehabilitasi dariku dan para santri lainnya. Mereka bukanlah seorang penjahat. Melainkan, hanya keliru saja dalam hal cara berpikir dan memahami sesuatu,” Pak Kyai berbicara kepada Wawan dan beberapa polisi yang berada di sekitar mobil tempat Wafa sudah ada di dalamnya.

“Tapi Pak Kyai, bagaimana jika dia nantinya…”

“Jangan suudzon terhadap saudara kita. Apakah aku pernah mengajarimu untuk berlaku kasar terhadap orang lain? Maafkanlah kesalahannya. Karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Jadi, kupikir kita harus memberi mereka kesempatan untuk menyadari kesalahan, dan kembali ke jalan yang benar,” Pak Kyai memotong kata-kata Wawan yang menyayangkan keputusan beliau untuk membawa Ghufron dan Wafa ke pondok.

“Baik, Pak Kyai. Sendika dhawuh,” ucap Wawan pada akhirnya.

Biar bagaimanapun, pemahaman Ghufron sebelumnya tentang mendirikan sistem pemerintahan baru di Indonesia, merupakan pemikiran yang bisa dikategorikan sebagai gerakan separatis. Karena, mereka tidak bisa menerima hukum tata negara dan pemerintahan Indonesia sebagaimana yang telah diwariskan para pahlawan, sebelum negeri ini merdeka.

Pak Kyai tau akan hal itu. Seperti kata beliau, bahwa orang-orang seperti Ghufron dan Wafa bukanlah seorang penjahat. Melainkan, mereka hanya butuh diluruskan dan diberi pemahaman yang benar tentang arti sebuah bangsa dan cinta tanah air, sebagai seorang pemeluk agama yang baik. Maka dari itu, menempatkan Ghufron dan Wafa di lingkungan pondok dengan atmosfer yang mendukung, bisa jadi akan memperluas pemikiran mereka tak hanya tentang agama, namun juga bangsa dan negara.

***

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Ahmad setelah mereka sampai di pondok. Kelima sandera berhasil dibebaskan dan mendapat pertolongan intensif, termasuk dirinya dan Alsa.

“Jangan bodoh. Saya sudah curiga kepadamu sejak awal. Saya memutuskan untuk mengikutimu dari belakang setelah kamu bilang meminjam motor, tanpa menjawab satu pertanyaan saya," Wawan menjelaskan. Mereka berjalan beriringan melewati lapangan pondok yang luas.

“Lalu bagaimana dengan Pak Kyai?”

“Sejak kamu memperlihatkan foto perempuan bercadar itu kepada saya, saya langsung mencari tahu tentang lambang pada cincin yang ia kenakan. Lantas, saya memberitahu Pak Kyai akan hal ini tanpa sepengetahuanmu. Saat itu, beliau langsung tahu dan hafal tabiat apa saja yang menjadi ciri khas gerakan ini. Namun, sebelumnya saya juga tidak menyangka bahwa Pak Kyai justru akan membawa mereka kemari.”

“Maafkan saya, Wan. Ternyata saya kurang berhati-hati.”

“Tidak apa-apa, sahabat. Saya sudah sangat bersyukur bahwa kamu tetap mempertahankan kecintaanmu terhadap tanah air kita, dan reputasi kita sebagai seorang santri. Sebenarnya, ini juga termasuk sebagai tanggung jawab kita kepada Allah kelak,” Wawan merangkul bahu Ahmad, disusul balasan yang lebih erat.

“Terima kasih, sahabat baik!"

SELESAI

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Saturday, October 6, 2018

PUISI : Sepulangku




Hari ini, telah kukoyak
Sesuatu bernama jarak
Kulepaskan jua, seutas tali pengikat rindu
Yang sempat membelenggu, dulu

Ya, tidak ada lagi rindu untukmu
Karena,
masa kelam itu sudah berlalu
Berganti dengan yang baru

Aku pulang
Setelah lelah kubertualang
Pun telah benar aku berjuang
Menunggu dengan sabar hari ini datang

Ini
Kubawakan pelangi untukmu
Sebagai penawar,
akan badai rindu yang pernah menyambar

Apa kau tahu, Nona?
Ambang pintu rumahmu sudah lama kudamba
Selalu ingin kusambangi dengan segera
Boleh, ya?
Kuajak serta ayah, ibu dan keluarga?

Ketahuilah, Nona
Jagat rayaku telah menjatuhkan diri padamu
dengan sukarela
Berratus hari yang lalu
Kau tetap yang pertama

Ya, melalui hari ini
Akan kuungkapkan pada ayahmu
Bahwa aku jatuh cinta pada putrinya
Bahwa aku, sudah lebih dari siap

Segera
Akan kupinang kau dengan mantap
Jadilah kau sebagai penggenap
Agar surgaku nanti tidak pengap
Tanpa kau sebagai udara

Aku hanya ingin nantinya
Kita akan selamanya
Sehidup sesurga
Berdua


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Pasca Kontemplasi

Sadar gak sih?

Sebenernya kita itu sedang berada di zaman apa? Iya zaman modern. Zaman serba canggih. Tapi, apalah arti kecanggihan itu kalo kita sendiri justru diperbudak atau disetir. Bukan berperan sebagai seorang pengendali yang bisa  mengontrol keadaan.

Sadar gak?

Kalo hari ini tuh kita lagi diperangi. Tapi musuh kita memerangi dengan cara yang bahkan nggak seperti ngajak perang. Melainkan menyamar seperti sahabat, tapi diam-diam muncul sebagai serigala berbulu domba. Musuh dalam selimut. Nusuk gitu aja.

Iya, kita kebanyakan dibuat nggak sadar dengan fenomena yg terjadi pada hari ini.
Ambil contoh kecil deh. Tayangan TV misalnya. Ambil yg lebih spesifik lagi, misal tayangan tv menjelang maghrib, saat maghrib, setelah maghrib - tengah malam.

Acara apa yang kebanyakan menghiasi layar kaca setiap tv nasional? Sinetron? Reality show? Gosip? Dunia hiburan? Tapi untuk apa semua itu? Untuk apa acara-acara tersebut dibuat?

Untuk mengalihkan isu-isu yang mungkin sedang terjadi di kancah politik, dunia, bahkan agama?

Mungkin gak? Mungkin aja!

Kita selaku masyarakat awam hanya diminta untuk seolah-olah berbahagia dan aman-aman saja dengan acara-acara nggak penting yang tersiar di tv kita.

Sinetron misalnya. Apa pentingnya sinetron buat kehidupan kita? Hiburan kah? Ada nilai tersendiri kah?

Kalau kita sekadar mau nyari hiburan itu biasanya sesekali waktu aja. Bukannya tiap hari. Lantas menjadi candu yang justru membuat fokus hidup kita oleng gara-gara jalan cerita yang ada di sebuah sinetron.

Ya, kadang dalam kehidupan nyata pun kita justru terus-terusan membicarakan bagaimana kelanjutan atau kelangsungan hidup para pelakon dari cerita buatan yang terdapat sinetron tersebut. Lantas, lupa pada permasalahan hidup kita sendiri yang seharusnya masih lebih perlu kita benahi. Dan mungkin, dari situ kita diminta untuk tidak peduli terhadap kemungkinan-kemungkinan waspada terhadap kasus-kasus yang terjadi di pemerintahan atau dunia.

Bagi mereka (yang punya kuasa), mungkin kita selaku rakyat biasa ini tak penting adanya. Makanya, kita disuruh gak usah tau. Karena kalau sekali kita tahu dan ikut campur, maka yang ada nantinya para oknum yang ada di pemerintahan itu takkan lagi punya wewenang.

Karena kalau sekali kita tahu dan ikut campur, maka yang ada nantinya, para oknum yang ada di pemerintahan itu takkan lagi punya wewenang untuk mengeruk kekayaan rakyat.

Kawan, sebenarnya sebagai warga negara apalagi pemuda pemudi calon penerus perjuangan bangsa, kita itu seharusnya punya andil yang nggak kalah penting buat negeri kita tercinta. Walaupun, mungkin hari ini kita masih belum melakukan langkah yang begitu berdampak untuk masyarakat sekitar, atau bahkan diri kita sendiri. Tapi, dengan memiliki niat dan visi yang kuat untuk perubahan besar, disertai do'a yang tiada putus, percaya aja deh. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Entah kapan, suatu hari nanti. Pasti satu persatu apa yang kita impikan akan terwujud. Asal, ada aksi nyata yang kita mulai langkahkan dari sekarang.

#komunutasonedayonepost
#ODOP_6

Awwalan


Berawal dari sebuah niat untuk memantaskan diri karena Allah, langkahku dipermudah saja untuk menjejaki tangga-tangga menuju sesuatu yang bisa dibilang “pantas” itu sendiri. Aku tidak tahu bagaimana skenario Allah akhirnya membuatku bertemu dengan mereka saat ini. menjadi teman berbagi suka dan duka. Tawa dan lara. Walaupun hanya sekejap saja. Baru sekedipan mata. Semua memang telah terencana sebelumnya.

Dulu, aku selalu berharap ditemukan oleh seseorang yang baik. Yang dunia dan akhiratnya seimbang. Yang mampu dan bersedia berjuang. Ah, kupikir impianku biasa saja kala itu. rupanya, Allah justru mengabulkan impian itu satu per satu dengan menghadirkan banyak orang baik hari ini. Terlalu banyak.

Salah satu yang aku tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa aku bertemu seseorang yang mirip seseorang di sebuah kota yang sama sekali bukan tempat asal kami? Seseorang yang mirip seseorang di masa lalu. Berperawakan dan penampilan yang memang hampir mirip satu sama lain. Namun memiliki kepribadian serta pemikiran yang berbeda satu sama lain.

Sebenarnya, aku tak pernah mempermasalahkan darimana kami berasal. Karena dalam tataran teman, kupikir semua sama saja. Takdir yang mempersatukan kita, sudah tahu lebih dulu. Dan mungkn saja, Allah mempertemukan dan menyatukan kami dalam sebuah forum bukan tanpa alasan. 

Karena aku yakin selalu ada hikmah dan pelajaran berharga yang bisa diambil pada tiap-tiap orang yang kutemui. Baik ia seseorang berhati baik atau tidak. Tapi, masalah hati memang kembali lagi pada si pemilik. Aku tidak berhak menilai apalagi menghardik hanya berdasarkan tahu segelintir saja.

“Kau hanya tahu namaku, bukan keseluruhan cerita hidupku.”

Acapkali kita mendengar kutipan itu disampaikan. Memberi tanda bahwa seseorang tidak boleh menilai orang lain hanya karena ia tahu namanya saja. Sedangkan, cerita kelam atau bahagianya saja tidak pernah diketahui.

Lalu, apakabar dengan menunjukkan diri?
Tak ada gunanya. Hidup ini bukan ajang eksistensi atau mencari pengakuan. Namun, ternyata juga bukan untuk menjadi berarti lantas mati. Lebih dari itu, hidup adalah pengabdian dan penjagaan. Mengabdi sebagai bekal pertanggung jawaban di hadapan Illahi. Dan menjaga, apa-apa yang sudah dikaruniakan Illahi kepada diri.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Katalisator


Aku sudah pernah bilang pada diriku sendiri. Bahwa jikapun aku bisa menepis perasaan-perasaan yang ada di hatiku untukmu, seseorang yang belum pernah kutemui itu, namun nyatanya seolah sudah membekas sekian lama di dalam kalbu. Aku pun tidak tahu. Entah bagaimana hatiku merasa saat itu. hanya saja, kupikir aku sudah menemukan orang yang tepat. Namun, ternyata kenyataan berkata lain. Rupanya kau sudah memiliki seseornag lain yang akan kau jemput, ketika segala persiapanmu kini sudah selesai secara matang.

Ah, beruntungnya dia. Perempuan yang juga aku tak tahu siapa. Lantas, pada saat itu juga aku berhenti mengharapkanmu. Ya, selamanya ingin mencoba menghapus bayangmu yang terlalu sempurna untuk kumiliki. Mungkin, tidak sesempurna itu. tapi, nyatanya kamu memang terlalu baik, bahkan kepada semua orang.

Bagaimana bisa? Seseorang yang bahkan belum pernah bertemu memiliki naluri untuk suatu saat akan menyatu? Haha. Bangun. Sudahi mimpi siang bolong itu.
Kemudian untuk menyelamatkan hati ini, aku lantas pergi. Mencari jati diri lagi.

Mencari apa-apa yang belum pernah kutemui. Di dunia ini, aku hanya ingin mengembara. Begitu rupanya yang bisa kurasa ketika meninggalkan serpihan rasa sakit yang masih membekas tatkala mengetahui si Ratu yang masih kau damba sampai sekian lama.

Lantas, aku juga bilang. Bahwa mungkin aku akan menemukan orang lain. Yang sama sepertimu, atau tidak lebih baik darimu. Entahlah, kupikir aku sudah menemukannya sekarang. Atau tidak, belum. Aku terlalu tidak ingin terburu-buru dalam menyimpulkan. Karena apa yang sekarang ini kujalani rupanya merupakan cerminan dari apa yang kuingini selama menjadi pekerja tetap yang memiliki derajat tak seberapa.

Yang jelas, sekarang aku sudah lebih bisa mengendalikan diriku sendiri. Mengendalikan apa-apa yang sebelumnya tidak mampu untuk aku atasi sendirian. Meskipun tidak semudah ketika tulisan ini ditulis, namun setidaknya usaha untuk lebih menyetabilkan hati memakan waktu dan apa-apa yang sebelumnya tak terkendali, memakan waktu dan kontemplasi cukup panjang.

Haha. Ya, kau harus tahu bahwa aku suka bercanda, namun selalu gagal untuk membercandai diriku sendiri. Apalagi pada tulisan ini. kurasa, aku hanya sedang membual.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Mahasantri


Sudah lama  aku hanya mendengar istilah itu diperdengungkan. Gabungan dari dua kata yang menjadi akronim semakna yang kupikir cukup keren jika disandang.

Mahasiswa yang santri. Santri yang mahasiswa.

Jadi, menjadi mahasantri memang menembus batas-batas kemahasiswaan sendiri. Juga menjadi santri yang menembus batas-batas kesantrian itu sendiri. Seorang mahasiswa yang tidak hanya mencari ilmu dalam praktiknya. Melainkan menyuarakan pergerakan dan kemerdekaan sebab telah menjadi seseorang yang mampu bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukannya. Santri yang lebih dari sekadar mencari ilmu agana dan berkah lewat kyai. Namun, juga kepada guru dan dosen yang derajatnya tidak sama dengan kyai, tapi memiliki peranan yang sama yakni mengajarkan tentang ilmu-ilmu yang belum diketahui.

Di Indonesia, bonus demografi kian terlihat dari banyaknya generasi muda yang sekarang ini ada di tataran SMA sederajat hingga perguruan tinggi. Tak hanya itu saja, mereka yang memilih untuk bekerja pun mempunyai kemampuan yang sama untuk disetarakan juga dengan yang ada di perguruan tinggi. Bedanya, hanya nasib dan pilihan yang akhirnya membuat mereka terlihat seolah berbeda sama sekali.

Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa mengenyam pendidikan di sebuah instansi yang bernafaskan agama Islam secara kental. Ada kebahagiaan dan kebanggan tersendiri pula, tatkala Allah memberi kesempatan saya untuk turut menjadi bagian dari Mahasantri yang bisa dibilang merupakan suatu mimpi kecil saya sebelum kembali menginjakkan kaki di tanah air.

Ya, menjadi seorang buruh pabrik di luar negeri dahulu memang bukanlah sebuah keinginan saya pribadi. Melainkan ada campur tangan orang tua dan beberapa dorongan dari teman sebaya kala itu, yang membuat saya bulat memutuskan untuk berangkat. Hampir dua tahun saya menghabiskan waktu di negara tetangga, Malaysia. Bukan menjadi pesuruh, melainkan seseorang yang benar merdeka, tapi tersita waktu dan kesempatan untuk berekspresi atau mengerjakan hobi.

Allah Maha Baik.

Ketika saya tidak menyerah di dalam do'a, meskipun saya tidak memiliki apa-apa. Hanya keinginan kuat dan modal nekat untuk berharap berjaya, semua itu akhirnya terbayar lunas ketika sebuah mimpi itu berhasil saya capai. Sekarang, tinggal bagaimana saya mempertahankan predikat ini, dan memberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih indah kelak.

Mudahan, segala sesuatu yang saya rencanakan selalu mendapat restu dari Tuhan seluruh alam.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Monday, October 1, 2018

PROSA: Titik Bifurkasi

Pada sebuah titik bifurkasi, nyatanya sukma kelimpungan menentukan arah mana yang harus dilalui. Otak dan hati pun bekerja melambat untuk menentukan keputusan. Percabangan pilihan itu menghadang di depan sana.

Sebenarnya, tidak peduli bendera mana yang nanti akan menaungi, selama Merah Putih tetap menjadi pusat segala konstitusi.

Tidak peduli jas dengan warna apa yang akan dikenakan, selama pakaian kebangsaan masih lekat membungkus raga ini.

Tidak peduli, formasi macam apa yang akhirnya diikuti, selama masih dalam pelukan ibu pertiwi.

Segala perbedaan menjadi samar, dan melebur saat kata persatuan lebih kuat tertanam, dan menguar di dalam pikiran, hati, jiwa, dan raga yang tenang.

Sebenarnya, tidak masalah menjadi bagian dari gerakan yang memiliki visi misi memajukan negeri. Yang menjadi masalah, justru mereka yang seringkali hendak melepas atribut NKRI.

Perbedaan masalah furu' pun, bukan suatu alasan bagi tiap ikatan untuk enggan bersatu. Karena saat ini, lelah berpisah menjadi bagian dari dakwah yang kian merekah di negeri penuh berkah ini, InsyaAllah.

Karena ternyata, rasa penasaran saja belum cukup menjadi penguat bagi diri untuk menyelam dalam tatanan kebanyakan.

Sebaliknya, si sukma memilih untuk menjadi berbeda. Baginya, dunianya ada pada sisi yang lain. Karena jati diri bukanlah sebuah pilihan, melainkan naluri.

Mungkin, seperti itulah jalan terbaiknya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6